Netral English Netral Mandarin
10:19wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Ustaz Kerap Diserang, Aleg PKS Singgung Indikasi Teror Oleh Simpatisan Komunis

Kamis, 23-September-2021 08:00

Anggota Komisi VIII DPR, Bukhori Yusuf
Foto : Istimewa
Anggota Komisi VIII DPR, Bukhori Yusuf
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi VIII DPR, Bukhori Yusuf mengaku geram dengan insiden penyerangan Ustaz Abu Syahid Chaniago di Batam, Kepulauan Riau. Ia menyesalkan teror terhadap tokoh agama kembali terulang hanya berselang kurang dari 24 jam pasca kasus penembakan yang menewaskan Ustaz Alex di Kota Tangerang.

Diketahui, Ustaz Alex di Tangerang ditembak orang tidak dikenal (OTK) pada Minggu (19/9/2021) malam. Lalu pada Senin (20/9/2021) siang, Ustaz Abu Syahid Chaniago yang sedang mengisi kajian di salah satu masjid di Batam, diserang seorang pria yang belakang mengaku sebagai komunis.

“Penyerangan menyasar tokoh agama ini bukan yang pertama. Ini adalah insiden ke sekian kalinya dengan pola yang sama, namun sangat disayangkan pemerintah seolah tidak berdaya memutus teror terhadap ulama atau tokoh agama lantaran kerap kecolongan. Maka, wajar jika publik geram dan curiga,” tegas Bukhori dalam keterangannya, Rabu (22/9/2021).

Bukhori menyebut, negara harus hadir memberikan kenyamanan dan keamanan warganya dalam menjalankan ibadah. Konstitusi memberikan mandat kepada negara untuk menjamin setiap orang bebas untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 28E ayat (1) UUD NRI Tahun 1945.

“Keamanan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan adalah hak asasi yang dilindungi oleh hukum. Sebagai umat beragama, kita berhak untuk terlindung dari rasa takut, terbebas dari teror, dan terhindar dari ancaman dalam menjalankan aktivitas keagamaan,” jelasnya.

Terkait penyerangan ustaz di Batam, Bukhori mempertanyakan alasan polisi lebih mengedepankan pemeriksaan riwayat historis pelaku yang diklaim pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa ketimbang mendahulukan proses pemeriksaan tindak pidana. Terlebih, pelaku juga mengakui dirinya seorang komunis.

“Polisi perlu mendalami sisi pengakuan pelaku adalah seorang komunis. Teka-teki terkait penyerangan yang selalu menyasar ustaz atau ulama juga harus diungkap selebar-lebarnya,” tegasnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menambahkan, dirinya tidak menampik adanya indikasi teror oleh simpatisan komunis sehingga berharap pemerintah tidak memandang kasus ini sebelah mata.

"Serangan terhadap tokoh agama oleh kelompok komunis terbukti memiliki fakta historis dan benar adanya. Pola kekerasan digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan simpatisannya untuk menebar teror demi menyebarkan dan mengukuhkan kekuatan politik dan ideologi anti-agamanya di tengah masyarakat," paparnya.

Demi menghindari spekulasi liar yang terus berkembang di publik, Bukhori mendesak kepolisian mengungkap kasus ini secara adil dan transparan. Kasus penyerangan yang menyasar tokoh agama dari umat Islam yang terus berulang telah mengusik ketenangan mereka. Suasana menjadi tegang karena hilangnya rasa aman dalam beribadah lantaran dihantui perasaan terancam.

“Pemerintah harus segera menghentikan teror pada ulama maupun tokoh agama lainnya. Insiden penyerangan ini tidak hanya melukai fisik ustaz selaku korban secara langsung, tetapi juga melukai perasaan kami selaku umat Islam. Sebab itu polisi harus mengungkap kasus ini secara transparan semata-mata demi memenuhi rasa keadilan umat Islam," tutupnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati