• News

  • Wisata

Banyuwangi Paling Siap Sambut Wisatawan di New Normal, Ini Buktinya

Jenderal Doni Monardo terjun langsung melihat kesiapan Banyuwangi sambut turis.
BNPB
Jenderal Doni Monardo terjun langsung melihat kesiapan Banyuwangi sambut turis.

BANYUWANGI, NETRALNEWS.COM - Keseriusan Banyuwangi dalam menegakkan aturan kesehatan sebagai syarat mutlak dibukanya kembali sektor pariwisata juga dibuktikan dengan pemberlakuan sertifikasi protokol kesehatan, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi para pengunjung yang datang.

Sertifikasi protokol tersebut akan ditempel di beberapa obyek wisata, hotel, homestay, kafe, restoran, warung rakyat, lokasi wisata lainnya dan ditampilkan di aplikasi khusus agar mudah dicari oleh wisatawan.

Menurut Bupati Banyuwangi, apabila ada yang tidak menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah, maka sertifikasi tersebut akan dicabut dan otomatis tidak boleh melanjutkan kegiatan usaha pariwisata.

“Jika melanggar, sertifikatnya dicabut,” jelas Bupati Azwar Anas, dalam saran persnya, Minggu, (27/6/2020).

Selain itu, muasal pemilihan Banyuwangi sebagai ‘pilot project’ untuk menyongsong kegiatan pariwisata mengingat daerah tersebut telah berangsur-angsur masuk dalam wilayah zona kuning dan berpotensi beralih ke hijau. Artinya terdapat kasus COVID-19, risiko rendah dan dapat dikendalikan.

Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo telah melihat sendiri bagaimana Banyuwangi menerapkan protokol kesehatan dengan baik ditambah adanya sertifikasi normal baru, sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung.

“Saya melihat langsung bagaimana tempat wisata di Banyuwangi, telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik, bahkan lokasi ini sudah terpasang sertifikasi normal baru sebagai jaminan keamanan dan kesehatan bagi pengunjung yang datang. Sertifikasi seperti ini harus diikuti oleh daerah lain,” tutur Doni.

Sehari sebelumnya, Doni Monardo yang mendampingi Presiden Joko Widodo menyaksikan bagaimana geliat perekonomian warga di Pasar "Tangguh" Rogojampi di tengah pandemi. Aturan di sana ketat, namun tetap bersahabat dan dilabeli dengan sertifikasi.

Para calon pembeli wajib mengenakan masker dan cuci tangan dengan sabun sebelum masuk ke pasar. Untuk berbelanja, mereka diberikan nomor antrean menggunakan mesin otomatis. Tujuannya untuk membatasi para pembeli agar tidak terjadi kerumunan.

Selain itu, pasar tradisional Rogojampi juga terintegrasi dengan pelayanan publik untuk mengurus dokumen kependudukan, perizinan dan kebutuhan lainnya.

Dengan kata lain, Pasar Rogojampi merupakan destinasi wisata utama Banyuwangi dan menjadi pusat kegiatan atau 'public space' yang ditujukan bagi area berkegiatan milenial.

Kepala Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Haji Panhari mengatakan, ihwal dibukanya kembali Pasar Rogojampi dengan penerapan aturan kenormalan baru, juga berarti bahwa warga dapat kembali menggerakkan roda ekonomi yang selama ini terkatung akibat pandemi.

"Di masa COVID-19 ini kalau (pasar) ditutup, maka masyarakat kebingungan. Sehingga (pasar) dibuka dengan peraturan atau protokol kesehatan, sehingga semua pelayanan masyarakat tetap jalan pasar tetap jalan," ujar Panhari, Kamis (25/6).

Pada kesempatan yang lain, Doni Monardo juga mencoba langsung fasilitas wisata bersertifikasi sehat dan aman COVID-19 ketika santap siang bersama Bupati Azwar Anas di Sanggar Genjah Arum.

Keduanya menikmati suguhan kuliner khas Banyuwangi sambil bercengkerama berhadap-berhadapan dibatasi sekat mika transparan yang telah disesuaikan guna mencegah adanya paparan droplets yang keluar dari mulut dan hidung.

Usai santap siang, Bupati Azwar Anas kemudian mengajak Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo untuk menikmati pesona Agrowisata Taman Suruh Banyuwangi. Jaraknya hanya 15 menit menggunakan mobil dari Sanggar Genjah Arum.

Agrowisata dengan luas 10 hektar tersebut telah menerapkan standar pariwisata normal baru yang dimulai dari fasilitas protokol kesehatan hingga skema pembatasan pengunjung.

Di pintu masuk, petugas melakukan pengecekan suhu tubuh menggunakan thermo gun. Setiap pengunjung wajib melalui pemeriksaan tersebut.

Fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabunnya juga tersedia di pintu masuk, maupun di beberapa titik di area agrowisata.

Jenderal Doni merasakan sendiri kesegaran mata air alami yang dialirkan melalui pipa-pipa untuk kebutuhan kebersihan, pengairan hingga perikanan di satu kawasan.

Selain itu, pihak pengelola agrowisata juga sepakat membatasi jumlah pengunjung guna menghindari kerumunan massa.

Dengan penerapan protokol yang ketat, siapapun yang berkunjung ke Banyuwangi akan merasa tenang karena sudah mengikuti aturan kesehatan yang ditetapkan.

*Kopai Osing, Sekali Seduh Kita Bersaudara*

Mengulik sedikit mengenai Sanggar Genjah Arum, nama sanggar "Genjah Arum" berasal dari varietas padi yang banyak ditanam di Banyuwangi. Hingga saat ini genjah arum masih ditanam secara organik.

Sanggar yang mempertahankan nuansa asli Suku Osing Banyuwangi itu memang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang terletak di Desa Adat Kemiren, rumah bagi para pegiat seni budaya serta penikmat kopi.

Dari sanggar milik Setiawan Subekti, atau yang akrab dipanggil Iwan, para wisatawan dapat belajar tentang budaya Suku Osing sembari menikmati suguhan kuliner khas Kopai Osing.

Pak Iwan yang juga seorang 'Q Grader' atau pencicip kopi profesional kelas dunia berhasil mengangkat dan melestarikan budaya Suku Osing beserta kopinya.

Kopai atau kopi dalam dialek Suku Osing adalah rutinitas sehari-hari. Banyak kalangan artis hingga pejabat tinggi pemerintah yang sudah membuktikan sendiri kualitas kopi terbaik Banyuwangi yang ditanam pada ketinggian 1000 mdpl itu.

Jenderal Doni Monardo sendiri sudah beberapa kali singgah. Terakhir kali adalah pada tanggal 12 Agustus 2019 lalu, sebelum melepas bendera pataka Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami 2019 di Pantai Boom, Banyuwangi.

Dari tangan tester kopi kelas dunia Pak Iwan, kopi Banyuwangi turut melambung tinggi hingga ke luar negeri. Rupanya, sifat sederhana kopi yang hitam dan pahit menjadikan Kopi Banyuwangi memiliki identitasnya sendiri. Bagi Pak Iwan, "Sekali Seduh Kita Bersaudara!", itu mottonya.

Bicara soal pariwisata bukan lagi hanya mengenai keindahan, kenikmatan ataupun harga yang bersahabat. Pariwisata pada masa pandemi juga harus mengutamakan kepercayaan wisatawan, dengan memperhatikan aspek rasa aman, nyaman dan sehat.

Editor : Sulha Handayani