Netral English Netral Mandarin
03:06wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Kasus 212 Mart, Saidiman: Ahok Sudah Ingatkan, Jangan Mau Ditipu Pakai Ayat

Kamis, 06-Mei-2021 18:45

Pengamat Kebijakan Publik, Saidiman Ahmad
Foto : Istimewa
Pengamat Kebijakan Publik, Saidiman Ahmad
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat kebijakan publik Saidiman Ahmad menyoroti kasus dugaan investasi bodong Komunitas Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda, Kalimantan Timur.

Menurut Saidiman, kasus tersebut merupakan contoh orang-orang yang 'menjual' agama atau disebut juga penipu menggunakan agama.

"Ini yang dimaksud para penjual agama. Bisa juga disebut para penipu menggunakan agama," tulis Saidiman di akun Twitternya, dikutip netralnews.com, Kamis (6/5/2021).

Dari kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi 212 Mart itu, Saidiman mengingat pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) soal 'jangan mau ditipu pakai ayat'.

"Ahok sudah mengingatkan, jangan mau ditipu pakai ayat," cuit Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) itu.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga mempolisikan pengurus Komunitas Koperasi Syariah 212 di Samarinda karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan dana investasi untuk pendirian 212 Mart. Kerugian warga ditaksir mencapai lebih dari Rp 2 miliar. 

Saat ini polisi mulai menyelidiki laporan dugaan investasi bodong Koperasi Syariah 212 Mart di Samarinda. Anggota Koperasi Syariah 212 Mart disebut diiming-imingi bisnis untuk kemajuan umat.

Adapun Koperasi Syariah 212 Mart adalah sebuah koperasi yang lahir dari Aksi 212 pada 2016 lalu. Aksi tersebut dipicu oleh ucapan Ahok yang menyinggung surat Al Maidah saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Saat itu Ahok mengatakan "Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak-Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? Dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan nggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, nggak apa-apa".

Gara-gara pernyataan itu, Ahok dipolisikan atas dugaan penistaan agama. Sejumlah elemen kemudian menggelar Aksi Bela Islam secara beruntun menuntut Ahok ditangkap dan dipenjarakan. Puncaknya adalah Aksi Bela Islam III pada (2/12/2016) yang kemudian disebut Aksi 212.

Ahok pun akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dan pada 9 Mei 2017, mantan Bupati Belitung Timur itu divonis 2 tahun penjara. Hakim menyatakan Ahok terbukti bersalah melakukan penodaan agama.

Setelah Ahok dipenjara, pihak-pihak yang terlibat dalam Aksi 212 membentuk berbagai organisasi dengan embel-embel 212, seperti Alumni 212, Presidium Alumni 212, Persaudaraan Alumni 212, hingga dibentuknya Koperasi Syariah 212. 

Koperasi Syariah 212 memiliki komunitas 212 dan 212 Mart yang sudah banyak tersebar di berbagai daerah.

Dilansir dari Wikipedia, Koperasi Syariah 212 digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), organisasi yang menjadi inisiator Aksi 212 pada 2016 lalu.

Diketahui, GNPF-MUI yang awalnya dipimpin oleh Ustaz Bachtiar Nasir, telah berganti nama dan kepengurusan menjadi GNPF-Ulama yang diketuai oleh Ustaz Yusuf Muhammad Martak. Dalam organisasi itu, Habib Rizieq Shihab (HRS) menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina.  

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P