Netral English Netral Mandarin
03:40wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Wah, Sebut Jokowi Bapak Bipang, Rachland Malah Dipertanyakan Soal Selingkuh, Ade: Siapa Maya? Siapa Teh Ona?

Rabu, 12-Mei-2021 08:45

Rachland Nashidik dan Ade Armando
Foto : Kolase Netralnews
Rachland Nashidik dan Ade Armando
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Polemik bipang yang dipromosikan Presiden Joko Widodo masih saja berlarut-larut. Pasalnya, sejumlah politikus masih mengungkit-ungkit.

Namun justru menggelitik warganet ketika politikus Rachland Nashidik menyindir Jokowi sebagai “bapak bipang.”

Seorang netizen menyindir dan bertanya balik ke Rachland dan membuat Ade Armando ikut memberikan tanggapan. 

“Rachland Nasidik menyindir  Jokowi sbg Bapak Bilang. Reaksi netizen mengejutkan. Pertanyaan saya: memang siapa sih yang menggugurkan? Siapa yg berselingkuh? Siapa Maya? Siapa teh Ona?” kata Ade Armando, Rabu 12 Mei 2021.

Ade juga mengunggah tangkapan layar dari cuitan yang dimaksud:

Rachland Nashidik: “Ada Bapak Pembangunan. Ada Bapak Reformasi. Ada Bapak Bipang Ambawang.”

AkiBogor: “Bapak mengugurkan ada? Pake kb kalau punya selingkuhan.. Maya tuh orang baik kawinin napa.! Jgn lupa ijin dulu ama Teh Ona bini lu..”

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ramai dikritik karena pidatonya yang mempromosikan babi panggang (bipang) Ambawang makanan khas Kalimantan di momen Lebaran. Tim komunikasi Jokowi pun disorot.

Sekretaris Fraksi PPP, Achmad Baidowi (Awiek), menilai tim komunikasi lalai. Awiek menyebut blunder ini sudah terjadi kesekian kali.

"Tim di sekitar presiden lalai sehingga menyebabkan polemik yang tidak perlu. Ini kesekian kalinya blunder komunikasi publik. Padahal kalau mendengar pernyataan Presiden secara utuh dari awal bahwa yang dimaksudkan adalah makanan ringan ala Lebaran, seperti bipang/jipang. Tapi menjadi misleading ketika dibarengi kata Ambawang," kata Awiek, kepada wartawan, Sabtu (8/5/2021).

Awiek meminta tim komunikasi presiden memberi klarifikasi. Bahkan, menurutnya, perlu ada evaluasi tim komunikasi di Istana, sehingga tidak ada lagi kejadian blunder ke depannya.

"Ya memang harus diklarifikasi. Kalau bipang Ambawang kan jelas babi panggang. Kan tidak cocok dengan Lebaran," ujarnya.

"Perlu ada evaluasi terhadap tim komunikasi di lingkaran Istana. Karena blunder justru merugikan presiden," lanjut Awiek.

Sama halnya dengan Ketua Fraksi NasDem Ahmad Ali, yang juga menyoroti tim komunikasi Jokowi atau pembuat naskah pidato saat itu. Ali meyakini Jokowi tidak mungkin mengatakan hal itu secara sengaja.

"Yang salah orang yang memberikan materi ke dia (Jokowi), jadi beliau cuma membaca doang narasi yang diberikan, karena nggak mungkinlah Pak Jokowi sengaja untuk mengatakan itu," ujarnya.

Ali meminta tim komunikasi Jokowi meluruskan supaya tidak ada kesalahpahaman yang berkepanjangan. Meskipun, menurutnya, Jokowi berbicara itu dalam konteks mempromosikan makanan khas Nusantara di luar kaitan dengan momen Lebaran.

"Sebenarnya niatnya kemudian menghidupkan ekonomi keberpihakan terhadap produk lokal. Jadi tujuannya di situ untuk mempromosikan makanan khas lokal. Jadi ya perlu diluruskan saja, karena akan terjadi kesalahpahaman kan, babi itu kan untuk umat Islam sangat diharamkan ditambah momen Lebaran yang sakral. Saya rasa tidak mungkin itu sengaja diucapkan Pak Jokowi," ujarnya.

Sementara itu, elite PDIP, Hendrawan Supratikno, meminta masyarakat melihat konteks ucapan Jokowi secara luas. Menurutnya, hari raya Lebaran merupakan festival budaya bangsa yang tidak hanya dimiliki umat Islam.

"Yang saya tahu persis, Lebaran telah bermetamorfosa tidak hanya milik umat muslim, tetapi sudah menjadi festival budaya bangsa. Umat nonmuslim menikmati Lebaran dengan sangat antusias, seperti untuk silaturahim keluarga dan wisata kuliner," ujarnya.

"Yang menarik, tidak sedikit orang-orang yang semula memilih tunjangan natal dan akhir tahun, sekarang minta dibayarkan pada saat Idul Fitri. Jadi saya melihat ajakan tersebut dalam perspektif budaya. Apalagi konteknya pada tradisi mudik yang tahun ini kembali menghadapi kendala COVID," lanjutnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli