YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM- Dalam kisah terdahulu diceritakan bahwa Kolonel Eeg segera terus melanjutkan perjalanan dan tidak berlabuh di Pelabuhan Surabaya setelah mendengar laporan dari Letnan Knoerle dan koki yang bernama Onggomerto yang bertugas memasak makanan Jawa bagi Diponegoro dan pengikutnya bahwa persediaan makanan cukup untuk satu bulan ke depan. Keputusan Komandan Kapal Pollux, Kolonel Eeg tidak berlabuh di Surabaya karena di pelabuah itu banyak sekali orang-orang Eropa dan para pribumi khususnya orang-orang dari Madiun yang akan menjadi ancaman serius. Memang, kapal Pollux membawa tahanan negara yang sangat tersohor yaitu Diponegoro. Kolonel Eeg lebih memilih Pelabuhan Madura untuk berlabuh guna mencari daun sirih dan perlengkapan menginang lainnya serta keperluan lain seperti buah-buahan (kisah tersebut bisa dibaca DI SINI). Pembaca yang budiman, hari itu hari Senin tanggal 17 Mei 1830. Sekitar jam 10.00 pagi hari, Letnan Knoerle berkunjung ke kabin Diponegoro untuk menemani ngobrol-ngbrol agar Diponegoro tidak dihinggapi rasa kebosanan dalam perjalanan. Tujuan lain dari Letnan Knoerle adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang Diponegoro dan Perang Jawa untuk dilaporkan kepada gubernur jenderal di Batavia. Dalam pembicaraan itu, Diponegoro menceritakan merasa sangat senang dengan Kolonel Jan Baptist Cleerens. Kolonel ini yang menemui pertama kali Diponegoro untuk berunding di Bagelen dan berhasil membujuk Diponegoro untuk menuju ke Magelang bertemu dengan Jenderal de Kock untuk menggelar perundingan. Kolonel Cleerens juga menyampaikan pesan dari Jenderal de Kock apabila dalam perundingan nanti menemui jalan buntu, maka Diponegoro dipersilahkan kembali ke Bagelen bersama dengan pengikut-pengikutnya. Kesan baik Diponegoro kepada Kolonel Cleerens adalah orangya ramah dan respect kepada Diponegoro. Dikisahkan saat akan terjadi pertemuan keduanya, ternyata Diponegoro sudah lebih dulu datang di lokasi yang ditentukan. Setelah mengetahui bahwa Diponegoro mendahului, dalam jarak kurang lebih 100 meter Kolonel Cleerens turun dari kudanya dan mencopot topi militernya sebagai simbul rasa hormatnya kepada Diponegoro. Tentu saja anak buah Kolenel Cleerens dibuat keheranan, karena saat itu sinar matahari sangat panas. Kesan mendalam Diponegoro juga diberikan kepada Kapten van Nauta. Deputi Kolonel Cleerens di Bagelen inilah yang menemui Diponegoro di Bagelen setelah berunding dengan Kolonel Cleerens dan mengawalnya dalam perjalanan hingga ke Meteseh dekat kediaman Residen Magelang. Kapten van Nauta juga melindungi Diponegoro dari gangguan orang-orang Eropa ketika Diponegoro berada di Meteseh. Diponegoro juga bercerita rasa tidak sukanya kepada Residen Kedu, Frans Gerardus Valck (menjabat 1826-1830). Residen Valck benar-benar merepotkan Diponegoro ketika berada di Meteseh Magelang. Valck tidak senang dengan banyaknya orang-orang Yogyakarta dan sekitarnya datang berbondong-bondong ke Magelang untuk memberikan berbagai macam hadiah dan dukungan serta menjalani ibadah bulan Ramadhan bersama Diponegoro. Residen Valck juga mengirim surat rahasia kepada Gubernur Jenderal van den Bosch pada 22 Maret 1830, bahwa Diponegoro harus segera ditangkap dan diasingkan. Diponegoro sendiri akhirnya ditangkap di perundingan tanggal 28 Maret 1830 pagi hari dan siangnya sekitar jam 11, langsung dibawa ke Semarang menuju Batavia dengan menggunakan kereta berkuda. Alasan yang diberikan oleh Residen Valck adalah banyak tokoh-tokoh yang dalam Perang Jawa memihak Kolonial Belanda merasa cemburu, Diponegoro diperlakukan baik saat di Meteseh Magelang. Dalam suratnya Residen Valck dan para musuh Diponegoro yang masih hidup itu menginginkan agar Diponegoro segera ditangkap dan cepat diasingkan ke luar Jawa. Diponegoro memberikan penilaian kepada Residen Valck bahwa residen itu banyak omong kosong dan sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh. Menurut Diponegoro, Valck adalah pejabat yang sama sekali tidak memberikan respect kepada orang-orang pribumi seperti Diponegoro dan berpenampilan tidak layak seperti halnya seorang residen yang berkuasa terhadap begitu banyak orang Jawa. Bagaimana kisah-kisah berikutnya saat Sang Pangeran di Kapal Pollux? Ikuti terus artikel ini yang tentunya ditemukan kisah-kisah menarik lainnya. Tunggu episode berikutnya, ya. Penulis: Lilik Suharmaji Founder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta. Bacaan Rujukan Carey, Peter. 2022. Percakapan dengan Diponegoro. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.