Netral English Netral Mandarin
19:00 wib
Sony Pictures mengumumkan tunda perilisan film baru mereka. Film Cinderella yang sedianya dijadwalkan rilis pada 5 Februari 2021 diundur ke 16 Juli 2021. Film Ghostbusters: Afterlife juga diundur. Kementerian Kesehatan menegaskan, hampir tak mungkin seseorang yang divaksin Sinovac terinfeksi virus corona karena vaksin. Sebab, vaksin tersebut berisi virus mati.
Pak Jokowi, jika Ganti Menteri Dengarkan Suara Rendi

Selasa, 22-December-2020 07:52

Birgaldo Sinaga berharap Jokowi, jika Ganti Menteri Dengarkan Suara Rendi
Foto : Istimewa
Birgaldo Sinaga berharap Jokowi, jika Ganti Menteri Dengarkan Suara Rendi
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Salah satu kejahatan kemanusiaan yang paling sadis adalah korupsi. Saking sadisnya penyakit korupsi ini bisa membuat sebuah negara hancur berkeping-keping. Negara bisa bubar karena rakus dan tamaknya para koruptor melahap uang rakyat.   

Sejarah peradaban manusia menceritakan dengan gamblang bagaimana negara yang makmur menjadi bangkrut. Akhirnya muncul pemberontakan rakyat atas pemerintahan korup dan zalim.

Tidak usah jauh-jauh, rezim Soeharto yang rohnya sekarang sedang dibangkitkan oleh penikmat masa lalu menjadi catatan kelam perjalanan bangsa.



Pada 1998, negara di ambang kebangkrutan karena KKN begitu kronis merasuk ke dalam semua sendi penyelenggara negara. Mereka melahap habis kekayaan negara.

Negara berhutang ke luar negeri lalu uang utangan itu dibancakin rame-rame. Keuangan negara tekor. Tapi uang konglomerat berjubel-jubel gedenya dilarikan ke luar negeri. Ribuan trilyun.

Lalu negara buat utang baru lagi. Berapa ribu jiwa melayang akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998?

Semua berpangkal dari korupsi.

Mirip kayak proyek bansos pandemi Covid-19 yang disunat  jumlah bantuannya oleh Mensos Juliari Batubara.

Atau juga bagi-bagi jatah ekspor benur lobster oleh Menteri KKP Edhy Prabowo.

Atau pada jaman SBY proyek mangkrak Hambalang, EKTP, proyek fiktif lainnya.

Negara dibancaki oleh penguasa,  penguasa dan politisi  bercumbu mesra dengan pengusaha rente.

Mereka melahap apa saja. Begitu rakus dan tamak. Tidak puas kalo di kantongnya hanya berisi duit miliaran rupiah. Kalo bisa triliunan rupiah. Bisa buat anak cucu tujuh turunan.

Penyakit korupsi seperti tak habis-habisnya. Buah reformasi bukannya mereform tatanan berbangsa dan bernegara agar lebih berkeadilan sosial lagi. Yang tampak malah korupsinya gila-gilaan.

Tak ada lagi rasa malu. Kalo dulu di bawah meja, kini malah mereka berdiri di atas meja. Si koruptor yang tertangkap malah makin bangga senyam-senyum cengengesan masuk TV. Malah dielu-elukan pendukungnya. Gila bukan?

Saya sering melihat di depanku ada orang yang bekerja seharian dari pagi sampai sore hanya mendapat 20 ribu rupiah.

Bukan saja di Jakarta, di Papua seorang ibu Jenny dengan gadis kecilnya berjualan hasil kebunnya di emperan sampai larut malam. Hanya mencari uang 30 ribu rupiah.

Pada Maret 2017,  saat aksi sidang Ahok di depan Kantor Kementan Ragunan, seorang anak remaja, laki-laki muda tanpa alas kaki berjalan di atas aspal yang panas.

Ia menggendong karung goni gede di punggungnya. Ia memakai kaos oblong kuning kumal padu celana hitam dekil sepaha.

Matahari begitu terik membakar kulit. Ia keliling mencari botol bekas minuman kemasan relawan yang banyak tercecer di sana.

"Dik..dik..kemari," panggilku kencang sambil melambaikan tangan.

Ia mendekat. Ia melangkah lalu menghampiriku. Ia tersenyum.

"Sudah makan?" tanyaku.

Ia mengangguk sambil senyum.

"Sudah om," ujarnya pelan.

"Benar nih....pasti belum makan ya," balasku.

Ia tersenyum saja.

Saya mengajaknya duduk mojok di pinggir jalan pembatas jalur busway. Saya memesan popmie dan air mineral. Saya tahu orang seperti dirinya pasti selalu menjawab sudah makan kalo ditawari. Mereka tidak mau dikasihani. Lebih baik lapar dari pada minta-minta.

Nama pemulung remaja itu Rendi. Umurnya 19 tahun. Ia sudah tiga tahun di Jakarta. Ayahnya mengajaknya dari Indramayu. Di kampungnya tidak ada yang bisa dikerjakan.

Mereka buruh tani miskin. Tidak punya lahan. Rendi hanya tamat SD. Ia punya adik yang tinggal di Indramayu, berumur 17 tahun.

Adiknya hanya sekolah sampai kelas dua SMP.

Ayahnya sekarang di kampung menemani ibunya yang sakit. Rendi sebatang kara tinggal di Jakarta. Ia tinggal di Kebagusan.

Sejak pukul 6 pagi, Rendi sudah keluar gubuk merangkap gudang barang rongsokan hasil pencariannya. Ia keliling sepanjang jalan mengitari ibukota. Matanya jeli melihat sampah. Botol plastik, logam atau kardus adalah barang berharga buatnya. Bisa jadi duit.

Saya melongok isi goni Rendi. Masih sepertiga berisi. Tampak botol bekas air kemasan. Plastik bungkusan.

"Berapa nilai barang ini kalo kamu jual?" tanyaku.

"Paling lima ribu om," jawabnya sambil mengunyah pop mie yang masih panas.

"Ya Tuhan..., lima ribu dari pagi jam enam sampe jam dua siang??? Oh my God?" batinku.

Saya terdiam. Menghisap rokok dalam-dalam. Saya biarkan Rendi menikmati popmie itu. Saya teringat dengan masa kecilku. Saat aku turun kejalanan demi membantu mamakku.

Saya berhenti memulung ketika SMP. Rendi malah sampai menjelang dua puluh tahun terus memulung. Tidak sekolah. Berarti sampai tua akan memulung seperti Kakek Ari.

Ia hanya mendapat uang 15 ribu seharian berjalan dari tong sampah ke tong sampah berikutnya sepanjang jalan yang bisa ia tempuh tanpa alas kaki.

"Kenapa gak pake sandal," tanyaku.

"Putus om sandal jepitnya," jawabnya singkat.

Sandalnya sudah putus sejak dua minggu lalu. Ia mencoba menyambungnya pake tali. Tapi sudah terlalu tua dan lusuh sandal jepitnya. Tak bisa dipakai lagi.

Ia tak punya uang untuk membeli sandal jepit. Ujungnya Ia kaki ayam memulung. Jadi terbiasa dengan panas terik dan tajamnya batu kerikil.

Saya memandangi wajah remaja polos ini. Wajahnya imut. Kalo ngomong lembut sambil tersenyum. Tak ada gurat marah dan kecewa atas kegetiran hidup tampak diwajahnya.

Padahal sejatinya dia berhak meludahi maling bedebah koruptor itu. Meludahi wajah-wajah tak berperikemanusiaan itu yang menyunat bantuan sosial itu. Merekalah penyebab kemiskinan. Merampas masa depan anak-anak seperti Rendi.

"Kamu punya berapa baju," tanyaku seusai Ia menyantap habis popmie.

"Ada 4 om," balasnya sambil tersenyum.

Wajahnya memang murah senyum. Asal ditanya pasti dijawabnya dengan senyum. Seharian kerja cuma dapat goceng masih bisa senyum. Ini orang apa malaikat ya?.

Rendi berkulit putih. Debu atau daki menempel tebal dibalik kulit putihnya. Celananya kumal. Baju oblong kuningnya sudah lusuh.

"Kamu punya berapa celana dalam," tanyaku.

Ia senyum. Lalu diam sekejab.

"Lho ditanya malah senyum," kejarku.

Saya  menanyakan ini karena biasanya mereka kurang peduli dengan dalaman.

"Ada dua Om," ucapnya polos.

"Wew.. cuma dua. Berarti cuci kering ya. Atau jangan-jangan kamu pake bolak-balik, side A hari ini, besok side B," ledekku sambil ketawa.

Ia tertawa lebar. Nampak sebaris giginya yang tidak rapat. Tebakanku tidak meleset. Ia bahkan sering berganti celana dalam tiga hari sekali.

Kemiskinan membuat martabat kemanusiaan jatuh ke titik terendah. Makan nasi dua kali sehari itu sudah sukur. Bisa punya celana dalam tiga potong itu kemewahan. Bisa mandi pake shampo itu luar biasa wah.

Punya sandal jepit itu alhamdulilah. Bisa makan popmie itu rasanya kayak makan di restoran bintang lima.

Jauh sebelumnya, saya mengalami apa yang dialami Rendi. Kemiskinan benar-benar menyakitkan. Menyedihkan. Membuat orang yang tidak tahan bisa gila. Bunuh diri.

Di penghujung pertemuan kami, aku meminta nomor telepon Rendi. Sayangnya Ia tidak punya. Aku menulis nomor teleponku di secarik kertas.

"Hubungi saya kalo kamu butuh sesuatu ya," ujarku sambil memberi sedikit rezeki  ke tangannya.

"Buat beli celana dalam sama sandal ya," ujarku sambil menepuk pundaknya.

"Terimakasih banyak ya Om," balasnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menyimpan uang itu di balik kaos oblongnya dengan cara mengikat pake karet gelang. Lalu kami berpisah.

Rendi melanjutkan perjalanannya menyusuri jalanan tanpa alas kaki demi mengumpulkan sampah yang bisa membuatnya bertahan hidup.

Lamat-lamat saat saya melanjutkan orasi di atas mobil komando, saya berpikir keras, bagaimana saya bisa menyelamatkan masa depannya. Dia masih muda.

Dia anak muda yang tergilas kegilaan manusia rakus serakah para pejabat tinggi megara. Para politisi yang dibayar mahal untuk memikirkan nasib anak bangsa itu malah tidak peduli pada orang-orang seperti Rendi,  Ibu Jenny dan Kakek Ari

Saya mendengar Pak Presiden Jokowi akan melakukan reshuffle kabinetnya. Akan banyak menteri diganti.

Saya ingin menyuarakan suara orang seperti Rendi kepada Pak Jokowi.

Carilah menteri yang tulus jujur untuk mengabdi. Kalo bisa buat tanda tangan cap darah rela dihukum mati kalo korupsi.

Saya kira orang-orang seperti Rendi akan tertolong nasibnya jika kabinet berisi orang-orang yang jujur dan berintegritas.

Semoga Pak Presiden mendengar suara kami.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto