Netral English Netral Mandarin
21:05wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Wisata Gegesik, Ternyata Menyimpan Banyak Keindahan

Sabtu, 11-September-2021 05:00

Kearifan lokal di wisata Gegesik, Cirebon.
Foto : Kemenparekraf
Kearifan lokal di wisata Gegesik, Cirebon.
40

CIREBON, NETRALNEWS.COM - Pernahkah Anda mendengar sebuah tempat wisata yang kaya dengan kearifan lokalnya bernama Gegesik?

Jika belum, yuk bersiap telusuri keindahan alam dan juga tentu saja hasil ekonomi kreatif masyarakat setempat. Belum lama ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mendorong potensi wisata seni dan budaya di Gegesik Kulon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, agar menjadi daya tarik desa wisata tersebut.

Desa wisata Gegesik Kulon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masuk dalam daftar 50 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa tersebut fokus pada pengembangan parekraf sebagai salah satu upaya membangkitkan perekonomian mereka di tengah pandemi COVID-19.

Desa wisata Gegesik Kulon dikenal memiliki banyak potensi dan masyarakat masih sangat menjaga kelestarian seni budayanya. Dimana mayoritas penduduk desa di sana bekerja sebagai petani. Sebagian lagi berprofesi sebagai seniman dan wiraswasta.

“Saya sangat mengapresiasi kearifan lokal yang menjadi unggulan di Desa Gegesik Kulon. Kemenparekraf memberikan kebebasan kepada dewan juri yang terdiri dari berbagai unsur pentaheliks untuk menilai. Mereka memilih Gegesik Kulon berdasarkan kekuatan seni dan budaya, langkah strategis untuk memajukan kita menghadirkan atraksi dari kesenian gamelan, kemudian amenitas dari sisinya homestaynya perlu ditingkat dan kemudian aksesibilitas yang memudahkan bagi wisatawan,” kata Sandiaga, Jumat, (10/9/2021).

Di desa yang biasa disebut Kampung Seniman itu banyak dimanfaatkan warisan kesenian dan kebudayaan sehingga sangat sesuai sebagai destinasi wisata edukasi seni dan budaya. Mereka berpedoman pada 5 cabang seni yang sekaligus ditawarkan sebagai daya tarik wisata di Desa Gegesik Kulon. Mulai dari seni rupa berupa ukiran kayu, sungging wayang, ukir topeng, kriya kendang, dan lukisan kaca.

Kemudian ada seni tari Topeng 5 Wanda karakter yaitu topeng panji, samba, rumiang, temenggung, dan kelana. Ada pula seni musik  Gamelan Prawa dan Pelog, Rampak Kendang, juga ada seni teater seperti sandiwara, dalang wayang, ronggeng bugis, berokan (barongsai dengan budaya lokal), dan wayang sabet. Hingga seni sastra seperti macapat, wangsalan (pantun Jawa).

“Kami akan terus mempromosikan potensi desa melalui konten-konten kreatif dan mudah-mudahan bisa menjadi viral sehingga mendatangkan wisatawan lebih banyak agar dapat membuka lapangan kerja. Kearifan lokal dari seni tari topeng panji dan kelana yang menceritakan proses kehidupan dari bayi sampai menjadi kelana yang penuh angkara murka harus dijahit dalam storytelling yang merajut keindahan kearifan lokal,” kata Menparekraf Sandiaga.

Berikan Bantuan Gamelan Ke Pokdarwis Gegesik

Saat tiba di desa yang berpenduduk 5783 jiwa itu, Sandiaga disambut antusias masyarakat. Menparekraf hadir menaiki Paksi Naga Liman (Sebuah Kereta Kencana) hingga di depan Kantor Kuwu Gegesik Kulon. Di sana Menparekraf langsung disuguhi beberapa atraksi kesenian seperti tari topeng yang diperankan oleh anak-anak kecil.

Tidak hanya itu, beberapa produk ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tinggi seperti ukiran kayu jati, pembuatan wayang kulit, dan produk lainnya juga dipamerkan warga kepada Sandiaga.

Tak ketinggalan, Menparekraf Sandiaga juga mencoba membuat kerupuk melarat yang dimasak di atas pasir panas. Kemudian mencoba membuat dodol. Seperti diketahui, sejumlah masyarakat di Desa Gegesik Kulon selama ini menjadi produsen kuliner khas berupa makanan olahan yang sangat cocok sebagai oleh-oleh.

Seperti geplak dan opak yang bisa didapatkan di Blok Udik Gegesik Kulon. Selain itu ada pula olahan manuk berkek, dodol, asap cair minuman peningkat imun dari batok kelapa, dan olahan manisan buah. Kemudian ada juga rumah produksi batik Katura khas Cirebon.

Setelah menjajal dan mencicipi kuliner khas, Menparekraf berdialog dengan pelaku seni kreatif yang juga perwakilan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gegesik yaitu Atus Supriyadi.

Pak Atus, sapaan akrabnya menceritakan musibah yang terjadi di kampungnya pada 2018 silam. Musibah terjadi di Gegesik Kulon berupa runtuhnya tembok gedung walet, yaitu tempat latihan sanggar Hidayat Jati yang difungsikan untuk menampilkan beberapa acara penting, seperti Hardiknas Kabupaten Cirebon, Sekolah model kebudayaan Jawa Barat, Dalang Nayaga Bocah di TMII, dan pertukaran budaya di Jerman. Peristiwa runtuhnya tembok itu menelan 7 korban jiwa diantaranya 1 dalang pelatih, 1 asisten pelatih, dan 5 anak pelajar SMP termasuk anak kandung dari ketua Pokdarwis.

Setelah tragedi walet, pemerintahan desa memberikan gamelan, namun setelah itu terjadi kembali musibah kebakaran tahun 2021 yang menghanguskan beberapa alat musik gamelan. Kini mereka memiliki keterbatasan alat musik gamelan.

“Insya Allah mereka yang wafat mati syahid karena sedang berjuang bagi pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemerintah hadir, di tengah COVID-19 untuk memastikan agar Desa Gegesik Kulon ini bisa bangkit, kuncinya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Atas seizin Pak Bupati saya langsung memerintahkan Deputi Vinsensius Jemadu untuk menghadirkan gamelan baru bekerja sama dengan pemerintah daerah yang diminta Pak Kuwu dan Pak Atus tadi untuk memberikan pelatihan dan pendampingan,” katanya.

Menparekraf Sandiaga Uno juga mengatakan kepada Pak Atus dalam waktu dekat pihaknya akan menghubungi Duta Besar Indonesia di Jerman untuk menindaklanjuti kembali undangan yang batal lantaran musibah yang dialami Desa Wisata Gegesik itu.

“Kebetulan Duta Besar Indonesia untuk Jerman tetangga saya, nanti saya akan tagih, juga setelah COVID-19 rencana awal membawa anak-anak untuk tampil di sana bisa terealisasikan kembali,” pungkasnya.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati