JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Di balik gemerlap manfaatnya, ternyata bendungan terbesar di Indonesia pernah menelan puluhan desa. Bendungan yang dimaksud adalah Waduk Jatiluhur, dengan genangan seluas ± 8.300 hektar (sekitar 83 km²) yang menenggelamkan 14 desa. Lokasi Bendungan: Di Mana Bendungan 8.300 Ha Itu Dibangun? Waduk Jatiluhur atau Bendungan Ir. H. Djuanda dibangun di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Purwakarta sendiri dijuluki “Kota Pensiunan”, julukan yang muncul karena tingginya jumlah penduduk pensiunan di sana. Sejarah dan Pembangunan Bendungan Proyek bendungan ini dimulai pada tahun 1957, dengan peletakan batu pertama oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan mencapai US$ 230 juta, dan bendungan diresmikan pada 26 Agustus 1967 oleh Presiden kedua RI, Jenderal Soeharto. Struktur bendungan ini adalah tipe urugan (earth-fill), membendung sungai Citarum yang alirannya berasal dari Daerah Aliran Sungai seluas 4.500 km². Dampak Sosial: Pengorbanan 14 Desa Akibat pembuatan waduk ini, 14 desa harus ditenggelamkan. Sebanyak 5.002 warga dari desa-desa tersebut dipindahkan. Sebagian direlokasi ke area sekitar bendungan, sementara sebagian lainnya pindah ke Kabupaten Karawang. Menurut laman resmi Purwakarta, Bendungan Jatiluhur membentuk waduk dengan genangan seluas ± 83 km²di elevasi muka air normal +107 m di atas permukaan laut. Fungsi dan Manfaat Bendungan Jatiluhur Meski ada dampak sosial besar, waduk ini memberikan manfaat yang sangat luas. Bendungan Jatiluhur digunakan untuk: Irigasi lahan pertanian seluas ratusan ribu hektar. Pasokan air baku untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Pengendalian banjir, khususnya dari aliran Sungai Citarum. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA): dam ini mengoperasikan turbin dan menghasilkan listrik. Wisata, karena waduk Jatiluhur kini menjadi destinasi rekreasi dengan fasilitas seperti hotel, restoran, dan sarana rekreasi.