JAKARTA - Literasi atau kemampuan membaca, menulis dan memahami informasi merupakan fondasi utama bagi perkembangan intelektual dan sosial seseorang. Di era digital saat ini, krisis literasi telah menjadi masalah global, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data dari Progamme for International Student Assesment (PISA) 2022, skor literasi membaca siswa Indonesia berada di peringkat bawah, dengan rata-rata 359 poin jauh di bawah rata-rata sebesar 476 poin. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pelajar Indonesia kesulitan dalam memahami teks, yang bedampak pada kemampuan berpikir kritis dan inovasi. Saya sendiri ingat saat waktu kecil saya suka sekali membaca buku setidaknya komik itupun dulu, sekarang? Anak-anak kebih suka scrol Tiktok daripada membaca, jangankan untuk membaca, pindah dari tempat tidurpun tidak sama sekali dan membuat anak tersebut menjadi malas untuk melakukan segala sesuatu. Peristiwa ini gadget yang serba cepat melawan minat baca yang makin tipis membuat saya prihatin. Artikel ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian agar mudah dipahami. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sekitar 77% penduduk Indonesia menggunakan internet, dengan mayoritas pengguna adalah remaja dan pelajar. Gadget telah menjadi bagian penting dari kehidupam sehari-hari, digunakan untuk hiburan, komunikasi dan bahkan pembelajaran. Namun, survei dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2022 mengungkapkan bahwa rata-rata siswa SMP menghabiskan 3-4 jam per hari di depan layer gadget sering kali digunakan untuk main game atau scrolling media sosial. Dampaknya adalah waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca buku dialihkan ke konten digital yang instan. Misalnya aplikasi seperti Tiktok atau Instagram menawarkan video pendek yang mudah dicerna, sehingga membaca teks panjang terasa membosankan. Penelitian dari Universitas Indonesia (2021) menemukan bahwa 60% pelajar lebih memilih gadget untuk belajar karena “lebih menyenangkan”, meskipun hal ini tidak meningkatkan kemampuan literasi mereka secara signifikan. Minat baca di Indonesia memang rendah sejak lama. Survei dari Perpustakaan Nasional (2023) menunjukkan bahwa orang-prang Indonesia hanya membaca 1-2 buku per tahun, dengan pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang paling rendah hanya 0.8 buku per tahun. Factor-faktor seperti kurangnya akses ke buku, kurikulum sekolah yang padat, dan budaya yang lebih mengutamakan nilai daripada minat baca. Gadget memperburuk situasi ini. Alih-alih membaca novel atau artikel, pelajar lebih suka mengonsumsi konten ringan seperti meme atau video viral dan lain sebagainya. Kurang membaca membuat literasi menurun, yang pada gilirannya membuat membaca terasa lebih sulit dan kurang menarik. Krisis literasi tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga masyarakat dan ekonomi bangsa. Pelajar dengan literasi rendah cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis lemah, sehingga sulit bersaing di dunia akademik. Menurut bank dunia (2022), rendahnya literasi berkontribusi pada produktivitas rendah, dengan potensi kerugian ekonomi hingga 10% PDB Indonesia. Di tingkat sosial, hal ini dapat meningkatkan kesenjangan. Pelajar dari keluarga kurang mampu mungkin memiliki akses ke gadget edukatif dan perpustakaan, sementara yang kurang mampu terjebak dalam konten hiburan murah. Selain itu, literasi rendah membuat masyarakat semakin rentan terhadap hoaks dan informasi palsu, yang sering menyebar melalui media sosial. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan pendekatan yang melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berikut beberapa langkah praktis: 1. Integrasi teknologi dalam pembelajaran literasi Sekolah dapat menggunakan gadget sebagai alat, bukan pengganti. Misalnya aplikasi seperti Duolingo dan Khan Academy dapat dikombinasikan dengan membaca buku fisik. Kemendikbud telah meluncurkan program “Gerakan Literasi Sekolah” yang mendorong siswa membaca 15 menit sehari, dengan dukungan digital. 2. Meningkatkan Akses dan Minat Baca Perpustakaan sekolah perlu diperluas dan buku digital gratis harus lebih mudah diakses. Kampanye seperti “Indonesia Membaca” oleh suatu Yayasan atau Lembaga Pendidikan di Indonesia dapat didorong untuk membuat membaca lebih menarik. Misalnya melalui komik edukatif atau buku interaktif. 3. Pendidikan Keluarga dan Pengaturan Waktu Gadget Orang tua harus membatasi waktu gadget anak dan mendorong rutinitas membaca. Penelitisan dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa batasan 1-2 jam gadget per-hari dapat meningkatkan fokus dan minat baca. 4. Kolaborasi dengan Industri Teknologi Perusahaan gadget seperti Google atau Samsung dapat berkolaborsi untuk membuat fitur yang mendorong literasi, seperti mode “fokus baca” yang memblokir notifikasi selama membaca. Krisis literasi di kalangan pelajar Indonesia adalah masalah mendesak yang dipicu oleh dominasi gadget rendahnya minat baca. Meskipun gadget menawarkan kemudahan, mereka tidak boleh menggantikan kebiasaan membaca yang membangun fondasi pengetahuan. Dengan langkah-langkah seperti integrasi teknologi, peningkatan akses buku, dan pendidikan keluarga, kita dapat menciptakan generasi yang literat dan siap menghadapi tantangan masa depan. Mari kita mulai dari sekarang dengan slogan “Letakkan gadget sejenak dan ambil buku di tangan”. Literasi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan untuk kemajuan bangsa