Netral English Netral Mandarin
21:26wib
Tersangka kasus dugaan penistaan agama, Yahya Waloni menyampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya kalangan Nasrani. Para peneliti menemukan sebuah parasit malaria yang kebal obat di Uganda.
Harga Minyak Naik Lagi pada Akhir Perdagangan, Ini Penyebabnya

Jumat, 18-December-2020 07:00

Ilustrasi Kilang Minyak
Foto : Istimewa
Ilustrasi Kilang Minyak
21

NEW YORK, NETRALNEWS.COM - Harga minyak naik lagi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat 18/12/2020 pagi WIB), dan menyentuh level tertinggi sembilan bulan, ketika para pedagang optimistis tentang kemajuan menuju kesepakatan stimulus fiskal AS dan permintaan pengilangan yang memecahkan rekor di China dan India.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 42 sen menjadi ditutup pada 51,50 dolar AS per barel dan menyentuh tertinggi sesi 51,90 dolar AS. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari bertambah 54 sen menjadi menetap di 48,36 dolar AS per barel,dengan tertinggi sesi 48,59 dolar AS.

Kedua acuan minyak mentah mencapai level tertinggi sejak awal Maret.

Anggota parlemen AS mendekati kesepakatan tentang paket pengeluaran bantuan virus corona senilai 900 miliar dolar AS pada Rabu (16/12/2020).

Dolar AS menetapkan level terendah 2,5 tahun terhadap mata uang utama lainnya pada Kamis (17/12/2020). Karena minyak mentah dihargai dalam greenback, ini membuat harga minyak lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

"Asia berada di depan kurva dalam mode pemulihan dari virus corona," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures di Chicago. “Melihat apa yang kami lihat di Asia meningkatkan ekspektasi bahwa di Tahun Baru kami akan melihat peningkatan yang cepat dalam permintaan minyak mentah, saat vaksin diluncurkan di AS,” katanya.

Amerika Serikat pada Kamis (17/12/2020) memperluas kampanyenya untuk memberikan suntikan vaksin COVID-19.

Persediaan minyak mentah AS turun 3,1 juta barel dalam sepekan hingga 11 Desember, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan, jauh lebih banyak dari ekspektasi para analis untuk penurunan 1,9 juta barel.

“Tampaknya ini menjadi musim perayaan yang jauh lebih baik daripada bullish yang diharapkan oleh kebanyakan pedagang. Tapi apakah harga minyak bisa tetap tinggi dan mempertahankan kenaikan ini masih dipertanyakan di tengah kerusakan permintaan yang disebabkan lockdown,” kata Bjornar Tonhaugen dari Rystad Energy.

 

Reporter : Sesmawati
Editor : Sesmawati