SURABAYA -- Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya berhasil menjadi perwakilan dalam ajang 4th Undergraduate Research Symposium, sebuah forum akademik tingkat internasional yang melibatkan mahasiswa dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Simposium ini dibuka oleh keynote speaker Assoc. Prof. Dr. Corinna Peil dengan topik “Bridging the Digital Divide for a Sustainable Future,” yang menyoroti pentingnya pemerataan akses digital untuk mewujudkan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan. Keterlibatan mahasiswa Untag Surabaya dalam forum ini mencerminkan kontribusi aktif mereka dalam diskusi akademik di tingkat regional, sekaligus menunjukkan kesiapan generasi muda Indonesia dalam merespons tantangan era digital secara kritis dan kolaboratif. Pada tanggal 28 Mei 2025, saya berkesempatan mengikuti simposium bergengsi ini bersama mahasiswa dari berbagai negara Asia Tenggara. Forum ini menjadi ruang inspiratif untuk saling berbagi hasil penelitian, bertukar wawasan, dan memperluas pemahaman lintas budaya serta disiplin ilmu. Setelah sesi pembukaan oleh Assoc. Prof. Dr. Corinna Peil, acara dilanjutkan dengan presentasi dari para mahasiswa yang mewakili kampus masing-masing. Topik yang diangkat sangat beragam, mulai dari isu lingkungan, pendidikan, hingga perkembangan digital di masyarakat lokal. Setiap presentasi memperlihatkan kesamaan kepedulian di kalangan mahasiswa Asia Tenggara terhadap berbagai isu kontemporer, meskipun dengan pendekatan yang unik dari masing-masing negara. Dalam kesempatan tersebut, saya turut mempresentasikan hasil penelitian saya yang berjudul “Pergeseran Struktur Berita di TikTok: Analisis Isi Konten @winnews_.” Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk mengkaji struktur berita, gaya penyampaian, serta elemen audiovisual dalam konten TikTok @winnews_, guna memahami bagaimana informasi dikonstruksi dan disampaikan melalui media sosial. Presentasi ini mendapatkan sambutan positif dari peserta simposium. Mahasiswa dari Malaysia, Thailand dan Filipina memberikan tanggapan antusias serta membandingkan pengalaman mereka dalam menggunakan media sosial di negara masing-masing. Diskusi yang terjadi menjadi bukti nyata bahwa isu teknologi dan penyebaran informasi merupakan tantangan bersama bagi generasi muda lintas negara. Keikutsertaan saya dalam simposium ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Selain memperkenalkan hasil penelitian kepada audiens internasional, saya juga mendapatkan wawasan baru dari perspektif mahasiswa lain dan memperluas jejaring akademik secara regional. Forum seperti ini dapat mendorong semangat kolaborasi dan pertukaran ide antarnegara, serta memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan di tengah perkembangan dunia digital.