Netral English Netral Mandarin
01:28wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Wow, Erick Thohir Ungkap Permainan Bisnis Gula RI, Netizen: Hajar Bos Mafia Pangan!

Kamis, 30-September-2021 08:13

Menteri BUMN Erick Thohir
Foto : setkab.go.id
Menteri BUMN Erick Thohir
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernyataan Menteri BUMN yang menyebutkan adanya permainan dalam bisnis gula di Indonesia mendapat sorotan warganet. 

Kamis, 30 September 2021, akun FB Mak Lambe Turah dan sejumlah netizen justru mendesak Erick Thohir segera menanganinya. 

MLT: “Oke lalu aksinya  pak??”

Pamuji Crane: “Hajar terus bos mafia pangan indo.....”

Agus Suryobuwono: “Kapan dibenahi pak? Jangan seperti tebak2an doang.”

水跟當火: "Dari dulu juga banyax permainan pak. bukan cuma di gula aja. k0rupsi merajalelatapi yg ketangkep malah yg anak2 kannya bab0n2 e malah lenggang kangkung nyantai."

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan banyak terjadi permainan di industri gula dalam negeri. Ini menjadi salah satu penyebab Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi.

Dia menyebut salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian BUMN adalah dengan mendorong pendirian SugarCo di bawah holding BUMN perkebunan, PT Perkebunan Nusantara (Persero) III/PTPN III.

"Nah hal-hal ini juga akan diikuti nanti dengan focusing kepada SugarCo, gula yang selama ini juga gula kita impor terus yang untuk konsumsi. Bahkan ada permainan di sana sini," kata Erick dalam webinar virtual, Selasa (28/9/2021).

Refocusing bisnis yang dilakukan oleh PTPN juga merupakan bagian dari restrukturisasi bisnis secara menyeluruh, setelah sebelumnya perusahaan ini dijadikan satu di bawah holding tersebut.

Selain pada bisnis gula, kata Erick, bisnis PTPN juga akan difokuskan pada komoditas sawit, terutama dalam kondisi harga yang saat ini sedang tinggi dinilai akan memberikan kontribusi kinerja yang baik bagi perusahaan.

"Refocusing produk kepada sawit salah satunya, dan tentu ini juga harga sawit lagi bagus akhirnya dengan restrukturisasi," imbuhnya.

Adapun SugarCo ini merupakan pemisahan entitas (spin off) bisnis produksi gula milik PTPN dengan membentuk perusahaan baru dengan nama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Perusahaan ini ditargetkan bisa mendapatkan investor dari lini bisnis yang sama di tahun ini dengan nilai investasi mencapai Rp 23 triliun. Saham PTPN di SugarCo 51%, sementara 49% lainnya akan dimiliki oleh investor.

Nantinya SugarCo akan memiliki 35 pabrik gula yang tersebar di Indonesia. Keseluruhan pabrik tersebut akan diperoleh dari 7 PTPN yang memiliki pabrik gula saat ini.

"[Bisnis gula] tujuh PTPN itu kita jadikan satu entitas, jadi namanya SugarCo itu membawahi PG [perusahaan gula]. Jadi dari 40 PG nantinya yang kita kolaborasikan sekitar 35 PG kita akan kolaborasi dengan investor," kata Mohammad Abdul Gani, Direktur Utama PTPN III, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (21/6/2021).

Adapun tujuh lini bisnis gula itu ada di PTPN II, PTPN VII (PT BCAN), PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII (PT IGG), dan PTPN XIV.

Untuk investasi tersebut, perusahaan menargetkan segera mendapatkan penawaran dari investor baru jelang akhir tahun ini, untuk perusahaan produsen gula milik PTPN holding, Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau SugarCo. Rencananya perusahaan akan melepas 49% kepemilikan dari pabrik gula ini.

Saat ini proses uji tuntas atau due diligence sedang berlangsung dengan calon investor. Bersamaan dengan itu proses penghitungan valuasi perusahaan juga tengah berjalan.

"Sedang due diligence, mereka [calon investor] akan segera kirimkan tim. Sebelum bulan 12 sampaikan penawarannya," kata Abdul Ghani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (20/9/2021).

Mengingat PTPN saat ini sedang berada dalam restrukturisasi utang atau kredit, perusahaan juga membutuhkan izin dari kreditor untuk melakukan pelepasan aset ini. Abdul Ghani mengungkapkan, proses izin divestasi dari lender saat ini sedang berlangsung.

PTPN sudah memegang non disclosure agreement (NDA) dari sejumlah calon investor yang akan menanamkan modalnya di perusahaan baru ini.

Masuknya investor baru ini tidak menutup kemungkinan akan bekerjasama dengan Indonesia Investment Authority (INA).

Abdul Ghani menyebutkan kehadiran investor ini dibutuhkan lantaran saat ini perusahaan sudah tidak bisa lagi melakukan investasi dengan pinjaman dana dari perbankan, dalam rangka program restrukturisasi yang sedang dijalankan.

Sedangkan kebutuhan untuk melakukan pembenahan lima pabrik gula dan revitalisasi satu pabrik dibutuhkan dengan dana tak kurang dari Rp 23 triliun.

Menurut perusahaan, saat ini pabrik gula milik PTPN memiliki nilai aset sebesar Rp 17 triliun.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli