Netral English Netral Mandarin
00:05wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
Ustaz Hadfana Tendang Sesajen Semeru untuk Mengedukasi Jemaahnya, Netizen: Sok Sokan Beragama

Sabtu, 15-January-2022 08:46

Ilustrasi sesajen
Foto : aslibumiayu.net
Ilustrasi sesajen
0

MALANG, NETRALNEWS.COM - Pria yang menendang sesajen ruwatan Gunung Semeru ternyata dikenal sebagai seorang ustaz yang biasa mengajar di pengajian ibu-ibu.

Ia melakukan aksi menendang sesajen dengan alasan untuk mengedukasi jemaahnya agar tak mengikuti aksi sesaji. 

Hanya saja, alasan tersebut semakin mengundang kegeraman warganet. Pasalnya, aksi menendang sesajen yang ia lakukan menyangkut kelompok lain yang bisa jadi menganut aliran kepercayaan dan agama yang berbeda. 

Akun FB Mak Lambe Turah, Sabtu 15 Januari 2022, ikut memberikan pendapatnya dengan panjang lebar. 

“Kadang kita ini terlalu sok sokan beragama jadi lupa kalo kita ini sudah ada di tahun 2022 bukan lagi di jaman baheula yang penuh berhala yg isinya orang2 belum beragama. Jangan dikira orang bersesajen itu lantas orang gak beriman. Jaman kekinian semua orang beragama dengan Tuhannya masing2 yang di negara ini DIAKUI agamanya SECARA RESMI,” kata akun MLT.

“Kalau menarik dari sejarah masuknya Islam di Indonesia ada perjanjian sejarah disitu, dimana agama yang ada harus saling menghormati. Coba baca sejarah dulu, kita ini hidup di Indonesia bukan di Yaman. So whats wrong with Sesajen loh??” imbuhnya.

MLT juga mengaku seorang muslim namun menghormati adat.

"Mak ini muslim tapi apa2 masih pake adat, ada sesajennya. Misal mau bangun rumah, ada sesajennya. Anak sunat juga ada sesajennya. Nikahan juga ada sesajennya. Percaya nya yah kepada Allah SWT. Melakukan itu hanya menghormati adat istiadat saja. Bukan melakukan sirik.Toh pengajian juga diadakan kalau bangun rumah, sunatan anak juga ada pengajian, nikahan juga ada. Malah dobel, pengajian bapak2 ada, pengajian ibu ibu ada. Ngundang anak yatim iya. Sebenarnya gak ada masalah. Masalahnya hanya pada pemikiran kita aja. Come on. Kita ini di Indonesia???????? bukan di Yaman," tandas MLT.

Untuk diketahui, aksi Hadfana Firdaus (34) yang menendang serta membuang sesajen di Gunung Semeru, Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan kini Hadfana telah ditetapkan menjadi tersangka.  

Namun sebenarnya apa motivasi Hadfana sampai nekat melakukan aksi tersebut? Moh Habib Al Qutbhi selaku kuasa hukum Hadfana pun menjelaskan, sekaligus dengan profesinya yang menjadi latar belakang aksi tersebut.  

Dikutip dari CNNIndonesia.com, Hadfana rupanya selama ini berprofesi sebagai ustaz. "Karena dia juga sebagai ustaz lah, untuk mengajar TPA dan sebagainya, yang saya ketahui seperti itu," tutur Habib, Jumat (14/1).  

Habib yang ditemui setelah mendampingi Hadfana diperiksa di Polda Jatim tersebut menjelaskan bahwa kliennya kerap mengisi kajian keagamaan terutama di kalangan perempuan dewasa. 

"Karena dia adalah bisa, punya pemahaman agama yang lebih dari saya, kurang lebih seperti itu, memberikan kajian ke ibu-ibu," terang Habib.  

Profesinya ini yang kemudian memicu Hadfana untuk menendang sesajen di Gunung Semeru. Sebab Hadfana sejatinya hanya ingin mengedukasi jemaahnya supaya tidak ikut-ikutan menggunakan sesajen yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut.  

Semula video tersebut diunggah di grup WhatsApp yang berisi jemaah perempuan-perempuan dewasa. Namun akhirnya video tersebut tersebar dan menjadi buah bibir panas.

"Bahwa dia meng-upload ke grup pada kajian ini adalah untuk tujuannya untuk edukasi. Namanya kajian untuk ibu-ibu. Bahwa semacam ini menurut keterangan dia tidak dibenarkan, tidak dibenarkan secara agama lah," kata Habib.  

Di sisi lain, polisi telah menetapkan Hadfana sebagai tersangka. Hadfana berhasil diciduk pihak kepolisian di Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta, pada Kamis (13/1). Pencarian Hadfana sendiri sampai melibatkan 4 Polda sekaligus.  

Atas perbuatannya, tersangka terancam jeratan Pasal 156 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), tentang permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia. Penetapan status tersangka ini setelah Hadfana diperiksa kepolisian selama beberapa jam.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi