Netral English Netral Mandarin
01:05wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Wereng Coklat dan Tikus Kabur Tak Balik Lagi, Ini yang Dilakukan Petani di Sumbar

Minggu, 05-September-2021 13:45

Ilustrasi kegiatan petani saat panen padi.
Foto : Istimewa
Ilustrasi kegiatan petani saat panen padi.
11

PADANG, NETRALNEWS.COM - Sebanyak 227 hektare lahan pertanian pada tiga kecamatan di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat diserang hama wereng coklat pada kurun Januari hingga Juni 2021.

Serangan hama wereng itu terjadi di Kecamatan Tanjungmutiara seluas 27 hektare, Ampeknagari 50 hektare dan Kecamatan Lubukbasung 150 hektare.

Serangan serangga pengisap cairan tumbuhan anggota ordo Hemiptera atau kepik sejati ini membuat hasil panen petani anjlok.

Persoalan serangan hama wereng ini terus terjadi, kendati sudah dilakukan berbagai upaya pengendalian oleh petani.

Meski belum sampai ke taraf puso atau gagal panen, hal itu berdampak pada penurunan produksi padi di Agam.

Hal serupa juga dialami petani di Kota Pariaman, berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pertanian setempat setidaknya 75,25 hektare sawah di tiga kecamatan diserang wereng pada November 2020 sehingga ratusan petani pemilik sawah gagal panen.

Di Kabupaten Solok Selatan juga demikian, jika biasanya satu hektare sawah saat dipanen bisa menghasilkan 54 karung padi setelah diserang wereng turun menjadi hanya 27 karung.

Tidak hanya wereng, di Kabupaten Pesisir Selatan ribuan hektare tanaman padi di Kecamatan Sutera juga diserang hama tikus.

Serangan hama terjadi merata dan dari hari ke hari semakin meluas tidak terkendali meski berbagai upaya telah dilakukan petani.

Terkait maraknya hama wereng yang menyerang lahan pertanian di Sumbar, pakar pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang Dr My Syahrawati.

Ia  melihat selama ini kebiasaan petani mengendalikan hama wereng cenderung memakai pestisida karena gampang didapat.

"Petani tinggal pergi ke kios tanya apa obat untuk basmi wereng, akhirnya direkomendasikan oleh orang kios sementara kita tidak tahu pemahaman mereka soal pestisida dan apa kandungan bahan aktifnya," katanya.

Akibatnya, karena pemilik kios sering memberi rekomendasi produk adalah merek dagang bukan bahan aktif, saat petani menilai pemakaian tidak efektif mereka akan menggabungkan dengan produk lain.

Akhirnya yang terjadi adalah ledakan populasi karena wereng resisten akibat kesalahan penggunaan pestisida.

Padahal penggunaan pestisida untuk membasmi wereng di dunia pertanian sebenarnya adalah langkah terakhir.

"Ibarat COVID-19 tenaga kesehatan adalah pertahanan terakhir sebelum penerapan protokol kesehatan, dalam dunia pertanian penggunaan pestisida juga demikian," katanya.

Karena itu ia mengingatkan jangan melakukan penyemprotan pestisida di awal dan akan lebih baik pakai teknik pengendalian hama yang sudah teruji dan ramah lingkungan.

Ia memberi contoh setiap makhluk hidup itu ada musuh alami dan untuk wereng predatornya adalah laba-laba yang kemampuan pengendalian tidak kalah dengan pengendali sintetis.

Satu ekor laba-laba ketika diuji di laboratorum bisa memangsa 50 ekor wereng dalam satu hari. Ada juga "tomcat" atau semut semai hingga kumbang bemo yang juga bisa dimanfaatkan.

Sebenarnya musuh alami wereng jauh lebih banyak ketimbang hamanya namun selama ini tidak termanfaatkan dengan baik.

Menurutnya penyemprotan pestisida sintetik justru lebih berdampak kepada musuh alami wereng ketimbang hamanya.

"Jarang terdengar predator yang resisten terhadap pestisida yang selama ini terjadi hama yang resisten," kata dia.

Jika musuh alam mampu bertahan di lahan akan mampu menurunkan populasi wereng yang ada.

Kalau seandainya tetap butuh pestisida bisa dipakai pestisida nabati yang dibuat dari gulma di sekitar sawah.

Ia menjelaskan bahwa cara membuatnya sederhana. Cukup ambil gulma, dicincang dan campur dengan air lalu didiamkan satu sampai dua jam, disaring dan airnya masukan ke tangki penyemprot, satu kilogram campuran gulma bisa untuk tangki 10 liter.

"Itu tidak perlu beli semua ada di areal persawahan," kata pengajar proteksi tanaman, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unand.

Ketika ada yang menyampaikan pestisida nabati jumlahnya terbatas maka bisa dipakai bio pestisida yaitu pestisida dari makhluk hidup dari jamur.

"Itu bisa disemprotkan sebagaimana pestisida sintetis, tinggal dibiakan oleh petani bahannya bisa dipakai," ujarnya.

Ia mengakui kebiasaan petani kalau tidak menyemprot pestisida membasmi hama merasa tidak enak dan kurang puas.

Padahal menggunakan musuh alami adalah pengendalian hama dengan tangan kosong, sehingga petani tidak perlu bawa bawa tangki ke sawah, biarkan musuh alami yang bekerja, kata dia.

Jika hama banyak maka gunakan pestisida nabati atau bio pestisida, kalau wereng sudah 10-15 ekor per rumpun baru pakai pestisida sintetis.

Untuk jangka panjang ia menyarankan perlu rekayasa ekologi seperti mengatur jarak tanam, memakai pupuk organik sehingga lebih berkelanjutan.

Ia menambahkan ancaman hama wereng cukup serius mengganggu produktivitas pertanian dan itu amat mudah dijumpai di areal persawahan yang bisa mengakibatkan gagal panen.

Selain wereng ada yang mengikuti yaitu wereng bisa memindahkan virus yang bisa membuat padi jadi kerdil walau sudah diberi pupuk

Dilakukan bersama

Sementara, terkait upaya pengendalian hama tikus pakar pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Hasmiandy Hamid menilai tidak bisa dilakukan secara perorangan.

"Kalau pengendalian hama lain bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh petani, untuk tikus harus melibatkan kelompok tani dan semua orang yang ada di hamparan," katanya.

Ia melihat di Sumbar ada kebiasaan berburu babi hutan yang juga merusak tanaman menggunakan anjing, maka berburu tikus bersama juga bisa dilakukan sebagai kegiatan yang menguntungkan petani.

Menurutnya tikus sifatnya mirip manusia yang menyukai apa yang dimakan manusia dan di mana ada manusia tikus biasanya ikut.

"Karena itu untuk pengendalian harus melibatkan semua orang yang ada dalam satu kawasan," kata pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Unand tersebut.

Ia menilai pengendalian tikus akan sulit dilakukan sendiri karena hewan pengerat tersebut memiliki daerah jelajah dan kekuasaan yang cukup luas dan merusak di area itu.

"Tikus itu sebenarnya untuk makan hanya sedikit hanya seperlima dibandingkan kemampuan merusak, artinya kemampuan merusak lima kali lipat lebih besar dari apa yang dimakan," katanya.

Ia mengemukakan tikus itu merusak karena giginya selalu tumbuh dan agar tidak terlalu panjang dia harus mengerat mengakibatkan kerusakan akibat mengerat tadi lebih besar daripada tanaman yang dimakan.

Bahkan satu ekor tikus bisa mengerat 200 bibit semalam dan untuk anakan bisa 80 batang dan padi bunting 100 batang.

Akibat daya rusak yang tinggi jika dikendalikan sendiri akan kesulitan, karena tikus juga bisa berpindah-pindah walaupun tempat tinggal tikus sawah kebanyakan di pematang atau di pinggir hutan.

Pada sisi lain ia melihat musuh alami tikus seperti ular, kucing, burung hantu dan burung elang populasinya kian berkurang saat ini.

"Karena musuh alami berkurang tikus makin bertambah, apalagi sekali melahirkan bisa 10 ekor dan dalam jangka dua hari saja sudah bisa kawin lagi, jadi pertumbuhan populasinya besar sekali dan tak bisa mengandalkan musuh alami saja," katanya.

Ia menyarankan upaya pengendalian tikus yang paling efektif adalah melakukan perburuan bersama-sama atau bergotong royong kalau di Jawa disebut "gropoyokan".

"Biasanya sebelum tanam atau setelah panen, itu bisa dilakukan, jika sebelum tanam diharapkan populasi tikus akan berkurang di awal sehingga bisa mengurangi tikus yang merusak," katanya.

Sementara jika dilakukan dengan cara meracun bisa saja namun juga bisa mematikan hewan lain karena racun tersebut bisa juga dimakan anjing atau kucing.

Selain itu ia menyampaikan tikus punya sifat jera umpan yaitu ketika ada tikus yang makan umpan beracun mati maka kawanan yang lain tidak mau lagi memakan umpan tersebut karena rasa curiga yang tinggi.

Akan tetapi itu bisa diakali dengan memberikan umpan di awal yang tidak beracun, ketika tikus udah merasa aman baru beri umpan beracunnya yang sifatnya kronis atau ada jeda setelah dimakan baru mati.

Kemudian ia juga menyampaikan tikus senang pada tempat yang tidak terawat dan petani kadang kurang memperhatikan sawahnya.

"Di sawah ada pematang dan biasanya jadi sarang tikus, kalau bisa pematang dibuat kecil dengan lebar 30 centimeter supaya sarang tikus jadi lebih sempit sehingga mereka tidak nyaman," katanya.

Lalu petani harus rajin memantau di mana tikus bersarang dan lakukan pengomposan menggunakan belerang karena akan mematikan tikus di sarang.

Sarang tikus biasanya ada jalan masuk dan jalan keluar, kedua lubang tersebut harus dikompos, katanya.

Ia juga mengingatkan dalam mengendalikan tikus pola tanam harus diselang seling karena jika padi terus menerus di satu lahan maka populasi tikus akan besar karena reproduksi tikus tergantung makanan.

Ia menambahkan selain pola tanam penerapan jarak tanam yang menggunakan jajar legowo atau lebih jarang juga efektif.

Sebab tikus sifatnya tidak suka terlihat dan ketika pola tanam jajar legowo akan ada bagian terbuka di antara tanaman padi.

Makanya kalau padi yang diserang tikus di bagian tengah dulu baru ke pinggir dan itu tidak semua dimakan disisakan satu baris agar terlindung dari mangsa di atas, katanya, seperti dilansir dari Antara. 

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP