KOTA MALANG, NETRALNEWS.COM - Program kerja Himpunan Mahasiswa Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial tahun 2022 dipungkasi dengan kegiatan visiting lecturer dan bedah film. Hadir sebagai pembicara sekaligus pembedah film, adalah Profesor Kate E. McGregor. Ia adalah profesor di bidang filsafat dan sejarah, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan film yang dibedah bertajuk They Call Me Babu (2019). Tema besar kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 November 2022 adalah “Women in Crisis”. Selain menempatkan perempuan sebagai subjek historiografi, panitia juga bermaksud mendiskusikan sosok perempuan biasa dalam sejarah, bahkan cenderung direndahkan. Kegiatan yang dihadiri sekira 80 mahasiswa dan masyarakat umum tersebut, diawali dengan seremonial acara, pemutaran film, kemudian dilanjutkan dengan paparan kritis Prof. Kate, dan diskusi. Bertempat di Aula Tjokroaminoto, Fakultas Ilmu Sosial; acara berlangsung sejak pukul 12.30 hingga 17.00 WIB. Film They Call Me Babu, merupakan film dokumenter garapan sutradara berdarah Indo-Belanda (Indisch), Sandra Beerends, yang diproduksi pada tahun 2019. Secara sepintas, film ini seolah berada dalam arus semangat dekolonisasi. Istilah dekolonisasi dalam hal ini, merujuk pada upaya sebuah tim sejarawan negeri Belanda dan Indonesia dalam penulisan kembali sejarah kolonialisme Hindia Belanda, dengan lebih mendengarkan suara-suara orang Indonesia. Alima, tokoh utama film ini, merupakan seorang babu di keluarga Belanda. Ia lahir di Yogyakarta, diusir dari rumah—karena terlahir sebagai perempuan—dan bekerja sebagai babu. Tugas utamanya adalah mengasuh keempat anak majikannya. Ia menganggap Jantje, si bungsu, sebagai anak sulungnya. Oleh majikannya, ia sempat diajak ke negeri Belanda, dan digambarkan mendapatkan pengalaman kesetaraan serta mengenal istilah kedaulatan (soevereiniteit) di sana. Tak lama berselang, keluarga majikannya beserta Alima kembali ke Hindia. Di Bandung, ia menghadapi kenyataan berakhirnya kekuasaan kolonial, berganti dengan periode Pendudukan Militer Jepang. Rumah majikannya dirampas. Mereka semua, termasuk Jantje, dimasukkan ke kamp-kamp tahanan. Alima menganggur, menjadi babu di keluarga Tionghoa, dan menjalin hubungan cinta dengan Riboet. Tak lama, Alima dan Riboet menikah. Riboet, seorang petani berperawakan gagah, bergabung dengan pemuda pejuang setelah kemerdekaan diproklamirkan. Keluarga kecil ini mengungsi ke Yogyakarta, seiring dengan kedatangan Belanda yang membonceng Sekutu. Mereka bekerja di pabrik pengolahan kapuk, dan dianugerahi anak perempuan, Dewi. Riboet pamit pergi berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ia gugur di tangan serdadu Belanda. Prof. Kate menekankan bahwa They Call Me Babu tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai film dokumenter. Meskipun sebagian besar materi film adalah hasil potongan-potongan rekaman home videos sebuah keluarga Belanda tertentu, dan narasinya adalah kumpulan hasil wawancara terhadap sekumpulan eks-babu era akhir kolonial di Surabaya dan sekitarnya. Faktanya, menurut Prof Kate, bahwa tetap ada intervensi ketika sebuah rekaman home videos diambil. Prof. Kate juga mengkritisi perihal ras, kelas, dan jender yang menjadi pusat dan basis kekuasaan di Hindia Belanda. Posisi babu menjadi ambigu dalam dunia kolonial. Di satu sisi, ia menjadi salah satu simbol loyalitas, dalam hal ini bawahan terhadap majikannya. Namun, ia juga diwaspadai akan mencemari anak-anak Eropa dengan kebiasaan dan cara hidup inlander. Pada sesi diskusi, seorang peserta bertanya, “Mengapa Nyonya, majikan Alima, membolehkan adanya hari libur ketika Alima di negeri Belanda, sebaliknya menolak permintaan libur dari Alima ketika di Hindia Belanda?” Pertanyaan kritis mahasiswa ini dijawab Prof. Kate, tidak hanya dengan standar ganda yang diterapkan dalam dunia kolonial, namun juga permasalahan-permasalahan ingatan negara eks-penjajah dan eks-terjajah dalam mengenang masa lalunya. Prof. Kate lantas meminjam konsep colonial aphasia dari Paul Bijl (2014). Konsep ini merujuk pada ketidakmampuan mengartikulasikan ingatan periode kolonial antara metropolis (negeri Belanda) dan periferal (Hindia Belanda) dalam bahasa yang logis dan masuk akal. Pada akhir diskusi, Prof. Kate menyimpulkan bahwa citra kolonialisme dalam They Call Me Babu masih terjebak dalam kencenderungan mengenang Tempoe Deoloe, walaupun film ini dibuat sebagai sebuah upaya dekolonisasi. Tempo Doeloe yang dimaksud ialah imaji Hindia Belanda yang molek. Terekam dalam scene hamparan sawah yang hijau, gunung dan hutan yang dibelah sungai, dan suasana pedesaan. Alih-alih dekolonisasi, justru kolonialisme masih dilanjutkan—secara laten—dalam film ini.