“Dibalik penderitaanku, ku berikan kepadamu tanah ini untuk kamu (KI Mageti) dan teruskan tanah yang ku babad ini menjadi suatu kehidupan yang makmur.” Begitulah kira-kira ujar Eyang (yang diartikan juru kunci setempat, Mbah Bardi) kepada KI Mageti. Situs makam Eyang Ronggo Galih, adalah situs yang tidaklah terkenal di kalangan masyarakat Magetan, minim sekali masyarakat Magetan yang mau meneliti tentang situs ini maupun mengulik sejarah dibalik situs ini. Situs Eyang Ronggo Galih ini berada di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Situs ini diyakini telah ada sejak lama, bahkan sejak zaman mataram berkibar di wilayah Nusantara. Sebagai tambahan, di situs ini terdapat satu orang juru kunci bernama Mbah Bardi, Ia lahir pada tahun 1942 dan mulai aktif mengabdi menjadi juru kunci sejak tahun 1991, beliau di amanahi menjadi penerus juru kunci di situs Eyang Ronggo Galih oleh Ayah nya (Bardi, 2023). Sedikit gambaran tempat tentang situs ini, situs ini memiliki pelataran yang cukup luas, ada lahan untuk tempat parkir sepeda motor, sementara itu warung-warung berdiri di sekitarnya. Sebelum memasuki situs ini, ada beberapa anak tangga yang harus di lewati, setelah menaiki tangga tersebut, terlihatlah pendopo di samping kanan dan kiri untuk peziarah yang datang dan di depan anak tangga, ada gerbang menuju Makam Eyang Ronggo Galih itu berada. Menurut cerita dari juru kunci Mbah Bardi, di awali dari Eyang Ronggo Galih yang meninggalkan wilayah Kerajaan Mataram untuk menghindari perselisihan antar saudara, ia bergegas pergi tanpa arah menuju tempat persembunyian, bersama istrinya yaitu Panembahan Kanjeng Eyang Putri Sekarwangi atau dikenal sebagai Eyang Sekarwangi, ia di dampingi oleh para abdi dan kerabat hingga sampailah Eyang di Desa Nggalih di Wonogiri. Setibanya Eyang sampai di Desa Nggalih, ia membabad alas serta menjadikannya sebuah pemukiman. Namun tidak berlangsung lama, keberadaan Eyang sudah diketahui oleh para musuh sehingga ia melarikan diri lagi menuju ke arah kaki Gunung Lawu untuk membabad alas lagi sampai beberapa waktu, sehingga menjadikan nama desa itu Desa Njeblok, Desa Njeblok sendiri sudah masuk wilayah Kabupaten Magetan, tepatnya di Wonomulyo, Kabupaten Magetan. Setibanya Eyang disana selama beberapa kurun waktu, keberadaan Eyang justru diketahui musuh sehingga Eyang mau tak mau harus meninggalkan Desa Njeblok. Waktu terus berjalan hingga Eyang melanjutkan perjalanannya menuju ke arah barat, ketika sudah sampai ia membabad alas lagi dan membangun suatu desa. Menurut Mbah Bardi (juru kunci), bahwa penamaan nama desa diambil dari cerita Eyang yang duduk di bawah pohon cemara. Sehingga desa ini dinamakan Desa Cemara Sewu. Pada saat abdi yang menjadi mata-mata Eyang Ronggo Galih, ternyata ia melihat musuh Eyang dan ia lari terbirit-birit menuju Eyang untuk memberitahukan bahwa musuh Eyang tengah mencari keberadaan Eyang di hutan Gunung Lawu. Sontak ia bergegas pergi dari wilayah tersebut dengan istri dan para abdi-abdi nya (Bardi, 2023). “Eyang niku blayu sak keplasan, mulo kuwi dadi Desa Plaosan.” Ujar Mbah Bardi yang bercerita begitu antusias. Sekarang Desa Plaosan menjadi salah satu kecamatan yang ada di Magetan. Kecamatan Plaosan ini juga menjadi suatu Kecamatan yang makmur karena ekonomi di daerahnya yang sangat pesat, akibat tanahnya yang subur, Kecamatan Plaosan juga menjadi salah satu tempat pertanian dan perkebunan yang luas di Magetan. Kecamatan Plaosan juga menjadi salah satu jalan penghubung untuk wisatawan yang ingin berwisata di Telaga Sarangan maupun wisata yang lainnya. Setelah Eyang membabad alas dan menjadikan warganya makmur disana, tentu saja para mata-mata musuh Eyang mengetahui keberadaan Eyang. Ia pun bergegas pergi menuju arah barat untuk mendirikan sebuah kehidupan baru (Bardi, 2023). “Eyang bar ngunu mlayu macal-macal, dadio ngunu Desa Pacalan.” Tambah Mbah Bardi. Setelah itu pengembaran Eyang yang luar biasa itu, telah sampailah pada akhir cerita. Eyang akhirnya memilih suatu tempat yang aman dan nyaman untuk bersemedi di kaki Gunung Lawu, tempat itu berada di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Ia bersemedi (topo broto) sampai akhir hayatnya. Istri Eyang dan para abdi Eyang Ronggo Galih juga mengikuti jejaknya. Itulah awal mula mengapa situs Makam Eyang Ronggo Galih itu berada (Bardi, 2023). Menurut dinas arsip Kab. Magetan, Ronggo Galih merupakan Bupati Magetan ke-2. Beliau juga salah satu kerabat Mataram yang meninggalkan Mataram menuju Timur Gunung Lawu melalui Desa Njeblok (Wonomulyo, Genilangit) sebagai bentuk penolakan kerjasama dengan Belanda. Eyang Ronggo Galih memimpin Magetan mulai Tahun 1703. Karena kepeduliannya kepada rakyat kecil yang banyak menderita di bawah tekanan para penjajah Belanda, maka pada tahun 1709 beliau meletakkan jabatannya sebagai Bupati dan memilih melakukan Topo Broto di Dusun Waduk Desa Durenan sampai dengan Wafatnya. Kebenciannya terhadap Belanda, Eyang Ronggo Galih akhirnya mengeluarkan sabda bahwa "Aparat pemerintah Belanda yang berani mendatanginya akan celaka''. Eyang Ronggo Galih dalam memimpin Magetan, senantiasa menekankan aspek keadilan dan amal perbuatan sebagai Bumi Seta (Bumi Putih) yang dimaksudkan hanya orang-orang yang berniat baiklah yang akan diterima ziarahnya (Kabupaten Magetan, 2022). Tradisi yang sampai saat ini dilakukan oleh masyarakat Magetan adalah berziarah ke Makam Eyang Ronggo Galih pada saat malam suroan, dan menampilkan wayang kulit semalam suntuk. Kegiatan ini di hadiri oleh para pejabat yang ada di Magetan, termasuk Bupati Magetan, Dr. Drs. H. Suprawoto. SH. M.Si Kegiatan ziarah tersebut juga diwarnai dengan pemberian paket sembako kepada warga sekitar makam, di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Saat dikonfirmasi awak media, Bupati Magetan Dr. Drs. H. Suprawoto. SH. M.Si menyampaikan, dalam rangka peringatan HUT Magetan yang ke -347 tahun seperti biasa rutin melaksanakan ziarah makam tujuh leluhur bahwa kegiatan ini untuk mendoakan para leluhur pendiri Kabupaten Magetan (Admin, 2022). Begitulah sedikit kisah dari Eyang Ronggo Galih dalam 2 versi yang berbeda. Perjuangannya patut di apresiasi sebagai pahlawan dan pendiri bangsa. begitupula dengan adanya situs Makam Eyang Ronggo Galih yang berada di Desa Durenan. Untuk itu penulis berharap selalu di jaga dengan baik oleh pemerintah setempat maupun masyarakat sekitar. Salam sejarah! (Kabupaten Magetan, 2022). DAFTAR RUJUKAN Admin, A. 2022, October 5 Jelang Hari Jadi Magetan ke-347, Sujatno Ziarah Makam Leluhur Eyang Ronggo Galih. Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Bardi, M. 2023, August 13. Eyang Ronggo Galih. (T. U. Fitralangit, Interviewer) Kabupaten Magetan, D. K. 2022, August 1. ppid.magetan.go.id. Retrieved from PPID Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi: https://ppid.magetan.go.id/berita-utama/view?id=85