JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernahkah kalian mendengar istilah Jugun Ianfu? Istilah ini mulai dikenal pada masa Perang Dunia Ke-2. Di Indonesia, tepatnya pada masa pendudukan Jepang. Pada masa ini, banyak kekerasan yang merajalela di Bumi Pertiwi ini. Kekerasan ini tidak pandang bulu, dari anak-anak, orang tua, wanita, pria, semua mengalaminya. Hal ini tentunya berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia, mulai dari kelaparan, mengalami penyakit yang serius, bahkan kematian. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, terdapat sebuah sistem yang dimana Pemerintah Jepang menyediakan wanita penghibur untuk memenuhi nafsu seksual para Tentara Jepang yang kala itu bertugas di Indonesia, dikenal dengan nama Jugun Ianfu. Untuk memperoleh para Jugun Ianfu ini, Pemerintah Jepang memaksa para wanita dan mereka diiming-imingi beasiswa ke luar negeri atau menjadi seorang penyanyi. Namun nasib buruk menimpa para wanita itu, nyatanya mereka malah dijadikan pelacur bagi Tentara Jepang. Kala itu, seorang gadis berusia 13 tahun yang sedang bermain di lingkungan tempat tinggalnya mendengar bahwa Pemerintah Jepang membuka lowongan pekerjaan sebagai seorang penyanyi. Iya, gadis itu bercita-cita ingin menjadi seorang penyanyi, dengan harapan ia dapat meningkatkan taraf kehidupan keluarganya. Karena kepolosannya, gadis itu segera mendaftarkan diri. Ia membayangkan jika di masa depan ia akan menjadi seseorang yang sukses. Tanpa pikir panjang, gadis itu bersiap dengan penuh semangat untuk meraih cita-citanya. Namun, kenyataan pahit yang harus ia terima. Gadis itu dibawa ke sebuah rumah dengan nuansa klasik berwarna putih dengan penjagaan militer yang ketat. Disana juga terdapat beberapa gadis lainnya. Perasaan buruk menghampirinya. Dan benar saja, ia dipaksa untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih terbuka. Dirinya dijadikan budak pemuas nafsu para Tentara Jepang. Betapa terkejut dirinya setelah mengetahui hal kotor itu. Ia berusaha melepaskan diri, namun semakin dirinya berusaha menghindar, semakin keras siksaan yang terimanya. Tubuh mungilnya tak mampu melawan pukulan dan tendangan dari tubuh besar si Tentara Jepang. Setiap harinya, ia harus siap melayani para Tentara Jepang yang ingin mendapatkan layanan seksual. Bahkan ia harus melayani sepuluh sampai lima belas laki-laki sehari, sehingga menyebabkan ia mengalami pendarahan yang hebat. Mirisnya, tak sedikit Tentara Jepang yang tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengannya, yang membuat gadis itu hamil. Tetapi, ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya. Hati ibu mana yang tega melihat darah dagingnya yang belum bisa melihat dunia dipaksa meninggal begitu saja? Walaupun anak itu merupakan hasil paksaan, tetapi itu tetap darah dagingnya. Suatu hari, gadis itu mendengar kabar bahwa dirinya dan para Jugun Ianfu yang lain dibebaskan, dan diperbolehkan menjalani kehidupan masing-masing. Gadis itu terkejut dan bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi secara tiba-tiba. Tanpa pikir panjang, gadis itu melarikan diri sejauh-jauhnya dari rumah itu. Pikirannya sudah kalut, ia memikirkan kemana kakinya harus berlari. Terbesit dalam pikirannya untuk menghampiri rumah salah satu temannya yang ia ketahui rumahnya berada di wilayah yang sama, dengan menyusuri jalan setapak di hutan belantara. Perjalanannya memakan waktu tiga hari lamanya. Sesampainya di rumah temannya, ia mendapat perlindungan untuk hidup lebih layak. Penderitaannya tidak hanya berakhir pada saat Jepang angkat kaki dari Indonesia. Selepas kejadian kelam itu, ia merasa tersingkirkan dari masyarakat. Mereka menganggap dirinya tidak pantas berada di tengah mereka karena ia adalah seorang pelacur yang tak punya harga diri. Hal ini membuat ia mendapat tekanan secara psikologi. Ia merasa takut saat ingin bersosialisasi dengan masyarakat. Ia nyaris kehilangan kesempatan untuk memiliki pasangan hidup. Untungnya, karena dukungan dari orang terdekatnya dan ketulusan dari seorang laki-laki yang mau menerimanya, gadis itu akhirnya menikah. Walaupun begitu, kehidupannya tetap diselimuti oleh hinaan dan prasangka buruk masyarakat. Waktu terus berlalu, kini dirinya sudah tua renta. Namun, bayang-bayang tentang masa lalu yang kelam itu masih terekam jelas dalam pikiran. Siksaan dan hinaan yang ia terima, masih membekas dalam diri. Dirinya terus berkeliling dan menceritakan pengalamannya sebagai Jugun Ianfu. Sempat ia kembali ke rumah dimana dirinya mendapat perlakuan yang sangat tidak pantas didapatkan di usianya yang masih belia. Ia berkeliling menyusuri ruangan itu, setiap sudut yang menjadi saksi bisu kehidupannya yang malang. Air matanya menetes kala mengingat hal-hal mengerikan yang saat itu terjadi. Meskipun, teman seperjuangannya sebagai mantan Jugun Ianfu sudah banyak yang sakit-sakitan atau bahkan tutup usia, dirinya tetap menuntut keadilan atas apa yang telah diterima. Banyak aktivis yang juga mendukung dirinya dan berupaya membantu para mantan Jugun Ianfu memperoleh keadilan. Di usianya yang tak muda lagi, dirinya hanya bisa menerima bantuan dari sumbangan sukarela untuk bisa bertahan hidup, tak ada usaha yang lebih besar yang dapat ia lakukan untuk memperoleh haknya atas kejadian dahulu. Bantuan berupa sumbangan rasanya belum cukup untuk mengganti kehidupan kelam mereka dahulu. Mereka seharusnya bisa mendapatkan hal yang lebih layak dibandingkan hanya sebatas diberikan sumbangan. Kita semua bisa berperan membantu mereka dengan menyuarakan suara mereka, sehingga mereka bisa mendapat ganti rugi baik dari segi material maupun immaterial. Referensi : -https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/almh-mardiyem-momoye-keadilan-untuk-jugun-ianfu -https://www.merdeka.com/jateng/kisah-mantan-jugun-ianfu-asal-jogja-disiksa-jepang-hingga-hadapi-stigma-buruk.html