Netral English Netral Mandarin
01:55wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Jutaan Anak di Afghanistan Terancam Kurang Gizi Akut, FH: Moga Musni Umar dan Pak JK Mau Membantu

Selasa, 14-September-2021 18:07

Jusuf Kalla dan Musni Umar
Foto : Kolase Pikiran Rakyat
Jusuf Kalla dan Musni Umar
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kabar memprihatinkan datang dari negeri Afghanistan. Dikabarkan jutaan anak di sana terancam alami kekurangan gizi akut.

Mantan Politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean justru menyindir Musni Umar dan Jusuf Kalla yang menurutnya selama ini mendukung Taliban. 

“Semoga Musni Umar dan Pak JK mau membantu anak2 ini,” kata Ferdinand Hutahaean, Selasa 14 September 2021.

Untuk diketahui, setidaknya sejuta anak di Afghanistan akan menderita kekurangan gizi akut yang parah tahun 2021. Seperti dilaporkan CNBC, Senin (13/9/2021), Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore memperingatkan bahwa anak-anak Afghanistan bisa kehilangan nyawa tanpa perawatan yang tepat.

Pernyataan Henrietta Fore datang pada saat yang sangat penting untuk bantuan internasional ke Afghanistan. Sejak pengambilalihan Taliban pada 15 Agustus, sebagian besar negara maju di Barat telah membekukan bantuan langsung ke Afghanistan.

“Hampir 10 juta anak perempuan dan laki-laki bergantung pada bantuan kemanusiaan hanya untuk bertahan hidup,” seru Henrietta Fore pada pertemuan tingkat menteri PBB tentang krisis kemanusiaan yang terjadi di Afghanistan.

Fore memohon kepada masyarakat internasional dan negara-negara kaya untuk membantu mencegah penderitaan lebih lanjut setelah pemerintah Afghanistan yang didukung AS runtuh hampir semalam bulan lalu dan gerilyawan Taliban menguasai negara itu. "Tolong bantu kami," katanya.

Pernyataan Fore datang pada saat yang sangat penting dalam sejarah bantuan internasional ke Afghanistan.

Sejak pengambilalihan Taliban pada 15 Agustus, sebagian besar negara maju di Barat telah membekukan bantuan langsung mereka ke Afghanistan. Negara-negara itu berhati-hati dalam mengirimkan uang kepada rezim milisi Islam yang memerintah Afghanistan dengan kekuatan brutal dari tahun 1996 hingga 2001.

Negara-negara Barat melihat uang bantuan yang dibekukan ke Afghanistan sebagai titik pengungkit utama ketika mereka berusaha menekan Taliban untuk membentuk pemerintahan yang menghormati hak-hak individu, terutama hak-hak perempuan dan anak perempuan.

Sementara itu, kelompok-kelompok seperti UNICEF mendapatkan pandangan kedua dari pemerintah Barat yang mencari cara untuk memberikan bantuan kepada warga Afghanistan yang paling membutuhkan sambil melewati pemerintah Taliban.

Pada Senin, Amerika Serikat mengumumkan tambahan US$ 64 juta dalam bantuan kemanusiaan ke Afghanistan, yang akan dikirimkan melalui kelompok-kelompok seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi.

“Hampir 600.000 orang, lebih dari setengahnya adalah anak-anak, telah mengungsi akibat konflik tahun ini” di Afghanistan, kata Fore.

Fore juga menekankan kemampuan unik UNICEF untuk beroperasi di salah satu negara termiskin dan paling dilanda perang di dunia.

“UNICEF telah berada di Afghanistan selama lebih dari 70 tahun. Kami tahu apa yang perlu dilakukan untuk anak-anak. Dan kita bisa menyelesaikannya,” ucapnya.

Pengambilalihan Taliban atas Afghanistan dan penarikan militer AS bulan lalu mendorong banyak pekerja bantuan internasional untuk meninggalkan negara itu, karena khawatir akan keselamatan mereka. Tetapi, kata Fore, UNICEF tetap tinggal dan menyelesaikan sesuatu.

“Dalam dua minggu terakhir, kami telah menyediakan 170.000 orang yang terkena dampak kekeringan dengan air minum yang aman dan mengerahkan tim kesehatan keliling di 14 provinsi untuk terus memberikan layanan kesehatan dasar bagi anak-anak dan perempuan,” paparnya.

“Selama minggu terakhir bulan Agustus, UNICEF memberikan 4.000 anak balita gizi buruk dengan perawatan terapeutik yang menyelamatkan jiwa, dan misi jalan telah dimulai,” ujarnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani