JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Planet Merkurius sering dianggap sebagai planet paling membosankan di Tata Surya. Permukaannya tampak gersang, tidak menunjukkan jejak kehidupan, dan atmosfernya sangat tipis. Namun di balik tampilannya yang sederhana, Merkurius justru menjadi salah satu planet paling misterius dan membingungkan bagi para ilmuwan. Merkurius berukuran sangat kecil, massanya sekitar 20 kali lebih ringan dari Bumi dan diameternya hanya sedikit lebih besar dari Australia. Meski demikian, planet ini merupakan planet terpadat kedua di Tata Surya setelah Bumi. Kepadatan ekstrem tersebut berasal dari inti logam raksasa yang menyusun sebagian besar volume planet, jauh lebih besar dibandingkan mantel dan keraknya yang sangat tipis. Keberadaan Merkurius menjadi teka-teki besar karena posisinya yang sangat dekat dengan Matahari. Berdasarkan teori pembentukan planet, wilayah sedekat itu seharusnya tidak memungkinkan terbentuknya planet berbatu dengan karakteristik seperti Merkurius. Hingga kini, para ilmuwan belum menemukan model pembentukan planet yang benar-benar mampu menjelaskan bagaimana Merkurius bisa terbentuk dan bertahan. Masalah ini pertama kali terungkap saat wahana Mariner 10 milik NASA melakukan lintasan dekat Merkurius pada tahun 1970-an. Data gravitasi menunjukkan bahwa inti Merkurius mencakup sekitar 85 persen dari jari-jarinya, angka yang jauh lebih besar dibandingkan planet berbatu lain seperti Bumi, Venus, dan Mars. Struktur internal ini langsung menantang pemahaman ilmuwan tentang evolusi planet. Misteri semakin dalam ketika misi MESSENGER yang mengorbit Merkurius pada 2011 hingga 2015 menemukan unsur-unsur volatil seperti kalium dan thorium di permukaannya. Unsur-unsur ini seharusnya menguap akibat panas ekstrem Matahari. Lebih mengejutkan lagi, ditemukan es air yang terperangkap di kawah-kawah kutub yang selalu berada dalam bayangan. Berbagai teori pun bermunculan. Salah satu yang paling populer menyebutkan bahwa Merkurius dulunya jauh lebih besar dan mengalami tabrakan dahsyat dengan benda langit lain. Tabrakan tersebut diduga mengelupas mantel dan keraknya, menyisakan inti logam yang padat. Namun, teori ini sulit menjelaskan mengapa unsur volatil masih bertahan setelah peristiwa sedemikian ekstrem. Teori lain menyatakan bahwa Merkurius mungkin merupakan “penyerang” dalam tabrakan kosmik, bukan korban. Dalam skenario ini, Merkurius menabrak planet lain seperti Venus, kehilangan lapisan luarnya, lalu terlempar ke orbit saat ini. Ada pula gagasan bahwa Merkurius terbentuk dari material kaya besi di dekat Matahari setelah unsur-unsur ringan menguap akibat panas tinggi pada masa awal Tata Surya. Selain itu, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa planet-planet bagian dalam Tata Surya sebenarnya bermigrasi dari posisi awalnya. Merkurius mungkin tertinggal saat planet lain bergerak menjauh, sehingga pertumbuhannya terhenti lebih cepat dan ukurannya tetap kecil. Semua teori tersebut masih memiliki celah dan belum mampu menjawab seluruh kejanggalan Merkurius. Harapan besar kini tertuju pada misi BepiColombo, kerja sama Badan Antariksa Eropa dan Jepang, yang dijadwalkan mulai mengorbit Merkurius pada November 2026. Misi ini akan memetakan komposisi permukaan, struktur inti, medan magnet, serta kandungan unsur volatil planet tersebut secara detail. Data dari BepiColombo diharapkan dapat mengungkap apakah Merkurius pernah memiliki samudra magma, bagaimana inti raksasanya terbentuk, dan mengapa permukaannya sangat gelap dibandingkan Bulan. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya penting untuk memahami Merkurius, tetapi juga untuk menjelaskan proses pembentukan planet berbatu di seluruh galaksi. Hingga kini, Merkurius tetap menjadi anomali kosmik, sebuah planet kecil dengan inti raksasa yang seolah tidak seharusnya ada. Di balik permukaannya yang penuh kawah dan tampak tak bernyawa, Merkurius menyimpan kunci penting untuk memahami bagaimana planet-planet terbentuk dan berevolusi di alam semesta.