Netral English Netral Mandarin
banner paskah
01:08wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Tragis! Usai Cekcok Usir Suami, Rohima Lunglai Disergap Pocong

Kamis, 25-Februari-2021 16:40

Ilustrasi penjual siomay
Foto : wrangler.stageisobar.com
Ilustrasi penjual siomay
38

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Urat kemarahan Rohima (39) tak terbendung. Disahutnya botol minyak goreng di dekat kompor lalu dilemparkan ke arah suaminya yang keluar rumah cepat-cepat usai dihardik. 

Minyak pun berhamburan basahi lantai. Cipratannya membentuk blentongan-blentongan di dinding tembok dapur bercat kuning. Segera disusul suara menyembur dari mulutnya.

“Kalau ndak mau bantu-bantu, pergi! Pergi! Ndak usah pulang lagi. Jadi suami kok ndak tahu diri, bantu-bantu istri susah amat? Kerjaannya tidur saja!” teriak pedas Rohima bikin sakit kuping tetangga. 

Mendengar keributan yang bukan hanya sekali itu saja, seorang nenek-nenek datang merapat. Beruntung Rohima masih memiliki ibu kandung meski sudah tua renta. Nenek Ijah datang terseok sambil angkat kain jaritnya sebelah kiri.

“Ngapain pagi-pagi teriak-teriak sih. Malu sama tetangga, Ima!” tegur ibunya yang kini menyisakan cantik di keriput wajahnya. 

Muka Rohima dilipat tujuh puluh kali tujuh. Mulutnya monyong menahan jengkel. Tidak keluar kata-kata tapi dari raut wajahnya, Nenek Ijah tahu anak dari buah rahimnya sedang marah tak ketulungan. 

Sejak pandemi melanda negeri ini, suaminya kerjanya tidur di siang hari. Malam hari nglayap di pos tukang ojek tanpa kejelasan apa yang dilakukan. Ngobrol sana, ngobrol sini seperti artis kampung cari orderan. 

Nenek Ijah paham. Memang demi membela dapur tetap ngepul, anaknya harus banting tulang membiayai hidup dua anaknya yang masih sekolah di bangku SD dan SMP.  

Rohima setiap hari bangun dini hari. Membuat siomay dan dijajakan per porsi Rp8 ribu ke para tetangga. Lumayan pesanan setiap pagi.  

Setiap Azan subuh berbunyi, ia sudah bergerak mengantarkan porsi demi porsi siomay ke rumah-rumah di sekitar kampung wilayah Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Ketukan demi ketukan pintu mendatangkan rupiah. Walau hanya recehan, namun dengan semua itu kehidupan rumah tangganya mampu berlayar di tengah samudera badai pandemi yang tak tahu kapan akan berakhir. 

“Berawal dari pandemi. Suami saya yang sebelumnya usaha sablon kaos jadi bangkrut. Ndak ada pesanan kaos seragam sekolah karena sekolah semua ndak aktif. Belajar jarak jauh tak ada tatap muka, akibatnya ndak ada sekolah yang pesan seragam,” kata Rohima kepada Netralnews.com, Rabu (24/2/21).

Nasib buruk usaha gulung tikar tidak hanya dialami suaminya. Rohima sadar, tak sedikit tetangganya yang alami krisis ekonomi keluarga tak tertolong gegara Covid-19. Ada yang kena PHK, ada yang jualan tak laku, mobil untuk Grab dijual, dan ada pula yang susah karena bubar oleh perselingkuhan.

Masalah rumah tangga di perkampungan yang khas, kalau tidak ekonomi ya soal esek-esek yang membuat rusak rumah tangga. Angka perceraian di kampung Rohimah cukup tinggi. Tak tahu sebabnya.

Tapi menurut Rohima, mungkin penyebabnya karena ada budaya yang “longgar” seolah cerai dan kawin lagi adalah hal biasa. Sementara Rohima justru memiliki nilai hidup yang berbeda dari pada umumnya.

“Sejak moyang saya ada, para leluhur sudah mentabukan kawin cerai, kawin cerai. Jadi leluhur saya dari Ibu (Nenek Ijah) tak ada yang cerai. Semua langgeng sampai ke liang lahat, sehidup semati,” kata Rohima yang mengaku biarpun sering ribut dengan suaminya, tak sebersitpun pikiran mintai  cerai. 

“Ya, saya ribut sering, Mas. Suami saya kalau dimarahin ya diam saja cengar-cengir. Dia baik orangnya. Tak pernah membentak saya, malah saya yang sering bentak-bentak dia. Ndak banyak omongannya dia,” tutur Rohima.

Hanya saja ia sering kesal. Sejak tak ada orderan sablon kaos, ia berharap suaminya mau membantu jualan siomay. Toh, dulu waktu sukses sablon kaos, bisa sewa kios di pasar Bojonggede, Rohima bela-belain keluar kerja untuk bantu suaminya. 

“Dulu saya supervisor di minimarket, Mas. Keluar karena usaha suami lumayan maju. Dari pada bayar tenaga orang, biarin lah saya saja yang bantu dari mulai nglayani sablonan sampai seterika dan melipat,” kata Rohima. 

Namun semua gegara pandemi, usaha sablon gulung tikar. Ia berharap pandemi segera berakhir. Ia berharap usaha sablon suaminya berjalan lagi.

“Nah setahun terakhir biar bisa tetap makan, saya jualan siomay. Lumayan buat hidup. Apa salahnya kalau dia gantian bantu saya. Itu saja penyebab saya sering marah-marah ke dia. Ndak mau bantu malah tidur doang yang digedein,” kesal Rohima. 

Singkat cerita, sekitar sebulan silam, Rohima ternyata dibuat kapok. Seharian ia marah-marah ke suaminya namun malam harinya ia kena bantunya. 

Gegara mengusir suaminya tak usah pulang, ia pingsan sendirian di rumah. Penyebabnya, super ketakutan  saat melihat penampakan pocong di kamar mandi samping rumahnya. 

“Malam kejadiannya, sekitar pukul 00.30 WIB. Saya mau buang hajat. Dua anak saya sudah tidur. Sepi, para tetangga sudah tidur nyenyak. Tapi di kamar mandi samping rumah terang,” kata Rohima mengenang kejadian itu. 

“Hari kan masih gerimis. Hujan setiap malam turun. Nah keluar dari pintu belakang, saya sudah merasakan aneh. Punggung merinding. Lalu keluar seperti asap dari rerimbunan pohon pisang samping rumah. Saya kira itu seperti kabut atau air hujan menguap terkena sinar lampu, gitulah, mulanya,” katanya. 

Ternyata asap putih adalah awal dari penampakan selanjutnya. 

“Nah anehnya, asap itu lalu bergumpal menjadi satu lalu jadilah penampakan pocong dengan wajah muka orang yang berdarah-darah membusuk. Matanya nanar. Badan pocong itu tak menyentuh tanah, sekitar dua jengkal di atas tanah. Pocong itu berada disamping pintu kamar mandi samping rumah,” tutur Rohima.

Ia mengaku tak bisa teriak. Kakinya berat, badanya gemetaran. Tulang badanya tiba-tiba seperti dilolosi. Rohima tiba-tiba ambruk tak  sadarkan diri. Tak ada orang melihatnya. Semua senyap. Rohima hingga Azan Subuh terkapar di depan pintu kamar mandi.

Seperti biasanya, dengar Azan Subuh, kedua anak Rohima bangun. Mereka cari ibunya yang biasanya sudah membungkus siomay. Anaknya ingin membantu namun di dalam rumah sepi. Ibunya tak ditemukan. 

Anaknya yang besar yang duduk di bangku SMP keluar dan menuju kamar mandi. Ia tersentak. Dilihatnya ibunya terkapar menatap langit. 

Anak gadis Rohima teriak sejadi-jadinya. Tetangganya geger. Lagi-lagi Nenek Ijah datang tergopoh-gopoh. Diciumnya anaknya yang kini sudah terlentang di kamar. 

Suaminya atau menantunya juga sudah pulang karena dipanggil tetangganya yang mengabarkan bahwa Rohima pingsan. Suaminya duduk di bibir dipan kasur menunggu perinta ibu mertua. 

Nenek Ijah komat-kamit. Ia lalu menampar pipi Rohima. “Bangun, bangun, sadar, nyebut. Istighfar,” kata Nenek Ijah. 

Rohima pun sadar. Wajahnya masih pucat. Dibuka matanya, di depannya wajah keriput ibunya dan di sampingnya wajah suaminya sedang melongo melihat Rohima telah siuman.

“Sejak melihat penampakan pocong itu, setiap malam saya takut, Mas. Saya takut gelap. Takut asap. Karena begitu nyata lihat pocong itu. Makanya, saya minta suami saya tak boleh keluar rumah kalau malam,” kata Rohima. 

Bersyukur, sejak kejadian Rohima pingsan, suaminya sepertinya juga kapok dan tak pernah keluar malam lagi. Lucunya, suaminya juga berubah sikap dan mau membantu Rohima jualan siomay.

“Sebulan terakhir berubah sikapnya. Mau bantu saya jualan. Jadi, ya saya ndak pernah marah. Lagi pula saya juga kapok tak mau marahi dia. Kapok kalau marah dan ditampaki pocong lagi,” pungkas Rohima.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto