Netral English Netral Mandarin
12:50wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Waspada Dislipidemia, Faktor Risiko Utama Peyakit Jantung Koroner dan Stroke  

Jumat, 13-Agustus-2021 14:00

Waspadai dislipisemia faktor utama jantung koroner.
Foto : EMX
Waspadai dislipisemia faktor utama jantung koroner.
20

 JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Ini juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit kardiovaskular. 

Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia pada 2019, Dislipidemia dinyatakan sebagai faktor risiko utama Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke. Angka kematiannya mencapai 17,3 juta, dari total 54 juta kasus mortalitas per tahunnya. 

“Dislipidemia berperan penting dalam kejadian aterosklerosis vaskular yang menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi. Diantaranya seperti PJK, stroke, dan Penyakit Arteri Perifer (PAP),” ujar Ketua Divisi Endokrin Metabolik dan Diabetes, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Dr dr Tri Juli Edi Tarigan SpPD, KEMD. 

Baca Juga :

Pernyataan itu dia sampaikan dalam acara Konferensi Pers Virtual, dengan tema “Pentingnya Pengelolaan Diabetes dan Dislipidemia: Upaya Menurunkan Risiko Komplikasi Penyakit Jantung dan Kardiovaskular”, Kamis (12/8/2021). 

Ada berbagai faktor penyebab terjadinya Dislipidemia. Faktor penyebab primer, diantaranya adala h genetik atau keturunan dan kolestrol LDL atau trigliserida yang amat tinggi. Adapula faktor penyebab sekunder, seperti gaya hidup, kurangnya aktivitas fisik, serta asupan makanan berlebih. 

Baca Juga :

“Penyebab utama lainnya adalah diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, hipotiroid, sirosis billier, serta mengkonsumsi obat-obatan tertentu,” ujar dia.

Ada berbagai gejala dan tanda dari kejadian Dislipidemia, meski diakui sebagian besar asimptomatik atau tanpa gejala. Anda bisa memperhatikan berdasarkan keadaan LDL yang amat tinggi dan trigliserida yang sangat tinggi. 

Baca Juga :

Apabila LDL sangat tinggi, bisa timbulkan gejala dan tanpa berupa arkus senilis, xantelasma pada kelopak mata dan xantoma tendon achiles, siku, dan lutut. 

Apabila trigliserida yang sangat tinggi, maka akan membuat pankreas akut, hepatosplenomegali, dan parastesia. Selain itu bisa muncul gejala sesak napas, hilang kesadaran dan lipidemia retinalis. 

Pemeriksaan skrining meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan periksa labratorium. Pemeriksaan fisik diantaranya bila lingkar pinggang 80 cm untuk wanita, keadaan disfungi ereksi, serta menopause. Untuk laboratorium berupa pemeriksaan kolestrol LDL, HDL, trigliserida dan total kolestrol. 

Di sisi lain perlu dilakukan pengelolaan Dislipidemia, baik yang non farmakologis dan juga farmakologis. Farmakologis dengan konsumsi obat statin, bile acid, fibrat, asam nikotinik, dan lainnya sesuai anjuran dokter. 

“Non farmakologis seperti aktivitas fisik, penurunan berat badan, terapi nutrisi medis dan berhenti merokok bagi perokok. Aktivitas fisik intensitas sedang, minimal dilakukan selama 30 menit per hari, sebanyak 4-6 kali seminggu. Misalnya jalan cepat, bersepeda dan berenang,” jelas dia. 

Untuk terapi nutrisi medis, seperti diet rendah kalori, banyak konsumsi buah dan sayur, makan biji-bijian dan konsumsi ikan serta daging tanpa lemak. Selain itu diimbau juga untuk membatasi lemak jenuh, lemak trans dan kolestrol, serta konsumsi serat larut dalam air 15-25 gram per hari. 

 

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani