Netral English Netral Mandarin
02:39wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Beragama Buang Akal, Kalau Berakal Buang Agama? Ulil: Sebagai Muslim, Tak Boleh Tinggalkan Nalar

Minggu, 02-Mei-2021 09:07

Ulil Abshar Abdalla
Foto : Istimewa
Ulil Abshar Abdalla
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sangat menarik catatan yang diunggah Ulil Abshar Abdalla tentang pemikiran Ibn Rushd. Hal itu diunggah Ulil di akun Twitter dan Instagramnya.

"JALAN IBN RUSHD. Ada yg berpendapat: kalau beragama, buang akal; kalau mau berakal, buang agama. Pilihan "either/or" ini tak ideal. Ibn Rushd, ulama fikih sekaligus filsuf dari abad ke-12, mengajarkan lain: ya beragama, ya bernalar. Selanjutnya di sini," kata Ulil sambil membagikan tautan di akun IG-nya.

Berikut catatan lengkap Ulil:

JALAN IBN RUSHD

Ada asumsi di sebagian kalangan: jika seseorang sudah beragama, nalarnya akan berhenti. Jika mau tetap menjadi manusia bernalar, rasional, tinggalkan agama. Hanya ada dua pilihan: agama atau nalar. Tidak bisa dua-duanya.

Cara pandang "either/or," "imma hadza aw dzak," atau-ini-atau-itu semacam ini dianut oleh sebagian kalangan di dalam Islam sendiri, maupun kalangan yang sudah meninggalkan agama sama sekali. Ada sebagian kalangan Islam yang takut sama sekali pada akal, dan menakut-nakuti orang-orang yang memakai pendekatan rasional dalam beragama.

Saya amat tidak setuju dengan pandangan semacam ini. Peradaban Islam sejak masa yang paling dini sudah menunjukkan bahwa seseorang bisa beragama dan tetap menggunakan nalar. Ajaran Islam sendiri mendorong pemeluknya untuk beragama dengan nalar; tak boleh "anut-grubyug."

Peradaban pemikiran Islam sejak dulu menunjukkan capaian cemerlang di bidang penalaran ini. Saya mau ambil satu contoh: Fakhr al-Din al-Razi (w. 1210), "the great mind" dari Persia yang hidup di abad ke-12. Ia meninggalkan warisan intelektual yang menakjubkan, salah satunya adalah kitab bertitel "al-Mathalib al-'Aliyah Min al-'Ilm al-Ilahi," maha-karya dalam bidang teologi Asy'ariyah. Membaca buku ini, saya layaknya seorang turis yang ngungun-takjub di depan pemandangan ajaib; saking takjubnya, ia seperti seseorang yang "kesambet oyot mimang" (terkena sihir akar mimang).

Karya-karya al-Razi menunjukkan satu hal: beragama tidak berarti meninggalkan akal. Beragama justru harus berakal. Dan berakal seharusnya dituntun dengan wahyu dari agama. Membaca karyanya ini, kita menyaksikan "the great show of reasoning."

Inilah yang saya sebut Jalan Ibnu Rushd (w. 1198). Ibn Rushd adalah filsuf dan sekaligus ahli fikih dari Maroko yang hidup seabad sebelum al-Razi. Dialah yang mendalilkan bahawa antara wahyu dan akal tak ada pertentangan. Semua ulama dan filsuf Islam dari zaman pra-klasik, klasik, pasca-klasik, hingga era, berjalan berjalan di atas Jalan Ibn Rushd ini, termasuk Imam Ghazali.

Inilah warisan peradaban kita sebagai Muslim: beragama tak boleh meninggalkan nalar; sebaliknya bernalar harus pula dituntun dengan agama.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli