Netral English Netral Mandarin
06:38 wib
Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menggugat pemerintah Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp56 miliar terkait penggusuran dalam proyek pembangunan Tol Depok-Antasari di Jakarta Selatan. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengonfirmasi bahwa Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo akan dilantik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) jadi Kapolri pada Rabu (27/1).
Stigma Para Pekerja Sosial di Masa Pandemi COVID-19

Minggu, 08-November-2020 08:01

Foto :
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Salah satu tantangan terbesar Pekerja Sosial dalam memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) di masa pandemi COVID-19 adalah stigma sosial yang tidak hanya dikaitkan dengan pasien maupun penyintas COVID-19 tetapi juga relawan medis dan non medis yang terjun langsung menangani dampak COVID-19.

 

Milly dan Wina, pekerja sosial senior asal Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung yang mengabdi sebagai relawan di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta membagikan pengalamannya. Keduanya mengaku bangga sekaligus tertantang saat ditugaskan di rumah sakit khusus penanganan COVID-19 bersama 414 Pekerja Sosial lainnya. 



 

“Stigma sosial disebabkan oleh ketidaktahuan dan ketidakpahaman seseorang, terlepas dari level pendidikan maupun profesinya sehingga diperlukan adanya edukasi dan pemahaman tentang pandemi COVID-19,” ujar Milly, baru-baru ini.

 

Padahal, kata Milly, proses untuk menjadi relawan di RSDC Wisma Atlet cukup ketat.

 

“Relawan medis dan non medis wajib negatif COVID-19, maka kami diharuskan mengikuti medical check-up sebelum dan sesudah bertugas di Wisma Atlet.  Saat bertugas, kami juga harus selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan mematuhi protokol kesehatan,” jelas Milly.

 

Dalam memberikan dukungan psikososial, Pekerja Sosial RSDC Wisma Atlet juga menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

 

“Kemampuan kami diasah saat berhubungan langsung dengan penyintas. Ketika melalui proses dalam memecahkan kendala, itu menjadi sebuah pola yang biasa dan rutin dijalankan. Rasa takut dan was-was dalam menjaga imunitas tubuh juga sering dirasakan, namun profesionalitas dalam bekerja membuat kami dapat menyelesaikan tugas dengan baik,” ungkap Wina.

 

Lantas, siapa yang pantas disebut sebagai pahlawan di masa pandemi ini? Milly dan Wina memiliki pendapat yang sedikit berbeda.

 

“Pahlawan paling utama di masa pandemi adalah tenaga medis yang berjuang langsung di titik episentrum penanganan COVID-19. Secara statistik, banyak korban meninggal akibat COVID-19 berasal dari tenaga medis," kata dia. 

 

Selain itu, tim pendukung tenaga medis seperti tim logistik, relawan non medis, edukator masyarakat, satgas penanganan COVID-19 level nasional maupun daerah, juga patut disebut sebagai pahlawan karena tanpa dukungan mereka, penanganan dampak COVID-19 tidak akan berjalan maksimal.

 

Lain halnya dengan Wina. Ia memilih penyintas COVID-19 dan orang-orang yang merangkul penyintas COVID-19 dengan tangan terbuka sebagai pahlawan sesungguhnya.

 

“Di masa pandemi ini, stigma sosial sangat erat kaitannya dengan penyintas sehingga menurut saya, orang-orang yang bisa memberikan ruang lingkup bagi penyintas agar mereka bisa berfungsi sosial secara normal, layak disebut sebagai pahlawan,” kata Wina.

 

Milly dan Wina turut menyampaikan harapan mereka terhadap penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. 

 

“Semoga apa yang telah kami rintis akan menggugah khususnya Pekerja Sosial di seluruh Indonesia sebab kiprah Pekerja Sosial sangat dibutuhkan sebagai bagian dari pelayanan Rumah Sakit Darurat COVID-19.”

Reporter : Martina
Editor : sulha