Netral English Netral Mandarin
04:59wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Waketum MUI Bela Napoleon yang Aniaya Kace? DS: Malu Gua Sama MUI Kayak Gini

Selasa, 21-September-2021 10:00

Pegiat Medsos Denny Siregar
Foto : Istimewa
Pegiat Medsos Denny Siregar
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar mengaku malu dengan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait kasus penganiayaan tersangka kasus penistaan agama, Muhamad Kosman alias Muhammad Kace, yang diduga dilakukan oleh Irjen Napoleon Bonaparte.

Hal tersebut disampaikan Denny melalui akun Twitternya mengomentari pemberitaan media dengan judul berita "MUI Dukung Penganiayaan Irjen Napoleon Bonaparte terhadap Muhammad Kace? Wakil Ketua: Masalah Agama Itu Sangat Sensitif".

Artikel itu memuat pernyataan Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas yang menilai bahwa Napoleon sangat mengerti hukum. Namun, sebagai manusia biasa dan manusia yang beriman, tentu Napoleon juga memiliki batas kesabaran ketika agama dan keimanannya dihina dan direndahkan.

"Malu gua ma @MajelisUlamaID kayak gini...," cuit @Dennysiregar7, Senin (20/9/2021).

Sebelumnya diberitakan, Bareskrim Polri mengungkap bahwa Muhammad Kece dipukul oleh Irjen Napoleon Bonaparte di dalam rutan. Tak hanya memukuli, Napoleon juga melumuri wajah Muhammad Kece dengan kotoran manusia.

Diketahui, Napoleon merupakan terpidana kasus penerimaan suap dari terpidana korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra. Sedangkan Muhammad Kece adalah tersangka dalam perkara dugaan penistaan agama. Keduanya saat ini sama-sama ditahan di Rutan Bareskrim Polri.

Perkara dugaan penganiayaan yang dilakukan Napoleon Bonaparte telah dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Muhammad Kece pada 26 Agustus 2021.

Napoleon sendiri telah membuat surat terbuka yang menyatakan bahwa pemukulan terhadap Kace dilakukan atas dasar membela agama.

"Siapa pun bisa menghina saya, tapi tidak terhadap Allahku, AlQuran, Rasulullah SAW dan akidah Islamku, karenanya saya bersumpah akan melakukan tindakan terukur apapun kepada siapa saja yang berani melakukannya," ungkap Napoleon dalam surat terbukanya, Minggu (19/9/2021).

Terkait hal itu, Waketum MUI Anwar Abbas menilai bahwa Napoleon sangat mengerti hukum. Namun, lanjutnya, sebagai manusia biasa dan manusia yang beriman, tentu mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri itu juga memiliki batas kesabaran ketika agama dan keimanannya dihina dan direndahkan.

"Kita tahu Napoleon Bonaparte itu bukan orang sembarangan dan bukan orang yang tidak mengerti hukum tapi malah sangat-sangat mengerti bahkan beliau adalah salah seorang penegak hukum," kata Anwar melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (20/9/2021).

"Tapi kalau agamanya dan keimanannya dihina, diremehkan dan direndahkan, maka sebagai manusia biasa dan sebagai manusia yang beriman tentu batas kesabarannya juga ada," sambungnya.

Menurut Anwar, setinggi apa pun jabatan seseorang atau sehebat apa pun pengetahuan hukumnya, agamanya diganggu, maka selain rasio pemikiran, yang akan berbicara adalah keimanannya juga.

"Karena keimanannya diganggu dan diremehkan apalagi setelah melihat sikap si pelaku yang mencla-mencle dan tidak mau mengakui kesalahannya bahkan terkesan arogan serta memang punya niat tidak baik."

"Maka Napoleon pun bertindak dengan menghajar yang bersangkutan dan karena dia sadar tindakannya itu menyalahi hukum maka dia pun mengatakan saya siap untuk menanggung risikonya kata beliau," ujarnya.

Untuk itu, lanjut Anwar, insiden Napoleon dan Kace ini harus disadari dan diambil pelajaran bahwa persoalan agama merupakan sesuatu yang sensitif. "Oleh karena itu, dari peristiwa ini ke depan kita harus benar-benar bisa menyadari bahwa masalah agama itu sangat sensitif," tuturnya.

Anwar juga berharap agar negara dan para penegak hukum hendaknya cepat tanggap bila ada masalah-masalah yang menyangkut pelecehan terhadap masalah agama.

"Ini penting dilakukan dan untuk menjadi perhatian kita semua agar persatuan dan kesatuan kita sebagai warga bangsa tidak rusak dan dirusak oleh sikap dan perbuatan dari orang seorang atau segelintir orang," jelasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P