Netral English Netral Mandarin
04:07wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Waspada Bayi dan Anak Bisa Alami Sakit Jantung, Perhatikan Gejalanya!

Rabu, 29-September-2021 21:00

Waspadai bayi juga bisa sakit jantung.
Foto : Halosehat
Waspadai bayi juga bisa sakit jantung.
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi, dr Rahmat Budi Kuswiyanto, SpA(K), Mkes membagikan salah satu pengalamannya, bahwa banyak masyarakat yang tidak percaya bayi dan anak bisa alami sakit jantung. Kata dr Budi, tentu sakit jantung yang dialami bayi dan anak ini berbeda dengan jenis sakit jantung yang dialami orang dewasa. 

Dipaparkannya, penyakit jantung pada bayi dan anak dibagi menjadi dua. Diantaranya Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) dan Penyakit Jantung Didapat atau Acquired Heart Disease. 

PJB adalah kelainan struktur anatomi, letak atau fungsi jantung akibat gangguan pembentukan organ jantung pada trimester awal kehamilan yang terbawa sampai lahir. Sedangkan Penyakit Jantung Didapat adalah penyakit jantung yang terjadi akibat proses kelainan atau penyakit lain yang didapat. 

Baca Juga :

“Jenis penyakit jantung bermacam-macam, tidak jarang disertai dengan kelainan organ. Penyakit jantung pada bayi dan anak ada yang terjadi sejak pembentukan di dalam lahir sampai jelang kelahiran,” ujar dr Budi. 

Pernyataan itu disampaikan dr Budi dalam acara Webinar “Pentingnya Dukungan Nutrisi Tepat untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak dengan Kelainan Jantung Bawaan”, Rabu (29/9/2021). 

Berdasarkan data World Heart Day 2021, diantara 100 kelahiran, ada satu bayi yang lahir dengan gangguan jantung bawaan. Diperkirakan ada sebanyak 40-50 ribu kasus per tahun, dengan presentase 25 persen diantaranya PJB kritis dan harus segera menerima tindakan. 

Belum diketahui pasti apa penyebab terjadinya PJB, namun ada beberapa faktor risiko seperti infeksi kehamilan, penyakit ibu seperti diabetes, lupus dan hipertensi. Faktor risiko lain seperti konsumsi obat, rokok dan alkohol hingga nutrisi tidak seimbang. 

Baca Juga :

“Tidak diketahui pasti apa penyebab terjadinya Penyakit Jantung Bawaan. Ada juga faktor risiko seperti kelainan genetik janin dan riwyat keluarga, dengan kelainan jantung,” terang dr Budi. 

Adapun gejala PJB yang perlu diketahui para orang tua diantaranya: bayi kebiruan, nafas cepat atau sesak nafas, kelelahan saat aktivitas seperti menyusui, pertumbuhan terhambat atau berat badan susah naik dan perubahan bunyi atau letak jantung. 

“Gejala dan tanda PJB lebih lanjut adalah terjadinya infeksi paru berulang, kelainan bawaan atau sindrom dan pingsan, berbedar atau nyeri dada, hingga kurus dan stunting. Anak dengan kelainan jantung bawaan juga banyak terlahir dengan keadaan bibir sumbing, kelainan telinga, katarak, dan down syndrome,” jelas dia. 

Menindak keadaan itu, perlu dilakukan pemeriksaan rutin pada pasien. Diantaranya rangkaian pemeriksaan seperti konsulati dan EKG dan rontgen dada secara rutin. Pada kasus khusus, perlu dilakukan echocardiography dan dilanjutkan dengan CT-Scan dan MRI. 

Lebih lanjut dr Budi menekankan peran orang tua dengan bayi dan anak PJB, agar membawa anak ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat bila ada tanda dan gejala. Selain itu perlu dilakukan konsultasi ke dokter anak dan konsultasn kardiologi. Orang tua juga perlu memperhatikan asupan nutrisi, memantau tumbuh kembang dan memastikan anak menerima vaksinasi rutin. 

“Jaga kesehatan gigi dan mulut anak, obati infeksi dengan tuntas apabila ada sakit ISPA dan radang telinga. Sesuaikan juga aktivitas anak, tidak panik, ikuti saran dokter. Selain itu ikhlas, ikhtiar, sabar dan tawakal,” pesan dia. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani