Netral English Netral Mandarin
11:17 wib
Sejumlah ahli mengkritik penerapan alat deteksi Covid-19 GeNose karena masih tahap ekperimental. Belum bisa dipakai dalam pelayanan publik khususnya screening Covid-19. Polri menegaskan akan menindaklanjuti kasus rasisme yang dialami mantan komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Diketahui, Pigai menjadi korban rasis yang dilakukan Ambroncius Nababan.
Kerap Buang Air Kecil saat Tidur Malam Hari, Waspada Gangguan Nokturia!

Jumat, 18-December-2020 14:15

Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU) dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD
Foto : Netralnews/Martina Rosa Dwi Lestari
Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU) dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah Anda kerap buang air kecil saat periode tidur di malam hari? Jika ya, waspada Anda alami gangguan kesehatan bernama Nokturia. 

Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU) dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD mengatakan, Nokturia didefinisikan sebagai berapa kali seseorang berkemih (buang air kecil) dalam periode tidur. 

Momentum Nokturia utamanya terjadi saat seseorang terbangun dari tidurnya untuk berkemih pertama kali dan setiap berkemih selanjutnya harus diikuti tidur atau keinginan untuk tidur. 



“Berbagai hal seperti kelainan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, hormonal, tidur, jantung dan pembuluh darah, psikologis dan diet dapat menjadi penyebabnya," kata dr Harrina saat Konferensi Pers Virtual, Jumat (18/12/2020).

Harrina katakan, dokter akan melakukan wawancara (anamnesis) mengenai gejala Nokturia, gejala saluran kemih bagian bawah lain dan berbagai hal yang dapat menyebabkan Nokturia. 

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan, tanda vital, jantung, paru-paru, pembesaran liver (hati) dan kandung kemih yang penuh, pemeriksaan prostat dan organ panggul serta pembengkakkan pada tungkai atau mata kaki. 

Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan meliputi pemeriksaan Protein 

Spesifik Antigen (PSA) untuk prostat, fungsi ginjal, elektrolit darah, gula darah, dan juga analisis urine. 

"Bila diperlukan pemeriksaan hormon seks, fungsi tiroid, sisa urine pasca berkemih, dan elektrokardiogram (rekam jantung) dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis Nokturia dan penyebabnya,” jelas dia.

Lebih lanjut dr Harrina paparkan, pada studi prevalensi dan faktor risiko Nokturia di Indonesia yang melibatkan 1555 subyek dari 7 kota di Indonesia menunjukkan prevalensi Nokturia  sebesar 61,4%, dimana dari total prevalensi nokturia tersebut 61,4% dilaporkan pada laki-laki dan 38.6% pada perempuan. 

"Rerata usia pada penelitian tersebut adalah 57 (18-92) tahun dan nokturia didapatkan terbanyak pada kelompok umur 55-65 tahun," ucap dia.

Untuk mengatasi Nokturia, masyarakat diimbau untuk memeriksakan diri ke pihak medis. Tata laksana yang diberikan adalah berupa terapi dan juga pemberian obat. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP