Netral English Netral Mandarin
23:14wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Wow! Ustaz Waloni Makin Ngetrend, Ramai Digunjingkan di Mancanegara, Netizen: Buat Apa Pindah Agama kalo Jadi Jelek?

Selasa, 27-April-2021 12:10

Ustaz Yahya Waloni
Foto : Istimewa
Ustaz Yahya Waloni
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sosok Ustaz Yahya Waloni dikabarkan masuk dalam pemberitaan di luar negeri di antaranya di media World of Buzz. Akibatnya, nama Yahya Waloni menjadi makin tenar dan ngetrend. 

Hal ini dipicu oleh pernyataannya tentang seputar penyebab seseorang menjadi murtad  yang  juga viral di sosial media.

Di akun FB Mak Lambe Turah, Selasa 27 April 2021, sejumlah netizen ikut mengomentari  pro dan kontra. Bahkan netizen ada yang mengungkit dan mempermasalahkan pindah agama, apa gunanya jika malah menjadi tidak baik?

MLT: “Yang kaya gini ko masuk bahasan internesyenel gimanasih. Moga2 aja ga masuk 9gag, kasihan nama mie instan yang disebut. Soalnya Mak makan mie instan merek apapun dari jaman jebat sampe skr ga ada yg berubah keyakinan.”

Eva: “Biarin aja dia mau bilang apa. Yg jelas rata2 yg pindah agama dr Islam ke agama lain kelakuan dan tutur kata jd lbh baik, Tdk nebar benci, tdk jelek2in agama lamanya.. Artinya agama barunga membuat dia jd pribadi yg lbh baik.. Klo yg mualaf byk yg jd pembenci, tkg hina dan jelek2ian agama lamanya, jd agama barunya blmmampu membuat dia jd lbh baik.. Jd ngapain pindah agama..?? klo jd jelek..”

Cakra Solo: “Ia yg menghina agama orang lain sebenarnya menghinakan agamanya sendiri,utk apa beragama kalau tdk bisa menghargai agama lain?!”

Jhon Tamp: “Masih bebas???”

Sebelumnya diberitakan, salah seorang pendakwah Islam Indonesia melontarkan klaim kontroversial pada Kamis, 22 April 2021 kemarin. Pasalnya, ia membahas mengenai perbedaan orang yang masuk Islam dan orang yang keluar dari Islam.      

Dalam kanal YouTube Termometer Islam berjudul "Saifudin Ibrahim vs Ust Yahya Waloni | Muhtadin vs Murtadin", Yahya mengatakan banyak orang murtad (keluar Islam) biasanya terkena pengaruh sebungkus mi instan.

Tak hanya mengklaim soal mi instan, Yahya Waloni juga mengatakan orang yang keluar dari islam bisa juga disebabkan tergoda seliter beras. Ceramah Yahya Maloni pun menjadi perbincangan. 

Bahkan diberitakan beberapa media di luar negeri di antaranya media World of Buzz yang menyebut bahwa Waloni menilai orang biasanya berasal dari kaum intelektual.

Sementara orang-orang yang keluar Islam atau murtad justru sebaliknya.  

"Orang yang murtad dari Islam itu biasanya cuma karena pengaruh mi instan satu bungkus dan beras satu liter," ujar Yahya Waloni, dikutip dari World of Buzz, Senin 26 April 2021.

"Tapi orang yang dari kafir yang masuk Islam, kebanyakan mereka adalah kaum intelektual, kaum jenius, pemikir-pemikir ulung," lanjutnya.      

Pernyataan ini Yahya Waloni ungkapkan saat menceritakan awal mula ia memeluk agama Islam. Ia mengaku mendapat hidayah dari seorang muslim tanpa diberi petunjung oleh orang Islam.

Setelah mengatakan itu, Yahya Waloni tiba-tiba membandingkan orang yang masuk dan keluar dari Islam. Ia bahkan memuji orang-orang yang masuk Islam mampu menerjemahkan ilmu dan kompetensi ke dalam teks Alquran.      

Dalam kesempatan tersebut, Yahya Waloni juga buka-bukaan mengaku tidak suka dipanggil seorang mualaf. Apalagi, ia merasa panggilannya masuk ke Islam bukan karena bujukan dari orang-orang muslim.

"Di masjid-masjid, saya nggak suka dipanggil Mualaf karena mualaf di Indonesia ini kebanyakan bukan mualaf (tapi) kualat," tegas Yahya Waloni. "Biasanya orang masuk Islam karena mau nikah, masuk Islam karena ikut-ikutan."

"Tetangganya Islam, dia ikut jadi Islam. Tetangganya Kristen, dia masuk Kristen. Tetangganya Buddha, dia ikut Buddha. Tetangganya Hindu, ikut Hindu. Itu namanya Bunglon," tandasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati