BANDAR LAMPUNG, NETRALNEWS.COM - Beberapa bulan terakhir, media social sering dipenuhi berita tentang banjir, cuaca panas ekstrem, longsor, hingga kualitas udara yang buruk. Banyak orang langsung menyebut semua itu sebagai “bencana alam”. Padahal, jika dipikir lebih dalam, apakah benar semuanya murni karena alam? atau justru akibat perilaku manusia sendiri yang merusak lingkungan hingga dampaknya kembali dirasakan manusia? Menurut saya, salah satu masalah terbesar saat ini ialah manusia terlalu sering menyalahkan alam, tetapi jarang mau mengakui kesalahannya sendiri. Kita marah ketika banjir datang, akan tetapi masih membuang sampah sembarangan. Kita mengeluh udara panas, tetapi penebangan pohon terus saja terjadi. Kita ingin lingkungan bersih, tetapi masih sulit mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Akhirnya muncul lah yang namanya pro dan kontra di dalam masyarakat. Ada yang benar-benar peduli terhadap lingkungan, tetapi ada juga yang merasa isu lingkungan hanyalah hal berlebihan. Jika di lihat dari sisi lain, perkembangan zaman memang membuat kebutuhan manusia semakin besar. Banyak hutan dibuka untuk pembangunan, industri juga yang terus berkembang, dan penggunaan kendaraan pribadi meningkat setiap tahun. Sebagian orang menganggap itu sebuah hal yang wajar karena pembangunan dianggap penting untuk ekonomi dan maupun modern. Namun, ada yang lainnya menilai pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan justru menjadi ancaman besar bagi masa depan. Disini menurut saya, sebenarnya pembangunan dan lingkungan tidak harus selalu saling bertentangan. Masalah utamanya bukan pada pembangunan itu sendiri, tetapi justru pada cara manusia menjalankannya. Banyak orang ingin hidup nyaman, tetapi lupa bahwa lingkungan juga memiliki batas kemampuan untuk menanggung semua aktivitas manusia pastinya. Dalam psikologi lingkungan, perilaku manusia itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Lingkungan dapat memengaruhi cara berpikir, emosi, dan perilaku manusia. Sebaliknya, perilaku manusia juga menentukan apakah lingkungan akan tetap sehat atau justru rusak. Contohnya, orang yang tinggal di lingkungan bersih biasanya lebih nyaman, tenang, dan memiliki kesadaran menjaga kebersihan. Sedangkan lingkungan yang kotor dan penuh polusi sering membuat orang menjadi stres, tidak nyaman, bahkan kurang peduli terhadap keadaan sekitar. Saya sendiri pernah mengalami hal yang membuat saya semakin sadar bahwa lingkungan yang kotor dapat memengaruhi kenyamanan dan bahkan berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang. Di kamar kost sebelah kamar saya, pernah ada penghuni lama yang meninggalkan banyak sampah di bawah kasur. Walaupun katanya sudah dibersihkan, kenyataannya masih terasa sangat kotor. Hampir setiap siang dan malam saya sering mendengar suara seperti hewan yang sedang mengacak-acak atau memakan sesuatu dari dalam kamar tersebut. Hal itu membuat saya merasa khawatir dan tidak nyaman karena posisi kamar itu tepat di sebelah kamar saya. Dari pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa lingkungan yang kotor dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan psikologis seseorang. Bahkan bagi saya yang dilatarbelakangi oleh keluarga yang sangat menjaga kebersihan, itu sangat mengganggu kondisi psikologis saya. Karena sejak dari kecil, saya selalu diajarkan oleh umi saya untuk selalu menjaga kebersihan. Misalnya seperti saat saya dari bermain di halaman rumah yang menghamburkan daun pepohonan, umi saya pasti langsung memberikan arahan kepada saya untuk segera membersihkan daun pepohonan yang berserakan. Contoh lainnya seperti jika saya selesai dari menyapu kamar saya, umi saya pasti selalu memeriksa kembali apakah benar-benar sudah bersih atau belum. Tetapi sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih tergolong rendah. Banyak orang hanya peduli ketika dampaknya sudah dirasakan langsung. Misalnya saat banjir masuk ke rumah, saat udara terasa sesak, atau ketika cuaca semakin tidak menentu. Padahal menjaga lingkungan seharusnya dilakukan sebelum kerusakan terjadi, bukan setelah semuanya terlambat. Salah satu contoh pro dan kontra yang sering muncul adalah penggunaan kendaraan pribadi. Sebagian orang merasa kendaraan pribadi penting karena lebih praktis dan nyaman. Namun di sisi lain, semakin banyak kendaraan berarti semakin tinggi polusi udara yang dihasilkan. Akibatnya kualitas udara menurun dan suhu lingkungan meningkat. Hal seperti ini sering dianggap biasa karena terjadi setiap hari, padahal dampaknya sangat besar dalam jangka panjang. Selain itu, penggunaan plastik juga menjadi masalah yang sering diperdebatkan. Banyak orang mulai mendukung gerakan mengurangi plastik karena limbahnya sulit terurai dan mencemari lingkungan. Tetapi ada juga yang merasa penggunaan plastik masih dibutuhkan karena murah dan praktis. Menurut saya, perdebatan seperti ini menunjukkan bahwa manusia sebenarnya sudah sadar akan masalah lingkungan, hanya saja belum semua orang siap mengubah kebiasaan mereka. Hal lain yang saya lihat cukup memprihatinkan adalah kebiasaan sebagian masyarakat yang lebih peduli pada pencitraan dibanding tindakan nyata. Di media sosial, banyak orang mengkampanyekan cinta lingkungan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih sering membuang sampah sembarangan atau boros menggunakan listrik dan air. Akhirnya kepedulian terhadap lingkungan hanya menjadi tren sesaat, bukan kesadaran yang benar-benar diterapkan. Sebagai mahasiswa, saya merasa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Tidak harus dimulai dari hal besar, karena perubahan kecil juga tetap berarti. Misalnya membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, atau lebih hemat menggunakan listrik. Walaupun terlihat sederhana, kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Dan menurut saya, pendidikan tentang lingkungan juga perlu lebih diperhatikan. Banyak orang sebenarnya tahu bahwa menjaga lingkungan itu penting, tetapi tidak memahami dampak psikologis dan sosial dari kerusakan lingkungan. Lingkungan yang rusak bukan hanya menyebabkan bencana fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental manusia. Suasana yang panas, penuh polusi, dan tidak nyaman dapat meningkatkan stres, emosi negatif, bahkan menurunkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, saya tidak setuju jika kerusakan lingkungan hanya dianggap masalah biasa yang bisa ditunda penyelesaiannya. Jika manusia terus bersikap tidak peduli, maka dampaknya akan semakin besar di masa depan. Alam sebenarnya sudah memberikan banyak tanda, tetapi sering kali manusia memilih mengabaikannya demi kenyamanan sesaat. Pada akhirnya, lingkungan bukan hanya tempat manusia tinggal, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia sendiri. Ketika lingkungan rusak, manusia juga akan ikut merasakan akibatnya. Oleh karena itu, menurut saya sudah saatnya masyarakat berhenti hanya menyalahkan alam dan mulai lebih jujur melihat perilaku manusia sendiri. Menjaga lingkungan bukan tugas satu atau dua orang saja, tetapi tanggung jawab bersama agar kehidupan di masa depan tetap layak dan nyaman untuk dijalani. Oleh: Rahma Azzahra, Mahasiswi Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung