Netral English Netral Mandarin
09:05 wib
Indonesia menempatkan tiga wakilnya pada babak perempat final Toyota Thailand Open 2021 yang akan berlangsung di Impact Arena, Bangkok, Jumat (22/1). Pemerintah resmi memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama dua pekan mulai 25 Januari hingga 8 Februari 2021.
Kasus Polri Vs FPI, Legislator PKS: Harus Bentuk Tim Pencari Fakta Yang Independen

Selasa, 08-December-2020 23:24

  Anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun (kanan) bersama Kapolri Jenderal Pol Idham Azis
Foto : Portal Islam
Anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun (kanan) bersama Kapolri Jenderal Pol Idham Azis
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun meminta semua pihak untuk mengedepankan hukum dalam melihat tragedi penembakan yang terjadi antara Laskar Front Pembela Islam (FPI) dan pihak kepolisian pada Senin (7/12/2020). 

Adang mencermati kasus yang berkembang secara faktual ada perbedaan informasi antara apa yang diungkapkan pihak kepolisian dengan FPI terkait insiden yang menewaskan enam laskar FPI itu. 

Situasi tersebut, lanjut Adang, harus ditempatkan secara proporsional dan Imparsial, agar tidak terjebak pada sengketa informasi yang menyesatkan hingga pada akhirnya dapat menyebabkan situasi yang lebih buruk. 



“Adanya perbedaan penjelasan dari polda maupun FPI terkait kasus yang sebenarnya maka diperlukan suatu pembentukan tim untuk meminta penjelasan dari Kapolri tentang kasus tersebut, jika masih ada kesimpangsiuran maka harus dibentuk tim pencari fakta yang independen,” ujar Adang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (8/12/2020). 

Politisi PKS ini menyadari para penegak hukum harus konsisten dan bersikap tegas terhadap segala bentuk tindakan yang membahayakan orang lain. "Namun demikian dalam proses penegakan hukum harus memperhatikan ketentuan dan prosedur penggunaan senjata yang telah ditetapkan," pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, enam laskar FPI yang mengawal Habib Rizieq Shihab (HRS) dikabarkan ditembak mati oleh polisi di Tol Jakarta-Cikampek Km 50 pada Senin (7/12/2020) dini hari. Menurut Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, penembakan itu dilakukan anggotanya karena diserang oleh pengikut Habib Rizieq. 

"Terjadi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS (Muhammad Rizieq Shihab) yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB," kata Fadil dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (07/12/2020). 

Fadil membeberkan, kendaraan aparat dipepet dan diberhentikan oleh dua kendaraan pengikut Habib Rizieq. 
Para pengikut HRS yang berjumlah 10 orang melakukan penyerangan dengan menodongkan senjata api (senpi) dan senjata tajam (sajam). 

"Karena membahayakan keselamatan jiwa petugas pada saat itu, kemudian petugas melakukan tindakan tegas dan terukur yang mengakibatkan enam orang penyerang meninggal dunia dan empat orang lainnya melarikan diri," jelasnya. 

Pernyataan Kapolda Metro Jaya dibantah oleh Sekretaris Umum FPI Munarman. Ia menyebut enam laskar FPI dibantai di suatu tempat, bukan di Tol Jakarta-Cikampek Km 50. 

Pasalnya, Munarman mengatakan, setelah mendapat kabar bahwa ada laskar FPI yang ditembak, ia langsung memerintahkan laskar lainnya untuk melakukan pengecekan di tempat kejadian perkara (TKP). Namun, lanjut Munarman, di TKP tidak ada jenazah, proses evakuasi dan keramaian. 

"Di tengah malam itu saya suruh cek begitu saya dengar ada berita ada laskar yang ditembak, kita suruh cek ke pintu tol Karawang Timur, ternyata tidak ada mobil laskar di situ, jenazah tidak ada. Kalau itu memang tembak menembak dan tewas di tempat pasti ada jenazah di situ, pasti membutuhkan proses lama untuk evakuasi di situ . Tapi ini tidak ada," kata Munarman dalam jumpa pers, Selasa (7/12/2020).

"Kalau sejak awal tembak menembak berarti tewas di tempat dong. Tewas ditempat pasti banyak (orang). Semalam saya sendiri sampai pukul 03.00 WIB sudah cek dengan teman-teman di lapangan, tidak ada jenazah di situ," tandasnya. 

Munarman mengungkapkan, ada salah satu dari 6 laskar FPI yang disebut ditembak itu sempat mengirimkan rekaman suara atau voice note saat sedang merintih kesakitan. Namun setelah itu nomor ponsel yang bersangkutan sudah tidak aktif lagi. Karenanya, Munarman berkesimpulan jika laskar FPI dibawa ke suatu tempat dan dibantai. 

"Perlu diketahui, sempat salah satu laskar mengirimkan voice note rintihan dari salah satu laskar kita yang ditembak, itu artinya apa? Itu artinya laskar kita dibawa ke satu tempat dan dibantai di tempat itu, dibantai di tempat lain, kemudian setelah voice note terkirimkan, tidak ada lagi hp dari laskar 6 orang itu yang aktif kita hubungi," jelasnya.

Selain itu, Munarman juga membantah pernyataan polisi bahwa penembakan yang menewaskan enam laskar FPI itu terjadi karena aparat lebih dulu diserang oleh para laskar dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam. 

"Ini fitnah luar biasa, memutarbalikkan fakta dengan menyebutkan bahwa laskar yang lebih dulu menyerang dan melakukan penembakan," ucap Munarman. 

"Fitnah besar kalau laskar kita disebut membawa senjata api dan tembak menembak. Fitnah itu. Laskar kami tidak pernah dibekali senjata api, kami terbiasa tangan kosong, kami bukan pengecut," tegasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati