3
Netral English Netral Mandarin
16:48 wib
Partai Demokrat memecat sejumlah kader yang dianggap terlibat dan mendukung gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai atau kudeta. Pertumbuhan jumlah orang kaya raya atau crazy rich di Indonesia diproyeksi bakal melampaui China seiring dengan proses distribusi vaksin Covid-19 dilakukan.
Ustaz Hilmi Firdausi: Ganti Hate Speech dengan Love Speech, Buzzer Jadi...

Senin, 08-Februari-2021 10:18

Aktivis Dakwah Hilmi Firdausi
Foto : Istimewa
Aktivis Dakwah Hilmi Firdausi
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Da’i Ustaz Hilmi Firdausi mempertanyakan pendapat, bagaimana bila hate speech atau ujaran kebencian diganti dengan love speech. Dia juga mempertanyakan, bagaimana bila hater diubah menjadi lover. 

"Bgmna jika hate speech diganti dgn love speech, hater jd lover, buzzer jadi influencer," kata Ustaz Pemilik SIT Daarul Fikri dan Pengasuh PPA Yatim Dhuafa Assa’adah ini, dikutip dari cuitannya, Senin (8/2/2021).

Pernyataan ini disampaikan Ustaz Hilmi untuk mengajak menghentikan semua ujaran kebencian. Ujaran kebencian yang dimaksud seperti kata-kata kotor, caci maki, hingga sumpah serapah. 

Menurutnya, apabila ada kritik mengenai suatu hal agar disampaikan dengan cara yang elegan. Selanjutnya kritik diterima sebagai masukan, bukan sebagai ujaran kebencian. 

"Bangsa ini bth byk energi positif *emoticon hati dan Bendera Merah Putih*," ujar Ustaz Hilmi. 

Mencuit pernyataan tersebut, banyak warganet yang memberikan tanggapan. Berikut beberapa komentar warganet:

"Saya rasa para buzzer⊃2; itu memang sudah dari bawaan orok hatinya itu diisi dengan rasa kebencian dan kemunafikan  pak ustadz," cuit @KagawaMutam***.

"Ngimpi *emoticon tertawa," cuit @lerrykurnia***.

"Sarannya hanya bisa diterima dan dijalankan oleh orang-orang beriman dan (pastinya) berakal sehat ustadz...," cuit @miy***.

"Ga akn ada asap klo ga ada api... api nya lah yg hrs di padamin, tanpa ninggalin asap," cuit @RaniArriyani.

"Mengeluarkan energi negatif itu dibayar, kalau positif nggak dibayar," cuit @roe***.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati