Netral English Netral Mandarin
21:17wib
Sekretaris Jenderal Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila (PP) Arif Rahman mengatakan pihaknya tidak pernah didatangi oleh Kapolda atau Kapolres yang baru dilantik di daerah. Baca artikel CNN In Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Ahmad Riza Patria memastikan tidak akan menghadiri kegiatan Reuni 212.
Viral Nakalnya Bripka AF, Polisi Beristri Hamili Istri Teman, Netizen: Inilah yang Bikin Citra Polisi Kotor

Senin, 25-Oktober-2021 06:22

Ilustrasi Oknum Polisi
Foto : Berita Heboh
Ilustrasi Oknum Polisi
31

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kasus seorang polisi yang telah beristri namun menghamili istri rekannya ramai menjadi sorotan publik.

Di akun FB Mak Lambe Turah, sejumlah netizen menyebut hal seperti ini membuat citra polisi menjadi buruk. 

MLT: “eh eh eh eh astaganagaaaaaaa.”

Tini Jayadi: “Inilah yg bikin citra Polisi mjd kotor. Tdk memberikan teladan yg baik, istri temam sendiri lho....”

Vonny Lengkey: “Pecat.”

Dwi Fatmawati: “Ealah mboh lah podo ae. .. Seng wedok wes roh seng lanang duwe bojo sek arep ae.. Seng lanang yo nggragas.. .”

Yuztina Yuliati: “Si wanita nya apa gak merasa bersalah ma istri sah ya? Kok cuma ngomongin tuntutannya n haknya saja. Sedang dia lupa telah melukai hati wanita lain.”

Sebelumnya diberitakan, Setelah Kapolsek Parigi Mountong dilaporkan setubuhi anak tersangka pencurian, kini polisi beristri anggota Polres Trenggalek, Bripka AF (39) dilaporkan menghamili istri temannya d polres setempat.  

Wanita yang dihamili berinisial AT (36).

Karena merasa sakit hati Bripka AF tidak tanggung jawab, wanita yang telah ditinggal mati suaminya itu melapor ke Propam Polda Jawa Timur.

Dalam pengakuannya, korban AT telah berhubungan gelap dengan Bripka AF yang beristri itu selama 7 bulan.

Atas prilaku Bripka AF, Kapolres Trenggalek, AKBP Dwiasi Wiyatputera pun memberikan sanksi kepada anak buahnya tersebut, Sabtu (23/10/2021).

Bripka Af diduga telah melakukan tindakan asusila. Pemberian sanksi tersebut, menurut Dwiasi, perintah dari Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta.

"Dia (Bripka AF) harus tanggung jawab atas hak anak dan saya," terang korban berinisial AT melalui pesan singkat, Sabtu (23/10/2021).

Dwiasi pun menonjobkan Bripka AF. Sebab kasus ini masih dalam proses pemeriksaan oleh propam.

"Saat ini Bripka AF sudah dimutasikan dalam rangka pemeriksaan. Mutasi non jabatan staf sambil menunggu putusan. Mulai tadi malam mutasinya," kata Kapolres Trenggalek melalui pesan singkat, Sabtu (23/10/2021).

"Bapak Kapolda Jawa Timur memerintahkan, untuk personel Polri yang melakukan pelanggaran segera dilakukan penindakan oleh propam," tambah AKBP Dwiasi Wiyatputera.

Atas kasus tersebut, Bripka AF diduga melanggar pasal 11 huruf C Perkapolri 14/2021 yakni, setiap anggota Polri wajib menaati dan menghormati norma kesusilaan, norma agama, nilai-nilai kearifan lokal, dan norma hukum.

"Dan perbuatan pelaku yakni Bripka AF, yang diduga telah menghamili seorang perempuan dan tidak bertanggung jawab, termasuk perbuatan asusila yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan di masyarakat Indonesia," terang AKBP Dwiasi.

Sementara itu, pelapor menjelaskan, sudah menjalin hubungan dengan terlapor secara khusus, sejak 7 bulan terakhir.

"Saya menjalani hubungan (dengan pelaku) lebih dari tujuh bulan. Kalau kenal dan sering ngobrol via chatting atau telepon, saya sudah 1,5 tahun,” ujar AT.

Juga dijelaskan, korban AT nekat melapor ke polisi, karena Bripka AF tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.

"Saya melapor karena pelaku tidak ada itikad baik utk bertanggung jawab, seperti perjanjian yang sudah disepakati dan dia buat, " ujar korban AT.

Korban berharap, karena pelaku tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, agar pelaku dipecat, sesuai surat pernyataan yang sudah dibuat oleh pelaku.

"Dia harus bertanggung jawab jika dia tidak mau tanggung jawab dia harus dipecat sesuai surat pernyataan yang dia buat. Tidak cukup kalau hanya mutasi," ujar AT.

Korban juga berharap, anak dalam kandungannya mendapat pengakuan atas perbuatan pelaku.

"Harus ada pengakuan anak di Kartu Keluarga, bahwa itu anak-nya (pelaku)," ujar AT seperti dilansir Tribunnews.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi