JAKARTA - Konsep kekuasaan dalam budaya Jawa bersifat mistis. Dalam budaya Jawa, kekuasaan bukan hanya hasil pemilihan atau keturunan, tetapi sesuatu yang turun secara spiritual. Jabatan tinggi dianggap memiliki energi, karisma, dan legitimasi adikodrati. Pemimpin yang benar dianggap menerima "sinyal" atau “wahyu” dari alam gaib atau Tuhan. Karena itu, pemimpin tidak sekadar “dipilih”, tetapi “ditakdirkan”. Wahyu Keprabon diartikan juga sebagai cahaya kepemimpinan. Wahyu Keprabon dipercaya sebagai cahaya metafisik yang turun pada seseorang, memberikan kewibawaan spontan, memudahkan jalan politik, membuat orang lain tunduk atau hormat. Seseorang yang mendapat wahyu tampak “nglimprah” (wibawanya keluar), disegani bahkan tanpa jabatan resmi, sering tiba-tiba mendapat dukungan luas. Bagi masyarakat Jawa, ini adalah tanda bahwa ia “ditunjuk” oleh alam atau Tuhan. Dalam budaya Jawa mengenal tradisi kerajaan bahwa raja dipilih alam, bukan sekadar darah. Dalam kosmologi Jawa, raja yang sah bukan hanya yang berdarah ningrat, tapi yang menerima wahyu. Oleh karena itu raja-raja Jawa selalu melakukan laku tapa, semedi, atau ritual tertentu untuk "menarik" wahyu. Konsep ini kemudian terus hidup sampai era politik modern. Psikologi kolektif Jawa mengenal bahwa kekuasaan memiliki unsur harmoni kosmis. Psikologi keagamaan masyarakat Jawa memandang bahwa alam spiritual dan alam dunia terhubung, pemimpin harus selaras dengan keseimbangan kosmis, wahyu adalah tanda bahwa seseorang cocok memimpin. Pemimpin tanpa wahyu dianggap membawa kegaduhan sosial, tidak stabil, dan kelak pasti jatuh. Narasi Publik, Media, dan Politik Banyak Memperkuat Dalam politik Indonesia modern, istilah “wahyu keprabon” masih sering muncul, walau tidak secara terbuka : tokoh tertentu dianggap “punya aura pemimpin”, publik memberi dukungan karena “beliau memang cocok memimpin”, kejatuhan politik dianggap sebagai “wahyu yang pindah”. Narasi ini hidup dalam obrolan warung, pidato budaya, kampanye politik, sampai tafsir paranormal. Semua ini memperkuat kepercayaan masyarakat. Spiritualitas Jawa memperlakukan wahyu sebagai energi bergerak. Merupakan kepercayaan kuat yang muncul karena diyakini bahwa wahyu bisa berpindah dari satu orang ke orang lain, wahyu bisa “turun” di tempat tertentu (Gunung Lawu, Imogiri, Kediri, Mataram), wahyu bisa hilang jika pemimpin melanggar harmoni moral (serakah, zalim, melupakan laku). Ini membuat masyarakat Jawa memandang perubahan politik bukan sekadar manuver, tapi perpindahan energi spiritual. Orang Jawa sangat percaya pada Wahyu Keprabon karena kekuasaan dianggap fenomena spiritual, bukan sekadar politik. (Yohana Sri W., dari berbagai sumber)