MALANG, NETRALNEWS.COM- Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) melakukan inisiasi kerja sama terkait penulisan sejarah desa dengan Pemerintah Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Pada 12-14 Agustus 2023, tim Departemen Sejarah yang diwakili oleh Arif Subekti (Sekretaris Departemen serta Koordinator Prodi S1 Sejarah), Ronal Ridhoi (Dosen Departemen Sejarah dan Tim Program Kompetisi Kampus Merdeka 2022-2023), dan Nanang Sulistyono (Laboran Departemen Sejarah) bertandang ke Desa Bayu untuk merealisasikan program ini. Kegiatan inisiasi ini didanai Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2023. Tujuan PKKM adalah mengembangkan pembelajaran di Prodi S1 Sejarah dalam mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Tim PKKM, Ronal Ridhoi, menyatakan bahwa inisiasi kerja sama ini dilakukan untuk memperkuat kekhasan dan fokus kawasan yang tengah ditekuni oleh Prodi S1 Sejarah. “Sejarah Desa Bayu adalah representasi dari dinamika politik Nusantara abad XVII, yang tidak sekadar sejarah yang hitam putih, yakni kolonialisme versus perlawanan penguasa lokal. Hal ini penting untuk memperkuat kekhasan prodi kami, yaitu Sejarah Budaya dan Heritage. Selain itu, sejarah Desa Bayu sekaligus menunjukkan keunikan perubahan dan kesinambungan sosial budaya di kawasan pesisir selatan Jawa. Sejak 2018, beberapa riset dan pengabdian kami memang berfokus di pesisir selatan Jawa”, tandas Ronal. Mengutip penelitian Sri Margana, Puputan Bayu yang terjadi pada 1771-1773 adalah perang puputan antara masyarakat lokal Blambangan di bawah kepemimpinan Jagapati melawan hegemoni kekuasaan kolonial Belanda. Jagapati adalah keturunan Tawang Alun, raja terbesar Kerajaan Blambangan. Ia menginisiasi pemberontakan melawan hegemoni kekuasaan Belanda, yang telah menancapkan pengaruhnya dalam politik Istana Blambangan. Jagapati memilih Bayu yang terletak di lereng Gunung Raung sebagai markas militer serta pusat kekuasaan politik. Rakyat Blambangan yang berpihak ke Jagapati berbondong-bondong memasuki Bayu. Dikepung dari berbagai sisi, blokade suplai makanan menuju Bayu mutlak mandek. Namun, Jagapati menolak menyerah. Dengan keyakinan bahwa perjuangannya adalah belaka kebenaran, Jagapati mengobarkan Perang Puputan. Daripada menyerah kepada musuh, lebih baik melawan sampai titik darah penghabisan. Bayu akhirnya jatuh. Hari ini, heroisme sejarah Puputan Bayu dipilih sebagai titi mangsa kelahiran Kabupaten Banyuwangi. Ketika ditemui pada 13 Agustus 2023 di kediamannya, Kepada Desa Bayu, Sugito, menyambut baik inisiasi dari Departemen Sejarah ini. “Tentu saja, saya mewakili masyarakat Desa Bayu menyambut baik kegiatan ini. Sejarah desa ini harus ditulis, supaya anak cucu kami tidak lupa akan sejarah leluhurnya.” Desa Bayu sebelumnya pernah viral di masyarakat Indonesia, yakni setelah geger cerita KKN di Desa Penari (2019) di Twitter dan Film KKN di Desa Penari (2022), film yang mengangkat kisah horor mahasiswa KKN dari dari salah satu kampus di Jawa Timur. Meskipun proses pengambilan film KKN di Desa Penari dilakukan di daerah Sleman Yogyakarta, namun sejak awal viral cerita tersebut telah membuat Desa Bayu ikut viral berkat cocoklogi antara cerita di Twitter dan film dengan fakta-fakta di lapangan. Tokoh pemuda setempat, Fikri, menuturkan bahwa telah banyak media TV nasional, youtuber dari berbagai daerah di Indonesia, juga pengunjung dari berbagai wilayah Nusantara mengunjungi Desa Bayu karena penasaran akan cerita tersebut. “Waktu film tersebut viral, banyak sekali yang mengunjungi Bayu. Saya beberapa kali memfasilitasi teman-teman youtuber dan media tv untuk ambil footage tentang KKN di Desa Penari di sekitaran Desa Bayu dengan menggandeng beberapa warga untuk mengantar mereka ke lokasi kampung yang hilang dan makam di pinggir hutan lindung. Kalau dalam versi film, disebutkan makam di pinggir hutan larangan”, pungkas Fikri.