Netral English Netral Mandarin
09:20 wib
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan vaksinasi COVID-19 kedua kalinya masih dengan vaksin Sinovac yang dilaksanakan di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (27/1/2021). Komjen Listyo Sigit Prabowo resmi dilantik sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru. Pelantikan ini dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara.
RH Ungkap Tak Ada yang Merangkul FPI, EK: Merangkul Big Imam yang Ancam Penggal Kepala? Mending...

Senin, 11-January-2021 12:37

Ungkap Tak Ada yang Merangkul FPI, Eko Kuntadhi sentil Refly Harun
Foto : Istimewa
Ungkap Tak Ada yang Merangkul FPI, Eko Kuntadhi sentil Refly Harun
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun mengatakan bahwa tidak ada aktor dari negara yang merangkul FPI. Semua aktor, semua pendukung dari pemerintahan saat ini beramai-ramai memukul FPI.

Pernyataan Refli ditanggapi oleh pegiat media sosial Eko Kuntadhi. Melalui akun Twitternya, Senin (11/1/21), Eko mengatakan: "Merangkul laskar yang membunuh orang hanya karena merusak Baliho? Merangkul gerombolan yang sengaja menyerang polisi dengan senjata api di tol?"

"Merangkul Big Imam yang mengancam penggal kepala? Merangkul Ormas khilafah? Mending merangkul mantan. Masih ada syer2nya...," kata Eko.



Sementara sebelumnya dilansir Tribunnews.com, Refly Harun membahas soal pelarangan kegiatan Front Pembela Islam (FPI) yang diungkapkannya dalam kanal YouTube Refly Harun, Kamis, 7 Januari 2021.

Ia mengatakan, pelarangan FPI tak bisa dilakukan semena-mena tanpa proses yang jelas.

"Silakan berikan peringatan terhadap FPI, terhadap pelanggaran yang mereka lakukan," ucap Refly.

"Lalu perintahkan penghentian kegiatan kalau mereka membandel. Dan barulah mencabut status badan hukum atau SKT-nya kalau mereka tidak menggubris, tapi kan ini tidak."

Karena itulah, Refly menilai ada kejanggalan di balik pelarangan FPI. Ia bahkan menyebut tak ada satu pun pihak pemerintah yang ingin menyelamatkan FPI.

"Jadi sebenarnya ada masalah komunikasi dengan FPI yang sepertinya buntu, tidak ada jalan," jelas Refly.

"Tidak ada aktor dari negara yang bisa merangkul. Semua aktor, semua pendukung dari pemerintahan saat ini beramai-ramai memukul FPI.Bukan merangkul, tak ada satu pun yang merangkul, semua mau memukul," lanjutnya.

Lebih lanjut, menurut Refly, pemblokiran rekening FPI sangat tak wajar. Selain itu, ia menganggap FPI diperlakukan secara tak adil.

"Pembekuan rekening dengan menduga hasil kejahatan kan luar biasa tuduhannya," jelasnya.

"Padahal kita tahu bahwa FPI dibubarkan tanpa dasar hukum yang jelas, dengan ketidakadilan yang nyata sesungguhnya. Yang sebelumnya didahului dengan penersangkaan Habib Rizieq."

Tak hanya soal Rizieq Shihab, Refly lantas menyinggung soal penembakan enam laskar FPI.

"Pembantaian atau pembunuhan atau ditewaskannya atau tewasnya enam laskar FPI, kita tidak tahu karena belum ada skenario yang solid. Karena Komnas HAM dan kepolisian masih melakukan investigasi, belum ada tersangkanya," tutupnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto