Netral English Netral Mandarin
22:51wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Waduh! Radikalis yang Disematkan ke Islam Dianggap Sudah Overdosis, HNW: Bisa Jadi Ajang Komunis dan Separatis!

Minggu, 02-Mei-2021 14:12

Hidayat Nur Wahid
Foto : mpr.go.id
Hidayat Nur Wahid
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus PKS setuju pernyataan Muhammadiyah yang menyebut radikalisme yang disematkan ke Islam sudah overdosis dan hal itu berbahaya karena bisa menjadi ajang lahirnya kekuatan komunisme dan separatisme.

“Penyematan radikalisme dan ekstremisme hanya kpd Islam, selain overdosis,kontraproduktif, juga bisa jadi ajang pengalihan perhatian dari radikalisme dan ekstremisme komunis dan separatis, yang jelas2 bertentangan dg Pancasila, UUDNRI 1945 dan NKRI,” kata Hidayat Nur Wahid, Minggu 2 Mei 2021.

Penyataan itu disampaikan HNW menanggaki unggahan akun Muhammadiyah @muhammadiyah yang menyebut: “Ketika radikalisme dan ekstrimisme hanya disematkan pada Islam, itu nanti akan kontraproduktif dan menggeneralisasi. Kami yang hadir di titik moderat itu juga berat menghadapinya.”

Secara lebih lanjut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara di forum Center of Southeast Asian Social Studies Universitas Gajah Mada, Sabtu (1/5) mengeluhkan tajamnya fenomena penyematan radikalisme kepada umat Islam.

Menurut Haedar, penyematan semacam itu tidak hanya bermasalah secara akademik dan historis, tapi juga bermasalah bagi kerja-kerja moderasi kelompok Islam moderat seperti Muhammadiyah.

“Kami juga melakukan kritik, Indonesia juga overdosis ketika mengeksplor radikalisme-ekstrimisme itu pada Islam. Dan itu kekeliruan besar sebenarnya,” kata Haedar.

Menghadapi radikalisme-ekstrimisme, Muhammadiyah menggunakan metode moderasi, yakni memperluas dakwah dengan penekanan sikap tengahan atau wasathiyah di dalam Islam.

Cara moderasi, dianggap lebih efektif memutus mata rantai tak berkesudahan radikalisme.Akan tetapi, minimnya penyampaian dakwah moderasi dianggap berat jika sematan radikalisme kepada umat Islam masih gencar dilakukan.

“Ketika radikalisme dan ekstrimisme hanya disematkan pada Islam, itu nanti akan kontraproduktif dan menggeneralisasi. Kami yang hadir di titik moderat itu juga berat menghadapinya,” imbuh Haedar.

Menggunakan lensa yang lebih luas, nyatanya gejala radikalisme tidak hanya berlaku pada agama saja, Haedar melihat gejala ini juga terjadi pada kelompok yang terlalu nasionalis sehingga menganggap hal-hal yang berkaitan dengan agama mengancam eksistensi negara.

“Bagi sosial politik yang berdimensi nasionalisme juga ada kecenderungan radikalisme melalui ultra nasionalis, tidak suka dengan mereka yang membawa agama. Begitu mendengar agama itu alergi,” kritiknya seperti dilansir Muhammadiyah.or.id.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P