Netral English Netral Mandarin
01:59wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Ungkap Era SBY, Kelompok Radikal Tumbuh dengan Gizi Cukup, DS: Mungkin 100 Tahun, Kita Baru Bebas dari Radikalisme

Senin, 20-September-2021 08:12

Denny Siregar dan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Foto : Kolase Indozone
Denny Siregar dan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar membuat cuitan mengungkap bahwa di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kelompok radikal mengalami perkembangan pesat karena menggunakan pendekatan “berteman”. 

Akibatnya baru era Presidan Joko Widodo kelompok itu harus mengalami tindakan refresif. 

“Zaman pemerintahan SBY memang tidak ada demo besar krn masalah agama. Tapi bukan berarti negara ini aman, karena dimasa itulah kelompok radikal itu bergerilya dan tumbuh dengan gizi yang cukup dan dibiarkan berkembang biak. Seperti ada kesepakatan antara mereka dan pemerintahan SBY waktu itu, untuk sama-sama menjaga supaya tidak saling bersinggungan demi ketenangan bersama,” kata Denny Siregar, Minggu 19 September 2021.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

SECANGKIR KOPI UNTUK KALIAN.. 

Perjuangan kita menghadapi kelompok intoleran yang cenderung radikal itu memang gak mudah..

Mereka sudah ada sejak lama, bahkan ada pada masa Soekarno berkuasa. Kelompok ini berkembang sejak reformasi dan meluas ketika pemerintahan SBY. Tanpa sadar, SBY membuka pintu seluas-luasnya untuk mereka, karena menganut konsep "berteman" atau berdampingan dengan mereka, bahkan di fasilitasi dengan dana segala.

Zaman pemerintahan SBY memang tidak ada demo besar krn masalah agama. Tapi bukan berarti negara ini aman, karena dimasa itulah kelompok radikal itu bergerilya dan tumbuh dengan gizi yang cukup dan dibiarkan berkembang biak. Seperti ada kesepakatan antara mereka dan pemerintahan SBY waktu itu, untuk sama-sama menjaga supaya tidak saling bersinggungan demi ketenangan bersama. 

Meski begitu, bukan berarti kelompok radikal itu tidak punya tujuan. Target mereka tetap mendirikan negara satu agama di Indonesia. Dan mereka baru muncul di masa Jokowi berkuasa, karena digebuk terus oleh aparat yang sudah menyadari betapa bahayanya misi kelompok ini.

Meski belum sempurna, tetapi setidaknya apa yang dilakukan sudah ada perkembangan. Kelompok ini makin lama makin kecil dan terus bersembunyi sambil sekali kali melakukan perlawanan. Aparat pun sudah timbul kepercayaan dirinya karena didukung oleh masyarakat banyak..

Jadi gak perlu lah ribut, "Polisi kurang ini lah, kurang itu lah.." Situasi di lapangan gak semudah ketika cuman lempar bacot lebar saja. Apresiasi polisi dan TNI, dukung mereka, semangati mereka, dorong mereka, dan temani mereka lakukan tugasnya.

Mungkin baru 50 tahun lagi, mungkin juga 100 tahun lagi, kita baru bebas dari radikalisme. Waktu yang panjang memang, tetapi setidaknya kita sudah melangkah..

Untuk teman-teman seperjuangan di media sosial, yang berani keluar dan melawan kelompok radikal, saya ingin mengangkat secangkir kopi untuk kalian semua..

Kalian itu istimewa.

Salut... 

Denny Siregar

Demokrat Marah Besar

Sementara secara terpisah, sebelumnya mengenai tudiangan era SBY radikalisme tumbuh subur sempat dilontarkan pula oleh Kubu kongres luar biasa (KLB) Partai Demokrat yang dipimpin Moeldoko. 

Elite Partai Demokrat meradang dengan tudingan kubu Moeldoko tersebut.

"Menurut saya, Rahmad telah menebarkan fitnah dengan mengatakan Partai Demokrat sebagai tempat berlindung kaum radikal. Termasuk pernyataan bahwa kepemimpinan SBY membiarkan radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Pernyataannya dapat menyulut kemarahan tidak hanya kader dan simpatisan Partai Demokrat, namun juga rakyat Indonesia," kata Wasekjen Partai Demokrat Ossy Dermawan kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Ossy menjelaskan, pada era pemerintahan SBY, tantangan terberat ialah memberangus jaringan teroris Jamaah Islamiyah hingga Al-Qaeda. Menurut Ossy, SBY mampu menumpas jaringan tersebut.

"Perlu saya sampaikan bahwa setiap masa ada tantangannya masing-masing. Sebagai contoh, di era SBY, tantangan terberat saat itu adalah membasmi organisasi teroris Asia dan dunia yang bergerak di Indonesia, seperti Jamaah Islamiyah yang berafiliasi dengan organisasi teroris internasional Al-Qaeda. Terbukti pemerintahan SBY mampu menghancurkan sel-sel teroris tersebut dan melumpuhkan serta menangkap aktor-aktor utamanya. Jadi, yang diselesaikan bukan hanya sekadar pembubaran ormas lokal tapi membasmi organisasi teroris Asia dan dunia," ujarnya.

"SBY dan jajaran pemerintah juga berhasil menjaga keberagaman kehidupan yang majemuk di Tanah Air, baik dari segi agama, suku, dan etnis, dalam bingkai NKRI," sambung Ossy.

Atas dasar penumpasan jaringan teroris hingga menjaga kemajemukan Tanah Air, Ossy menyebut SBY mendapat penghargaan internasional. Ossy menyebut penghargaan tersebut sebagai wujud pengakuan internasional.

"Itulah mengapa pada tahun 2013, SBY mendapatkan penghargaan sebagai negarawan dunia 2013 (World Statesman Award) dari Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Ini merupakan wujud apresiasi dunia terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia semasa era pemerintahan SBY," sebut Ossy.

Partai Demokrat, menurut Ossy, mendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjaga kemajemukan di Indonesia. Untuk itu, menurut Ossy, perlu keadilan dan kebijaksanaan.

"Kami mendukung segala upaya Presiden Jokowi dalam menjaga keberagaman, kebhinnekaan dan pluralisme Indonesia sehingga tercipta harmoni dan perdamaian di negeri ini. Yang terpenting segala tindakan harus didasarkan pada keadilan (justice) dan kebijaksanaan (wisdom)," ujarnya.

Jubir kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, sebelumnya menuding paham radikal tumbuh sumbur saat era pemerintahan SBY. Paham radikal itu, kata Rahmad, menyuburkan intoleransi hingga penyebaran berita bohong.

"Semasa SBY menjadi Presiden, kita akui bahwa paham radikal tumbuh subur dan seakan akan mendapat tempat di Indonesia. Efek negatifnya kita rasakan sekarang, di mana intoleran berkembang, penyebaran hoax merajalela dan tuduhan-tuduhan dan fitnah menjadi halal dan mudah sekali memutar balikkan fakta. Yang kasihan adalah masyarakat luas yang disuguhi informasi yang menyesatkan," ucap Rahmad dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli