GUNUNGKIDUL - Sinar mentari pagi menyorot lembut dari jendela. Semilir angin segar ditambah sedikit polusi menyapu wajahku. Suara mesin yang berat memenuhi telinga sampai seseorang memanggilku dari samping dan aku menoleh. Rupanya bapak kenek yang menagih uang. Aku membayarnya dengan uang tunai Rp15 ribu. Aku sedang menaiki bus Wonosari-Jogja, angkutan massal yang jadi andalan warga untuk pergi dari Gunungkidul ke Jogja, atau sebaliknya. Bus-bus ini sudah eksis sejak kakekku masih kuliah. Sayangnya belum banyak yang mengulik sejarah angkutan umum di Gunungkidul, meski ada juga satu dua yang bisa diceritakan. Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan ibu kotanya Wonosari. Wilayahnya didominasi kawasan perbukitan, dengan jalanan yang naik turun. Pada 1956, jarang ada kendaraan umum yang dapat ditumpangi di Gunungkidul. Medannya pun tidak ramah bagi kendaraan. Tidak banyak yang diaspal, hanya gunung-gunung kapur yang dibelah untuk jalan. Kakekku berasal dari Kecamatan Panggang, namun berkesempatan mengenyam pendidikan sekolah dasar di kota Wonosari. Beliau yang masih anak sekolah, berjalan sejauh 25 kilometer untuk pulang ke rumahnya setiap akhir pekan melalui jalan-jalan itu. Padahal penerangan jarang, bahkan tak ada. Bila terpaksa pulang malam, kakek dan temannya akan berjalan di tengah kegelapan pekat. 10 tahun kemudian, mulai ada satu dua kendaraan melintas sampai kecamatan. Nenekku adalah seorang guru sekolah dasar. Beliau berasal dari kecamatan Girisubo, sekitar satu jam dari kota Wonosari. Apabila pulang kampung dan ingin kembali ke kota, beliau akan memberhentikan truk pengangkut gaplek atau singkong kering. Gaplek membubung tinggi di dalam bak truk, dan di atas dihamparkan terpal untuk alas duduk. Di sanalah nenekku duduk, di tempat yang amat tinggi. Angin menderu kencang seakan ingin mengajak nenek ikut terbang. Beliau berpegangan erat-erat pada tali yang mengikat terpal agar tak terjatuh. Kadang sendirian, lain waktu bersama kawan. Sejauh mata memandang, hanya jalanan kapur beserta gunung-gunung yang terlihat. Meski naik turun gunung, dengan belokan-belokan ekstrem, dan kondisi jalan yang terjal, nenekku tak gentar. Sebab hanya itulah satu-satunya tumpangan menuju kota. Pada 1955-1956, seorang supir bernama Sugiyanto membeli sebuah truk. Beliau lantas melayani jasa angkutan bahan bakar kayu, beserta hasil bumi lainnya. Jasa layanan ini adalah cikal bakal PO (perusahaan otobus) Djangkar Bumi. Djangkar Bumi lantas menawarkan jasa angkutan umum yang melayani perjalanan Wonosari -Jogja. Memasuki 1980-an, Djangkar Bumi memasuki masa kejayaan. Saking suksesnya, sopir bus bahkan dapat membeli satu gram emas dalam sehari. Bus yang menawarkan tumpangan menuju kota Jogja memang sepopuler itu. Saat duduk di bangku kuliah, kakekku adalah penumpang langganan bus Wonosari-Jogja. Dalam ingatannya, bus yang ada selalu penuh sesak. Ingin mendapat kursi pun harus berebut, kurang lebih seperti suasana kereta KRL di pagi hari. Beliau akan menerobos masuk terlebih dahulu melalui jendela, lantas mencarikan tempat duduk bagi kakak perempuannya. Sang kakak masuk lebih akhir, berusaha merangsek maju melewati kumpulan orang berdiri yang penuh sesak. Ia lantas duduk di tempat yang sudah dicarikan oleh adiknya. Selain bus Djangkar Bumi, ada juga beberapa bus lainnya. "Dulu itu kalau tidak salah ada namanya bus Kijang, bus Kidang Mas, dan bus Sederhana. Waktu kakek kuliah di Jogja, pulang pergi ya naik bus itu,” tutur kakekku. Menurut beliau, bus Wonosari-Jogja sudah eksis semenjak tahun 1955. Lain halnya dengan nenekku yang berkata bahwa bus pertama kali muncul di Wonosari pada tahun 1952. Akan tetapi, transportasi publik ini hanya ada di kota. Jalurnya pun hanya ada dua, yakni jalur Wonosari-Jogja dan Jogja-Semin. Sehingga tidak sampai ke kecamatan-kecamatan. Beberapa tahun yang lalu, sempat ada angkutan umum yang melayani perjalanan antar kecamatan. Hanya saja tidak diketahui kapan angkutan umum itu pertama muncul. Angkot-angkot dan minibus-minibus tersebut juga tidak bertahan lama, dan akhirnya tergerus zaman. Salah satu alasan punahnya angkutan tersebut adalah karena saat ini sudah banyak yang memiliki kendaraan pribadi. Orang dapat dengan mudah membeli motor atau mobil dengan harga murah. Apalagi dengan adanya pinjaman online yang semakin marak. Bisa juga meminta tumpangan pada teman maupun saudara. Efek buruknya adalah jalanan semakin ramai. Di kota tempatku tinggal yaitu Wonosari, hampir semua orang memiliki motor pribadi. Efek buruknya adalah jalanan yang semakin ramai, motor berseliweran dimana-mana. Udara menjadi pengap karena polusi yang semakin banyak. Tak jarang asap dari kendaraan membuat orang sesak. Hingga kini, angkutan massal yang tersedia di Gunungkidul tidak banyak. Hanya bus Wonosari-Jogja dan bus sekolah saja yang masih berjalan. Sayang sekali, karena kendaraan umum sebenarnya mengeluarkan lebih sedikit emisi karbon jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Mari kita sayangi bumi dengan lestarikan angkutan umum.