Netral English Netral Mandarin
02:58wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
Waspadai Badai Sitokin yang Bisa Membawa Kematian

Jumat, 02-Juli-2021 18:00

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19.
Foto : alodokter
Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19.
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di kala virus Covid-19 mulai bertebaran, kita sering mendengar kata Badai Sitokin. Kini kata-kata tersebut kembali mencuat disaat Covid-19 di Tanah Air khususnya Jawa-Bali kembali tinggi.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Badai Sitokin?  Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu segera ditangani secara intensif. Bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Dilansir dari artikel dr. Sienny Agustin dari Alodokter, inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Seputar Badai Sitokin

Badai sitokin (cytokine storm) terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan.

Tak jarang peradangan tersebut membuat organ-organ di dalam tubuh menjadi rusak atau gagal berfungsi. Hal inilah yang membuat badai sitokin perlu diwaspadai, karena bisa sampai menyebabkan kematian.

Pada penderita COVID-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Itulah sebabnya mengapa penderita COVID-19 kerap mengalami sesak napas.

Gejala Badai Sitokin pada Penderita COVID-19

Sebagian besar penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin mengalami demam dan sesak napas hingga membutuhkan alat batu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar 6–7 hari setelah gejala COVID-19 muncul.Selain demam dan sesak napas, badai sitokin juga menyebabkan berbagai gejala, seperti:Kedinginan atau menggigil

Kelelahan

Pembengkakan di tungkai

Mual dan muntah

Nyeri otot dan persendian

Sakit kepala

Ruam kulit

Batuk

Napas cepat

Kejang

Sulit mengendalikan gerakan

Kebingungan dan halusinasi

Tekanan darah sangat rendah

Penanganan Badai Sitokin

Penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU). Beberapa langkah penanganan yang akan dilakukan dokter, meliputi:

Pemantauan tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh, secara intensif

Pemasangan mesin ventilator

Pemberian cairan melalui infus

Pemantauan kadar elektrolit

Cuci darah (hemodialisis)

Pemberian obat anakinra atau tocilizumab untuk menghambat aktivitas sitokin

Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penanganan yang tepat terhadap penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin.

Pada penderita COVID-19, badai sitokin dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa. Agar terhindar dari kondisi serius ini, Anda disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja.

Bila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala COVID-19, seperti batuk, demam, pilek, lemas, sesak napas, anosmia, atau gangguan pencernaan, segera lakukan isolasi mandiri.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati