LJAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Olahraga sekaligus Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI), Irawadi Hanafi harap bibit pegolf Indonesia tumbuh. Irawadi sendiri baru saja pulang dari Sea Games di Vietnam, mendampingi tim golf Indonesia. Irawadi pun mendukung para pegolf cilik, yang ikut turnamen yang diselenggarakan Pekumpulan Akademi Golf Indonesia (PAGI), harapannya bisa berprestasi di masa yang akan datang. Irawadi berterus terang, bahwa Indonesia sebetulnya kekurangan atlet, khususnya di olahraga golf. Menurut sepengetahuannya, hanya ada sekitar 40 orang pegolf yang bisa dijadikan sebagai tim nasional. Sedangkan di negara lain jumlahnya ratusan bahkan ada yang ribuan. "Kita jauh tertinggal. Jadi PB PGI mendorong event seperti ini (PAGI Development Series) agar bibit terus bertumbuh. Karena ada beberapa amateur kita segera pindah ke profesional dan ketinggalan jumlah atletnya," ujar Irawadi pada Netralnews, Minggu (22/5/2022). Pernyataan itu disampaikan Irawadi di sela acara yang diselenggarakan Pekumpulan Akademi Golf Indonesia (PAGI), yakni Turnamen PAGI Development Series 3. Turnamen diselenggarakan di Permata Sentul Golf Club, di kawasan Bogor, Jawa Barat dan diikuti sebanyak 38 peserta yang terbagi dalam kategori A, B, C, D, E, toddler dan amateur. Turnamen didukung oleh Kadin Indonesia, jelang Menpora International Junior Golf Championship 2022. Acara juga turut didukung oleh Rych Water, SuperKiosk dan peliputan dari media partner, Netralnews.com. Irawadi menyadari bahwa golf selama ini dianggap sebagai olahraga yang elit dan mahal, bila dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, Filipina, Malaysia dan Singapura. "Kita paling mahal membina bibit pemain," sambung dia. Bibit pegolf dari negara tersebut diberikan fasilitas dan dukungan oleh pemilik klub, pemerintah setempat dan pengurus besarnya. Menurutnya, hal itu yang harus diperjuangkan dan dicari jalan keluarnya, agar bibit pegolf Indonesia bisa berkembang. "Ambil contoh, kalau satu lapangan bisa bimbing lima atlet junior, kalau ada 150 lapangan atau taruhlah 100 lapangan golf di seluruh Indonesia, kita bisa punya atlet 500 an. Ambil lagi kalau cuma 10 persen jadi calon pemain tim nasional, udah ada 50 orang. Itu udah bagus banget," jelas dia. Maka dari itu, dia merasa, langkah untuk memurahkan olahraga golf harus dijalankan oleh semua pihak, terutama para pemilik lapangan yang memiliki asosiasi tersendiri. Selain itu diperlukan juga peran orang tua, sebagai ujung tombak pembinaan atlet golf. "Jadi satu, kalau main golf jangan bosan, kalau bosan, berhenti di tengah jalan, anak bisa minta olahraga lain. Banyak kejadian seperti itu. Itu harus orang tua yang pintar-pintar. Kalau PB PGI tidak bisa berbuat banyak, kalau anak maju, orang tua mendukung terus, anak suka, itu akan jalan," terang pria yang main golf sejak usia 11 tahun itu. Lebih lanjut Irawadi menyadari bahwa golf bukanlah olahraga yang menjadi perhatian atau prioritas dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Tetapi dengan hasil Sea Games di Vietnam, Irawadi optimis, Kemenpora akan lebih memperhatikan olahraga golf dan menyadari bahwa Indonesia memiliki atlet yang berpotensi. "Kita (Indonesia) punya atlet 15 putri di Amerika yang scholarship semua. Jadi berbakat golf bisa memiliki jenjang pendidikan yang bagus juga di Amerika. Ada juga yang putranya, sayang saat Sea Games tidak bisa dipanggil mewakili Indonesia. Jadi benefit pasti ada, kalau berprestasi dapat beasiswa sekolah di luar negeri," ujar Irawadi.