Netral English Netral Mandarin
00:18 wib
Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri akan digelar pada Rabu (20/1/2021). Polda Metro Jaya menjadwalkan pada Rabu (20/1/2021) gelar perkara terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara ulang tahun Ricardo Gelael yang dihadiri Raffi Ahmad.
Sebut Kedubes Jerman Kunjungi FPI Lecehkan Kita, EK: Kenapa Menhan Gak Pernah...

Selasa, 22-December-2020 06:45

Kedubes Jerman Kunjungi FPI, Eko Kuntadhi pertanyakan kenapa Menhan tak pernah memberikan komentarnuya.
Foto : Istimewa
Kedubes Jerman Kunjungi FPI, Eko Kuntadhi pertanyakan kenapa Menhan tak pernah memberikan komentarnuya.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kunjungan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman untuk Indonesia ke markas FPI menjadi sorotan. Sebab, kunjungan itu dipandang sangat politis.

Pegiat media sosial Eko Kuntadhi, Selasa (22/12/20) membuat catatan khusus di akun FB-nya, menanggapi peristiwa tersebut, katanya: ""... bagi kita, itu sangat melecehkan."

"Jika FPI bersorak gembira karena merasa disupport staf kedutaan besar asing, karena memang mereka sebetulnya gak peduli dengan Indonesia. Mereka senang saja ketika kepentingan asing mengobok-obok negeri ini. Mereka menyangka sedang membela agama. Padahal mereka hanyalah menjual bangsanya secara murah," lanjut Eko.



"Kita perlu lebih hati-hati dengan fenomena ini. Saat Jerman terang-terangan memasuki persoalan dalam negeri kita," kata Eko.

"Saya yakin, kedatangan staf kedubes Jerman itu bukan bermaksud diam-diam. Itu memang disengaja agar publik tahu. Seperti sebuah pesan pada pemerintah kita bahwa jika agenda dan kepentingan mereka gak didengar, mereka bisa berbuat apapun untuk mengoyak-ngoyak Indonesia.Itulah yang kita hadapi sekarang," lanjutnya.

"Tapi yang kita herankan, kenapa sampai sekarang Menhan Prabowo gak pernah berkomentar ya?" tanya Eko.

Berikut catatan lengkap Eko Kuntadhi:

PESAN JERMAN SECARA TERANG-TERANGAN

Sebuah foto, wanita bule memasuki kantor FPI. Ia turun dari mobil berplat nomor kedutaan besar Jerman. Kita tahu akhirnya, ia adalah seorang staf kedutaan.

Entah apa tujuannya memasuki kantor ormas yang dikategorikan teroris lokal itu.Di Indonesia saat ini FPI sedang menjadi incaran kepolisian. Tokoh-tokohnya dicokok karena pelanggaran hukum terang-terangan.

Munarman, pentolan FPI seperti bersorak gembira dengan kehadiran staf kedutaan asing itu. Ia senang, apabila pihak asing mendukung aksi mereka.

Ia senang jika negaranya diobok-obok kepentingan negeri lain.

Kedutaan Jerman sendiri buru-buru memgklarifikasi kedatangan stafnya ke markas FPI. Mereka berdalih, staf itu datang atas inisiatof peibadinya bermaksud menanyakan jadwal demo.Oala, nanya jadwal demo.

Emangnya mereka minta jatah nasi bungkus juga?Alasan mengada-ada itu saja bikin kita mual. Sebuah kedutaan asing, memasuki isu dalam negeri, pasti bukan menunjukan etika hubungan internasional yang baik.

Itu menunjukan kepongahannya Jerman sok, memgatur-atur negeri ini.Kita tidak tahu cerita sebenarnya di balik aksi staf Kedubes Jerman itu.

Kita hanya tahu, bahwa persoalan kekerasa atas nama agama memang sering menjadi senjata negara-negara AS dan Eropa untuk menekan negeri yang diincarnya.

Syuriah jadi pelajaran. Saat gerombolan kekerasan melanda negeri itu, para teroris punya hubungan dengan negara di luar.Perancis membiayai sekelompok teroris di Syuriah. Turki dan Saudi juga ikut mendukung kelompok yang lain.

AS, Israel dan Jerman juga ikut cawe-cawe. Mereka menjadikan Syuriah ladang pembantaian dengan mensupport habis-habisan para pengacau.Masalahnya hanya satu.

Kepentingan mereka atas jalur pipa gas, yang akan menentukan masa depan energi di Eropa. Kebetulan PresidenSyuriah Basar Asaad lebih buka membuka dirinya dengan Rusia, ketimbang melayani kepentingan Eropa, yang seringkali serakah dan curang.

Jadi negeri Eropa marah saat Asaad punyan keenderungan berdekatan dengan Iran dan Rusia. Kalau mereka membangun jalur pipa gas ke Rusia, Eropa akan kerepotan.

Maka Eropa menekan Syuriah dengan membiayai para teroris.Iran dan Rusia juga berkepentingan. Mereka akhirnya juga turun gunung memerangi begundal teroris yang dibayai Eropa, Saudi, Turki, Qatar  dan AS. Jadinya Syuriah lokasi perang proxi.

Semua kepentingan dunia melebur di sana. Adu keuatan.Sebetulnya sama seperti Indonesia. Kebijakan Presiden Jokowi untuk melarang ekspor nikel mentah, membuat Eropa marah. Kita tahu, nikel adalah amsa depan energi dunia.

Saat dunia otomotif beralih dari bensin ke listrik, semua butuh nikel sebagai bahan dasar baterai.Jika Eropa tidak bisa memperoleh nikel, industri otomotif mereka akan bergantung kepada Indonesia.

Itulah yang mereka gak mau.Jepang sebetulnya juga degdegan dengan larangan ekspor nikel mentah itu. AS juga.

Pokoknya semua negara yang punya industri otomotif menekan Indonesia agar mau menjual nikelnya mentah-mentah.Masalahnya kalau kita menjual nikel mentah, pendapatan kita cuma secuil.

Mereka yang akan diuntungkan dengan menjual mobil listrik. Sama sana kita menjual pisang, lalu mereka menjual kripik pisang pada Indonesia dengan harga jauh lebih mahal.

Akan lain soalnya jika kita membangun industri baterai disini. Nikel diolah dulu. Soal mereka mau membeli baterai kita, ya silakan.

Yang penting harganya masuk.Tapi itulah kapitalisme dunia. Mereka mau dapat bahan baku murah, lalu diproses, untuk dijual sebagai barang jadi dengan harga berkali lipat.

Kalau kita menolak permintaan itu, ancaman mereka sama: obok-obok negerinya.Kekuatan untuk mengobok-obok, ya gunakan gerombolan berjubah agama untuk beraksi. Dukung mereka.

Beri bantuan dan amunisi. Sampai pemerintah menyarah lalu menyerahkan sumber daya alam kepada mereka secara murah.Indonesia punya pengalaman buruk.

Dulu Presiren Soekarno juga menolak kepentingan Eripa dan AS, terhadap sumber alam kita. Selain perang ideologi saat itu juga masih berkobar. Akhirnya Soekarno jatuh

.Sumber alam kita dibagi-bagi seperti bancakan. AS berpesta. Eropa menari. Dan Indonesia hanya ditinggal kerak gak bersisa.Kita tidak tahu apa tujuan seorang staf kedutaan Jerman ke markas FPI sesungguhnya.

Yang kita tahu, apapun alasannya, mereka telah melewati garis demarkasi hubungan internasional secara terang-terangan.Dan bagi kita, itu sangat melecehkan.

Jika FPI bersorak gembira karena merasa disupport staf kedutaan besar asing, karena memang mereka sebetulnya gak peduli dengan Indonesia.Mereka senang saja ketika kepentingan asing mengobok-obok negeri ini.

Mereka menyangka sedang membela agama. Padahal mereka hanyalah menjual bangsanya secara murah.Kita perlu lebih hati-hati dengan fenomena ini.

Saat Jerman terang-terangan memasuki persoalan dalam negeri kita.Saya yakin, kedatangan staf kedubes Jerman itu bukan bermaksud diam-diam. Itu memang disengaja agar publik tahu.

Seperti sebuah pesan pada pemerintah kita bahwa jika agenda dan kepentingan mereka gak didengar, mereka bisa berbuat apapun untuk mengoyak-ngoyak Indonesia.

Itulah yang kita hadapi sekarang.Tapi yang kita herankan, kenapa sampai sekarang Menhan Prabowo gak pernah berkomentar ya?

"Makanya mas, jadi orang jangan diam aja. Nanti dikira Menhan, lho" ujar Abu Kumkum.

Ada agenda Politis?

FPI beberapa waktu lalu mengklaim dikunjungi pihak Kedubes Jerman. Pihak Kedubes Jerman diaku FPI ikut berbelasungkawa atas tewasnya 6 laskarnya yang mengawal Habib Rizieq Shihab.Klaim itu disampaikan Sekretaris Umum FPI Munarman pada Sabtu (19/12) lalu.

Munarman mengatakan, dua orang dari Kedubes Jerman berkunjung ke Sekretariat DPP FPI, Petamburan, Jakarta Pusat pada Kamis (17/12) siang hari.

"Dari Kedutaan Jerman sudah datang ke Sekretariat FPI. Dari pihak Kedubes Jerman menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa atas kejadian dibunuhnya enam syuhada," kata Munarman.

Munarman pun menilai, datangnya pihak Jerman di tengah kasus tewasnya enam anggota FPI itu bakal mengawali perhatian global atas kasus ini. Dia menyebut tewasnya enam anggota FPI itu sebagai pembunuhan di luar hukum.

"Perhatian internasional terhadap kasus extrajudicial killing enam syuhada akan berdampak pada reputasi Indonesia di dunia internasional," ujar Munarman.

Namun, klaim FPI tersebut waktu itu masih sepihak saja. Kementerian Luar Negeri RI pun kemudian melakukan pendalaman atas klaim FPI itu.

Pada Minggu (20/12) sekitar pukul 16.00 WIB sore pihak Kemenlu RI memanggil Kedutaan Besar Jerman untuk Jerman terkait klaim FPI tersebut. Pemanggilan itu dimaksudkan untuk meminta klarifikasi.

"Dirjen Amerop Kemlu atas instruksi Ibu Menlu telah memanggil ke Kemlu Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes Jerman," kata juru bicara Kemlu Teuku Faizasyah melalui pesan singkat.Belakangan,

Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman mengakui ada diplomatnya yang mendatangi markas FPI. Bagaimana penjelasannya?

Dalam keterangan tertulisnya, Kedubes Jerman mengatakan demonstrasi terjadi di sekitar gedung kedutaan sehingga Kedutaan Jerman merasa perlu memastikan kondisi.

Kedutaan pun menjamin tidak ada niat politis apa pun atas kehadiran tersebut."Kedutaan Besar Jerman menyesalkan kesan yang ditimbulkan atas insiden tersebut, baik kepada publik maupun mitra kami di Indonesia.

Kami menjamin tidak ada niat politik apa pun dalam kunjungan tersebut," demikian keterangan tertulis Kedutaan Besar Jerman seperti dikutip CNNIndonesia.com, Minggu (20/12).

Kedubes Jerman mengaku terus menjalin komunikasi dengan otoritas Indonesia. Kedubes Jerman menegaskan selalu berada di sisi pemerintah Indonesia.

"Dan kami yakin bahwa kami akan dapat mengklarifikasi ini dengan cara yang bisa dipahami oleh semua pihak. Kami tetap berada di sisi mitra Indonesia kami," lanjut pernyataan tersebut.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto