BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Dunia digital marketing berubah lebih cepat dari yang bisa kita bayangkan. Dulu, cukup dengan punya website dan bermain SEO di Google bisnis bisa menjangkau audiens secara luas. Tapi sekarang? Konsumen mencari informasi lewat TikTok, minta rekomendasi dari ChatGPT, dan melakukan pembelian lewat voice assistant. Perubahan ini menuntut pendekatan lebih dinamis. Cara lama sudah tak cukup lagi. Jika brand hanya fokus pada ranking di satu mesin pencari, maka mereka berisiko tidak terlihat oleh calon pelanggan yang berpindah ke platform yang lain. Di sini muncul kebutuhan akan strategi baru yang menyentuh tiap titik kontak digital mulai dari media sosial, marketplace, Google Maps, hingga platform berbasis AI (Artificial Intelligence). Pendekatan ini bukan sekadar tren, tapi kebutuhan mutlak dimana konten, data, dan kecepatan menjadi kunci memenangkan perhatian konsumen. Dan salah satu pionir di bidang ini adalah Arfadia. Di tengah perubahan besar ini, Arfadia rupanya hadir membawa cara baru dalam menaklukkan dunia digital marketing lebih adaptif, lebih canggih, dan sepenuhnya berbasis teknologi AI. Arfadia saat ini dikenal sebagai agensi digital marketing yang punya pendekatan revolusioner melalui dua strategi utama. Yaitu, Search Everywhere Optimization (SEOv2) dan Generative Engine Optimization (GEO). Dua metode itu menempatkan brand di mana pun konsumen melakukan pencarian tak lagi hanya di Google. Tapi di TikTok, Google Maps, e-commerce, media online, hingga platform AI seperti ChatGPT, Perplexity, Gemini, dan DeepSeek. Dengan pendekatan ini, eksposur brand jauh lebih luas dan merata di berbagai platform. Ini adalah bentuk visibilitas baru yang sangat penting di era dominasi AI conversational seperti sekarang. Kombinasi SEOv2 dan GEO membuat strategi digital marketing disebut-sebut jauh lebih unggul dibanding pendekatan konvensional. Tidak hanya bicara soal teori, tetapi punya data dan studi kasus yang membuktikan keberhasilan nyata. Di era yang serba cepat dan penuh distraksi ini, visibilitas bukan lagi soal muncul di satu tempat, tapi hadir di banyak platform secara konsisten. Itulah misi Arfadia membantu brand tidak hanya tampil, tapi mendominasi. Saat dikonfirmasi, CEO Arfadia Tessar Napitupulu memandang perusahaan saat ini butuh strategi optimasi yang mencakup seluruh landscape digital tempat customer menemukan dan berinteraksi dengan brand. "Search Everywhere Optimization kami memastikan perusahaan bisa ditemukan di setiap touchpoint, mulai dari search engine tradisional sampai platform AI canggih seperti DeepSeek," ungkap Tessar kepada wartawan. Lebih lanjut, Tessar menyampaikan pergeseran yang dialami sekarang ini merupakan perubahan paling transformasional dalam perilaku pencarian konsumen sejak Google pertama kali membuat informasi bisa ditemukan. "Prediksi industri menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang fundamental dalam cara mereka berinteraksi dengan brand, dengan conversational AI market akan mencapai $41,39 miliar,” tuturnya. "Sementara platform seperti TikTok, ChatGPT, dan voice assistant menjadi starting point consumer journey yang baru,” kata Ahli Digital Marketing dengan pengalaman lebih dari dua dekade itu melanjutkan. SEO tradisional, diutarakan Tessar, fokus pada ranking teratas di halaman pertama Google. Tapi konsumen masa kini memulai journey discovery di TikTok, mencari saran dari ChatGPT, dan menyelesaikan pembelian melalui sistem voice-activated. "Perusahaan yang mengabaikan realitas multi-channel ini akan menghilang dari target audience mereka," ucap Pebisnis muda yang berhasil memimpin evolusi Arfadia dari layanan digital tradisional jadi provider solusi marketing berbasis AI itu. "Klien yang mengimplementasikan pendekatan optimasi canggih kami telah mencapai visibilitas 400% lebih baik di platform AI dibandingkan kompetitor yang masih mempertahankan praktik SEO standar," ungkap Tessar menegaskan.