3
Netral English Netral Mandarin
22:15 wib
Salah satu pendiri Partai Demokrat (PD), Hencky Luntunngan, menyebut KLB dipastikan akan digelar pada Maret ini. Pemerintah memutuskan mencabut aturan mengenai investasi industri minuman keras yang tercantum dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.
Wow! Ternyata Uang Angpao Imlek yang Beredar Capai Rp1,4 Trililun

Minggu, 14-Februari-2021 12:30

Wow! Ternyata Uang Angpao Imlek yang Beredar Capai Rp1,4 Trililun.
Foto : Tionghoa News
Wow! Ternyata Uang Angpao Imlek yang Beredar Capai Rp1,4 Trililun.
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek identik dengan warna merah, kue keranjang, barongsai, dan angpao. Terkait angpao, ada banyak fakta dan cerita menariknya.

Amplop merah ini selalu menjadi topik hangat bagi masyarakat etnis Tionghoa di perayaan Imlek. Angpao selalu dianggap sebagai salah satu bentuk “hadiah” yang terbaik untuk keluarga dan kerabat terdekat ketika ulang tahun, pernikahan, dan perayaan lain yang membawa kebahagiaan.

Tidak cuma anak kecil, angpao juga selalu dinantikan oleh remaja dan orang dewasa di hari-hari spesial. Wajar, memang tidak ada hadiah yang lebih baik dan lebih menyenangkan daripada uang cash, bukan?

Bicara tentang angpao, paling seru pastinya membahas angpao di Hari Raya Imlek. Dalam satu hari saja, bisa triliunan rupiah uang berpindah tangan dalam bentuk amplop merah ini. Benarkah sebanyak itu?

Dalam siaran persnya, Sabtu, (13/2/2021), Lifepal menjelaskan sebagai berikut:

Mari membuat hitung-hitungan sederhana. Menurut data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS), ada 2,83 juta jiwa warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Jumlah tersebut adalah 1,2?ri total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 236,73 juta jiwa per tahun 2010.

Sayangnya, kita belum bisa menggunakan data terbaru dari Sensus Penduduk tahun 2020 lantaran BPS belum menyampaikan data dengan kategori suku atau etnis. Maka, jika kita berasumsi bahwa rata-rata satu keluarga Tionghoa beranggotakan empat orang, maka ada 707.500 keluarga Tionghoa di Indonesia.

Jika rata-rata anggaran angpao tiap keluarga adalah sebesar dua juta Rupiah, maka ada Rp 1,4 triliun uang angpao setiap tahunnya berpindah tangan di hari Imlek. Ingat kembali bahwa jumlah tersebut adalah perhitungan dengan variabel jumlah penduduk Tionghoa per tahun 2010. Kini, sudah tentu angkanya lebih besar, karena sudah terpaut 10 tahun lebih.

Sekarang kita bahas dulu tradisi yang sudah ada sejak zaman Dinasti Ming dan Qing di negeri bambu tersebut. Tentunya, generasi pertama dari etnis Tionghoa di Indonesia yang membawa tradisi ini dari negeri mereka.

Siapa yang wajib memberi angpao?Seperti tradisi yang dibentuk oleh kelompok sosial manapun, memberikan angpao juga ada aturannya sendiri. Aturan ini, tentunya dipengaruhi sejarah dan kepercayaan kuno yang tidak seluruhnya sesuai dengan pemikiran modern saat ini. Beberapa kelompok kadang juga sudah memodifikasi aturan sendiri.

Yang jelas, orang dewasa wajib membagikan angpao. Artinya jika seseorang sudah menikah atau sudah beberapa tahun di atas usia menikah umumnya, dia wajib memberikan angpao di hari Imlek kepada orang tua dan sanak keluarga yang belum menikah.

Besaran angpao tentunya berbeda beda tergantung dari tingkat ekonomi dan kesanggupan masing-masing individu. Semakin kaya seseorang, semakin besar angpao yang diberikan karena dipercaya harus lebih banyak berbagi agar terus mendapatkan rezeki.Selain kepada keluarga inti, biasanya tuan rumah juga memberikan angpao kepada anak dari tamu yang berkunjung.

Angpao di mata anak-anakAnak-anak adalah kelompok umur yang mungkin paling bahagia ketika Imlek tiba. Maklum, anak kecil belum sepenuhnya tahu makna kekeluargaan yang lebih besar dari sekedar menerima amplop merah ini. Karena ekonomi negara terus bertumbuh dan tingkat pendapatan setiap keluarga juga meningkat, maka sudah pasti angpao juga bertambah setiap tahunnya.

Tentu saja, tanpa mengesampingkan efek pandemi Covid-19 yang tentu berimbas pula pada pendapatan keluarga warga Tionghoa di Indonesia. Jumlah tetangga dan sanak keluarga yang cenderung bertambah setiap tahunnya berpotensi pula menambah jumlah angpao yang didapat. Sebelum pandemi, semakin banyak rumah tetangga dan kerabat yang sanggup dikunjungi ketika Imlek, semakin banyak pula angpao yang didapat.

Di masa pandemi seperti ini, tatap muka secara fisik pasti jauh berkurang. Tapi bukan berarti tradisi memberikan angpao lantas terhambat. Warga masih bisa berkirim “angpao virtual” via transfer online tentunya.

Walaupun diberikan kepada anak kecil, tapi biasanya setelah dibuka, uang angpao pasti dititipkan ke orang tua. Bahkan untuk anak bayi, angpao sudah pasti menjadi milik orang tua. Makanya, biasanya orang tua juga bersemangat membawa anaknya untuk berkunjung ke banyak rumah keluarga dan tetangga.

Positifnya, tradisi ini secara tidak langsung menjadi mekanisme sosial yang sangat efektif untuk menjaga silaturahmi. Tentunya, mencari angpao bukan tujuan utama. Pada akhirnya semua orang memberi dan mendapatkan angpao dari anak-anaknya. Selain itu tidak semua orang diberikan angpao jika dirasa tamu yang berkunjung tidak memiliki hubungan yang terlalu akrab dengan tuan rumah.

Reporter :
Editor : Sulha Handayani