Netral English Netral Mandarin
01:43wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Ungkap Tipu-Tipu Ala FPI Wajah Baru, Ade: Jangan Percaya Mereka Akan Bela Negara, Mari Terus Gunakan Akal Sehat!

Senin, 20-September-2021 09:07

Ilustrasi Ade Armando dan FPI
Foto : Kolase Netralnews
Ilustrasi Ade Armando dan FPI
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando menyampaikan pandangan dan ajakannya agar jangan percaya terhadap Front Persaudaraan Indonesia (FPI) yang merupakan wajab baru dari Front Pembela Islam (FPI) yang telah dibubarkan. 

“Jangan percaya Front Persaudaraan Islam. Jangan percaya bahwa mereka akan Bela Negara, mereka akan memperjuangkan HAM, dan mereka akan melawan radikalisme. Mari terus gunakan akal sehat,” kata Ade Armando, dinukil NNC dari FB-nya, Senin 20 September 2021.

Berikut catatan lengkap Ade Armando:

TIPU-TIPU FRONT PERSAUDARAAN ISLAM

FPI sudah lahir kembali. Hanya saja, kini,  nama mereka sudah diubah menjadi Front Persaudaraan Islam.

Dengan cepat sudah terbentuk cabang-cabang FPI baru ini di banyak daerah: DKI, Surabaya, Tebing Tinggi (Sumatra Utara), Ciamis, Bangka Belitung, Serang banten, Jawa Tengah dan Madura

Nama mereka boleh baru, tapi kita semua tidak boleh lengah dengan kehadirannya.

Gerakan-gerakan Islam radikal adalah ancaman serius bagi negara ini. Kemenangan Taliban di Afghanistan sudah harus membangunkan kita kembali bahwa ancaman dari luar masih belum berhenti. Dan di dalam negeri, kini kita tahu, FPI masih ada.

Kita tidak perlu panik berlebihan, namun kita juga tak boleh teperdaya.

FPI baru ini jelas-jelas ingin menghidupkan kembali FPI lama. Mereka ingin mengingatkan publik bahwa mereka tetap ada. Kalau mereka memang ingin membangun sebuah organisasi baru, dengan roh baru, dengan semangat baru, tentu mereka tidak akan begitu saja menggunakan kembali nama FPI yang sebetulnya melekat dengan nama organisasi terlarang yang sudah dibubarkan.

Mereka tetap menggunakan FPI karena mereka percaya dengan perjuangan FPI, dan mereka percaya bahwa penutupan FPI adalah bentuk kezaliman rezim Jokowi. Mereka menggunakan nama FPI karena mereka percaya bahwa FPI harus hidup kembali. Mereka tetap menggunakan FPI karena mereka tahu FPI adalah sebuah brand yang sudah jadi, sudah terkenal, sudah gampang dijual, sudah tertanam kuat di kepala banyak orang.

Namun pada saat yang sama, mereka tahu bahwa mereka harus memodifikasi nama mereka agar mereka diizinkan hidup kembali.

Dengan kata lain FPI ini adalah FPI berjubah baru untuk menutup jati diri mereka sebenarnya, dan jubah itu akan mereka buka begitu kondisinya memungkinkan. 

Pilihan istilah ‘Persaudaraan’ sebagai pengganti ‘Pembela’ adalah sebuah cara cari aman tapi sekaligus juga untuk memperluas basis mereka. Mereka ingin menghilangkan asosiasi kekerasan mengingat pembela bisa membawa konotasi berperang melawan  musuh Islam.

Sebagai catatan ketika gagasan FPI reborn pertama kali diudarakan pada akhir Desember 2020, nama yang digunakan adalah Front Persatuan Islam. Ketika itu yang menjadi Ketua Umum Front Persatuan Islam adalah tokoh yang dikenal suka menyebarkan ujaran kebencian, Shabri Lubis, yang kini sudah berada dalam tahanan. Sementara sekretaris umumnya adalah adalah Munarman yang kini sudah dinyatakan sebagai tersangka dalam kaitan dengan dugaan terorisme. Begitu juga dalam siaran pers Front Persatuan Islam saat itu masih terbaca kalimat seperti: ‘menghadapi rezim yang dzolim’ dan semacamnya.

Pendek kata, watak garang Front pembela Islam masih melekat kuat dalam Front Persatuan Islam.

Kini image ‘kekerasan ‘itu yang berusaha dibersihkan.

Perubahan nama menjadi Front Persaudaraan Islam mungkin sekali digunakan agar publik bisa mengasosiasikan FPI dengan konsep yang sangat dikenal umat Islam: Ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mengandung arti persatuan antar sesama pemeluk islam. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap muslim adalah saudara bagi sesama muslim lainnya. Seorang muslim harus menganggap muslim lainnya sebagai saudara tanpa memandang latar belakang keturunan, kebangsaan, etnik, ras  atau yang lainnya.

Dengan kata lain, FPI ingin melepaskan diri dari image bahwa perjuangan utama mereka adalah terlibat dalam perang atas nama Islam. Mereka saat ini seolah menitikberatkan perjuangan pada membangun persaudaraan muslim.

Pimpinan FPI baru adalah adalah orang-orang lama. Ketuanya adalah mantan Imam FPI Banten, Ahmad Qurthubi Jaelani. Namun, nama Ahmad Shabri Lubis tetap ada menduduki jabatan sebagai penasihat Front Persaudaraan Islam.

Upaya mengelabui publik ini juga terlihat dalam perubahan asasorganisasi FPI baru ini. Front PEMBELA Islam dibubarkan terutama karena di dalam AD/ART mereka secara spesifik dinyatakan organisasi ini akan menegakkan Syariah Islam secara kaffah (utuh) di bawah naungan Khilafah. Dengan menyatakan itu, FPI pada dasarnya menempatkan Syariah di atas hukum Indonesia. Dan dengan menyatakan itu, FPI tidak tunduk pada pemerintahan sah NKRI melainkan pada Khilafah.

Sampai saat terakhir sebelum dibubarkan, FPI berkeras tak mau mengubahnya.

Kini mereka mengakalinya dengan mengubah redaksi asas organisasi. FPI baru menyatakan bahwa asas organisasi FPI adalah Islam. Sementara asas kebangsaan organisasi adalah Pancasila.

Jadi sekarang kata Pancasila dicantumkan.

Kemudian mereka menyatakan FPI memiliki paradigma perjuangan yang seolah menunjukkan bahwa mereka bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih inklusif. Lima paradigma juang mereka adalah Bela Agama dan Bela Negara, Dakwah dan Pendidikan Islam, Penegakan Hukum dan HAM, Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana, serta Pengembangan Media yang Jujur dan Amanah.

Bisa dilihat, bahwa sekarang mereka turut menggunakan istilah-istilah seperti ‘Bela Negara’ serta ‘Penegakan Hukum dan Ham’.

Bahkan mereka memiliki tiga program juang unggulan, yaitu deliberalisasi, deradikalisasi dan aswajaisasi. Deliberalisasi merujuk pada penolakan terhadap ideologi liberal yang melahirkan ateisme, komunisme dan kapitalisme. Deradikalisasi merujuk pada penolakan terhadap ideologi radikal yang melahirkan ekstremisme, terorisme serta separatisme. Dan terakhir aswajisasi yang adalah penyebaran ajaran ahlu sunnah wal jamaah yaitu ajaran yang mengikuti perilaku nabi Muhammad dan para sahabatnya di satu abad pertama sejarah Islam.

Dengan program unggulan ini, FPI seolah menyatakan bahwa mereka adalah organisasi anti radikalisme.

Dengan perubahan itu, apakah FPI kini bisa dipercaya sebagai organisasi baru yang mentransformasi diri menjadi kelompok yang terbuka, toleran, inklusif, cinta damai, pro NKRI?

Saya meragukannya.

Seperti saya katakan, kalau mereka memang ingin membangun sebuah gerakan yang membawa semangat visi, cita-cita berbeda, kenapa mereka tetap bertahan dengan nama FPI. Kedua orang-orang yang menduduki jabatan tinggi di dalamnya juga berkarakter serupa dengan FPI di era Rizieq.

Tadi saya sudah menyebut nama Shobri Lubis.Dia dikenal sebagai pemuka FPI bermulut kotor dan suka sekali menggunakan kata-kata penuh kebencian terhadap orang-orang yang bersebarangan dengan keyakinannya. Misalnya saja, salah satu video terkenal tentang Shobri adalah saat ia dengan gegap gempita menyemangati jemaahnya untuk membunuhi para pengikut Ahmadiyah.  ‘Ahmadiyah halal darahnya,’ teriak dia di panggung, ‘bunuh, bunuh, bunuh!’ Shabri adalah muslim radikal sesungguhnya.

Sementara sang Ketua Umum Baru, Ahmad Qurtubi Jaelani, adalah tokoh yang sering disebut turut bertanggungjawab atas pembantaian jemaat Ahmadiyah di Ciekusik, Banten, 2011. Pada saat itu gerombolan warga masyarakat dengan beringas menyerang sebuah rumah yang dihuni jemaat Ahmadiyah, dan membunuh setidaknya tiga korban di rumah itu dengan biadab. FPI Banten disebut sebagai salah satu penggerak dan pelakunya, dan Ahmad Qurtubi adalah Ketua FPI Banten.

Baik Sabri maupun Ahmad Qurtubi selama ini tidak dikenal sebagai ulama berwawasan luas, berpengetahuan Islam mendalam, dan memperjuangan kedamaian.

Kalau pimpinannya saja seperti ini, layakkah kita berharap FPI baru ini akan meninggalkan pola FPI lama?

Kita juga layak  meragukan kesungguhan perubahan landasan organisasi FPI. Mereka menyatakan asas organisasi mereka adalah Islam.  Pertanyaannya: apakah dengan demikian, FPI sudah meninggalkan komitmen untuk menegakkan syariat secara kaffah di bawah Khilafah? Apakah kepatuhan mereka ditujukan pada hukum Indonesia atau pada syariat Islam? Apakah mereka menganggap prinsip persaudaraan islam adalah lebih tinggi dari persaudaraan kebangsaan nasional? Apakah mereka menganggap Khilafah lebih tinggi dari NKRI?

Itu semua harus bisa dijelaskan oleh Front Persaudaraan Islam.

Saya duga mereka tak akan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, karena Front Persaudaraan Islam pada dasarnya adalah Front Pembela Islam dengan jubah baru.

Mereka saat ini memang tidak lagi dipimpin Rizieq Shihab dan Munarman. Tapi mereka akan terus membina basis massa yang sudah terbangun selama bertahun-tahun untuk mewujudkan missi lama mereka.

Jangan percaya Front Persaudaraan Islam. Jangan percaya bahwa mereka akan Bela Negara, mereka akan memperjuangkan HAM, dan mereka akan melawan radikalisme.

Mari terus gunakan akal sehat, karena hanya dengan akal sehat, kita akan selamat.

Visi Baru FPI

Sebelumnya diberitakan, Front Persaudaraan Islam atau FPI versi baru telah dideklarasikan di Jawa Tengah pada Minggu (12/9) lalu.  Hal tersebut dibenarkan eks Sekretaris Bantuan Hukum DPP FPI Aziz Yanuar. 

Aziz mengatakan KH Qurtubi Jaelani sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Front Persaudaraan Islam.

"Betul dideklarasikan di Jateng," kata Aziz seperti dinukil  JPNN.com, Jumat (17/9/2021) malam.

Sarjana hukum lulusan Universitas Pancasila itu menjelaskan sejauh ini FPI telah memiliki 10 Dewan Pimpinan Daerah (DPD). 

Sepuluh DPD itu tersebar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

"Ada sepuluh DPD. Saat ini aktivitas kami mengonsolidasi di wilayah tersebut untuk membuat DPW dan DPC," ujar Aziz. 

Pria yang juga kuasa hukum Habib Rizieq Shihab (HRS) itu menjelaskan visi dan misi FPI versi baru itu.

"Visinya terwujudnya kehidupan islam yang kaffah dan rahmatan lil alamin serta penuh rasa persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI," ucap Aziz. 

Ditegaskan, Front Persaudaraan Islam ingin menerapkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan dengan semangat kemanusiaan dan keadilan serta persaudaraan dan persatuan. 

Pria kelahiran Jakarta itu memastikan Habib Rizieq Shihab dan Munarman tidak masuk dalam struktur organisasi. Kendati demikian, jelas Aziz, keduanya selalu ada dalam bagian dari FPI versi baru itu.  

"Tidak masuk struktur organisasi, tetapi semangat dan jiwanya selalu ada dalam sanubari kami," pungkas Aziz Yanuar. 

Sebelumnya, FPI telah merilis logo baru berbentuk bundar yang didominasi warna hijau pada 17 Agustus 2021. Ada tulisan FPI pada sentral logo yang dikelilingi gambar tasbih dan tiga kubah emas. 

Pada bagian lingkaran luar tasbih terdapat tulisan Front Persaudaraan Islam yang melingkar di bawah.

Adapun di bagian atasnya terdapat huruf hijaiah yang membentuk kata dalam bahasa Arab.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli