Netral English Netral Mandarin
03:39wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Usul Patungan Beli Kapal Selam Dipakai Ganti Uang Nasabah 212 Mart, Guntur: Mereka 'Satu Kolam'

Kamis, 06-Mei-2021 21:00

Guntur Romli
Foto : Istimewa
Guntur Romli
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli menyarankan agar dana patungan beli kapal selam digunakan untuk mengganti uang nasabah yang menjadi korban investasi bodong Komunitas Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda, Kalimantan Timur.

Diketahui, penggalangan dana dengan tujuan untuk membeli kapal selam pengganti KRI Nanggala-402 milik TNI AL yang dinyatakan tenggelam beberapa waktu lalu, dilakukan oleh Masjid Jogokariyan dan digaungkan Ustaz Abdul Somad (UAS).

"Patungan kapal selam sebaiknya untuk membayar uang nasabah investasi bodong 212 Mart," kata Guntur dalam tulisan yang diunggah di blog pribadinya, gunromli.com.

Ada sejumlah alasan Guntur mengusulkan demikian, salah satunya ia menyebut bahwa pihak yang menggalang dana beli kapal selam merupakan kelompok yang sama dengan Koperasi Syariah 212 Mart.

"Akhirul kalam, gak usah sok-sokan menggalang dana untuk membeli kapal selam tapi di sisi lain kelompoknya terlibat investasi bodong 212 Mart," sindir politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

"Bayar kan saja dana nasabah korban investasi bodong 212 Mart itu daripada ‘pansos’ pengalangan dana kapal selam, karena sudah dipikirkan oleh negara kita," jelas Guntur Romli.

Berikut pernyataan lengkap Guntur Romli, seperti dikutip netralnews.com dari gunromli.com, Kamis (6/5/2021).

Patungan Kapal Selam Sebaiknya untuk Membayar Uang Nasabah Investasi Bodong 212 Mart

Mengapa?

1. Buzzer yang menggalang dana kapal selam dan 212 Mart dari buzzer dan kelompok yang sama, satu jenis, bahasa mereka ‘satu kolam’

2. Patungan dana kapal selam tidak akan sampe targetnya, karena harga kapal selam paling ‘terjangkau’ Rp 4,7 T konon dana patungan itu baru miliaran. Tidak akan sampe target meski bertahun-tahun.

3. Sumber patungan tidak bisa dibenarkan membeli kapal selam untuk negara, karena dana kapal selam harus melalui proses yang sah, APBN, tender dan proses-proses lainnya, tidak dikenal istilah patungan. Kalau sumber patungan ini dibenarkan malah bahaya, bisa jadi ada pihak asing atas nama patungan membeli alutsista tentara kita dengan tujuan membeli loyalitas dan kesetiaan tentara kita.

4. Untuk menghindari proses kecurangan lebih lanjut karena kelompok yang menggalang patungan dana kapal selam dengan investasi bodong 212 Mart dari kelompok yang sama. Kalau tidak jadi diserahkan, buat apa dana itu? Buat nikah lagi, buat main-main investasi bodong lagi? Tidak ada jaminan tidak akan ada kecurangan lagi, prosesnya juga tidak terbuka.

5. NKRI masih mampu menyediakan budget untuk alutsista untuk tertara kita, kita juga tidak boleh jor-joran dan mubazir dalam pendanaan alutsista karena ada program-program prioritas lain saat ini apalagi di tengah pandemi seperti saat ini.

Akhirul kalam, gak usa sok-sokan menggalang dana untuk membeli kapal selam tapi di sisi lain kelompoknya terlibat investasi bodong 212 Mart.

Bayar kan saja dana nasabah korban investasi bodong 212 Mart itu daripada ‘pansos’ pengalangan dana kapal selam, karena sudah dipikirkan oleh negara kita.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga mempolisikan pengurus Komunitas Koperasi Syariah 212 di Samarinda karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan dana investasi untuk pendirian 212 Mart. Kerugian warga ditaksir mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Saat ini polisi tengah menyelidiki kasus investasi bodong itu.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P