Netral English Netral Mandarin
09:21 wib
Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid berencana melaporkan seorang peramal, Mbak You, terkait ramalan Jokowi lengser dari jabatan presiden pada 2021. Peneliti menyatakan varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan (Afsel) tidak mempengaruhi kerja vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech.
Potensi Ekonomi Vitamin A & E Berbasis Sawit Capai US$7,4 Miliar di Indonesia, Sayang Belum Digarap  

Jumat, 11-December-2020 20:20

Ilustrasi buah kelapa sawit.
Foto : Istimewa
Ilustrasi buah kelapa sawit.
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) mengungkapkan peluang bisnis produksi vitamin A dan E berbasis minyak sawit cukup besar yakni mencapai US$7,4 miliar.

Ketua Umum Apolin Rapolo Hutabarat menyatakan, potensi ekonomi yang cukup tinggi dari industri hilir minyak sawit tersebut sayangnya belum banyak digarap secara bisnis.

"Peluang menggiurkan tersebut harus ditangkap industri dalam negeri, sebagai salah satu produk hilir minyak sawit," ujarnya saat webinar Prospek Bisnis Vitamin A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Jakarta, Jumat (11/12/2020).



Menurutnya, harga betakaroten natural untuk vitamin E di pasar internasional mencapai US$350 - 7.500 per kg, sedangkan beta carotene sintetis sebesar US$250 - 2.000 per kg.

Sementara itu, lanjutnya, produksi betakaroten dari industri sawit di dalam negeri sebanyak 13,5 ribu ton sehingga potensi ekonomi yang hilang mencapai US$4,7 miliar.

Sedangkan harga tocopherol natural US$100 per kg dan yang sintetis US$20-75 per kg, sehingga potensi ekonomi yang hilang mencapai US$2,7 jika produksi tocopherol alami dari industri sawit dalam negeri sebanyak 27,0 ribu ton.

"Hingga kini belum ada perusahaan Indonesia yang terjun ke industri ini, sehingga menjadi tantangan bagi kita semua," ujarnya.

Dari 20 perusahaan global yang bermain di industri betakaroten semuanya perusahaan asing yakni, Belanda, Jerman, Denmark, AS dan Israel. Begitu juga pemain global tocopherol ada 16 industri seperti BASF dan DSM.

Sementara itu, pengamat pertanian Bungaran Saragih mengatakan permintaan terhadap vitamin A dan E berbasis minyak sawit, baik dari dalam negeri dan luar negeri cukup besar.

Di dalam negeri, kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutisisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E.

“Kita sudah menghasilkan PKO dan CPO terbesar di dunia. Ini menjadi sumber penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Prospek ada? Masalahnya bagaimana kita menjadikan bisnis. Kalau kita gagal menerjemahkan vitamian A dan E sebagai bisnis, maka kita gagal mengembangkan bisnis tersebut," kata Bungaran saat webinar Prospek Bisnis Vitamin A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit.

Namun demikian, mantan Menteri Pertanian itu menyatakan untuk menjadikan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E yang berguna bagi kesehatan memerlukan proses panjang yang harus dikuasai industri dalam negeri, terutama mengubah/ekstrak dari minyak sawit.

"Prosesnya panjang dan rumit. Ada masalah enginering, sosial, bahkan politik pemerintah. Peran pemerintah sangat penting. Untuk menangkap peluang itu, jangan malu kita bekerjasama dengan asing, terutama dari sisi teknologi," tuturnya.

Kepala Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Elfahmi Yaman mengatakan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial.

Bahkan penggunaan dalam bentuk crude material kasar merupakan nilai tambah bagi minyak sawit, karena mengandung beberapa kandungan lain yang bisa memberikan efek farmakologi secara sinergis.

"Karena itu inovasi riset vitamin A dan E memberikan luaran yang sangat prospektif dalam pemanfaatan vitamin A dan E dari minyak sawit," katanya, seperti dilansir Antara.

Reporter : Irawan HP
Editor : Irawan HP