Netral English Netral Mandarin
01:11wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Veronica Koman: Ga Paham Kenapa Pembela HAM Banyak yang Alergi dengan 'Hak Penentuan Nasib Sendiri'.

Selasa, 10-Agustus-2021 13:43

Veronica Koman
Foto : BBC
Veronica Koman
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Veronica Koman merasa heran mengapa sekelompok orang masih alergi dengan soal hak penentuan nasib sendiri. 

“Ga paham kenapa bahkan pembela HAM masih banyak yang alergi dengan 'hak atas penentuan nasib sendiri'. Komisioner Tinggi HAM PBB,” kata Veronica Koman, Selasa 10 Agustus 2021.

Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi pernyataan akun Michelle Bachelet @mbachelet yang mengatakan: “Indigenous peoples must be able to exercise their rights to self-government and self-determination. They must be consulted and should participate in the development of public policies affecting them. #IndigenousPeoplesDay  #WeAreIndigenous.”

(Masyarakat adat harus dapat menggunakan hak mereka untuk mengatur diri sendiri dan menentukan nasib sendiri. Mereka harus dikonsultasikan dan harus berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan publik yang mempengaruhi mereka. #HariMasyarakat Adat #Kita Adat).

Seorang warganet dengan nama Ario @ok_ario kemudian menanggapi dengan bahasa Inggris.

“@VeronicaKoman Don't label someone 'allergic' when they have different opinions with you. I'm sure they have their own arguments. Complex discourses such as human rights should not be simply be polarized into yes/no, agree/disagree etc., as I believe the issue is far more complicated than that.” katanya.

(@VeronicaKoman Jangan melabeli seseorang 'alergi' ketika mereka berbeda pendapat dengan Anda. Saya yakin mereka punya argumen sendiri. Wacana kompleks seperti hak asasi manusia tidak boleh hanya terpolarisasi menjadi ya/tidak, setuju/tidak setuju dll, karena saya yakin masalahnya jauh lebih rumit dari itu).

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati