JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Jika Anda mencermati kuliner di berbagai kota di Nusantara belakangan ini, maka bisa dikatakan ada fenomena yang bermunculan hampir merata. Di mana-mana berdiri kafe dan kedai kopi. Anehnya, hampir semuanya ramai dikunjungi pembeli. Pecinta minum kopi semakin banyak. Ngopi seolah sudah menjadi kegiatan wajib bagi masyarakat Indonesia. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah minum kopi dan asal mula warung kopi di Indonesia? Untuk tahu jawabannya, Saiful Hakam dan Lidya Sinaga telah membantu kita mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Melalui catatannya yang berjudul “Orang Tionghoa dalam Budaya Ngopi di Indonesia,” dalam buku Tionghoa dan Budaya Nusantara (2021: 291-320), Saiful Hakam dan Lidya Sinaga mengurai bagaimana orang-orang Tionghoa perdana ikut terlibat menjadikan ngopi sebagai budaya di Indonesia. Pertanyaan usil, bukankah Orang Tionghoa terkenal minum teh dan bukan ngopi? Saiful Hakam dan Lidya Sinaga mencatat semacam hipotesis yang memang masih perlu dibuktikan secara ilmiah. Orang- orang Tionghoa di Daratan Tiongkok minum teh tapi orang- orang Tionghoa Perantauan atau mereka yang sudah menetap di negeri-negeri Asia Tenggara minum kopi. Cita rasa budaya Tiongkok adalah Teh, sebaliknya cita rasa budaya Tionghoa Perantauan adalah kopi. Memang, sudah banyak kajian yang telah menyebut bahwa kopi bukan merupakan tanaman asli Indonesia, melainkan dibawa oleh VOC pada akhir abad 16. Namun bagaimana ngopi kemudian tersebar di berbagai wilayah di Nusantara? Ngopi di Berbagai Daerah Setidaknya ada tiga daerah utama penghasil kopi dalam perjalanan sejarah Indonesia yakni Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Menariknya, jika ditelisik, ternyata industri kopi banyak digerakkan oleh orang-orang Tionghoa. Industri kopi pertama di Indonesia berdiri di Surabaya, yang hingga kini dikenal dengan merk “Kapal Api”. Perusahaan ini didirikan tahun 1927 oleh Go Soe Loet, imigran asal Fujian, bersama kedua saudaranya. Seiring munculnya bisnis kedai kopi di Indonesia, orang- orang Tionghoa juga menjadi pionir dalam membangun serta mengembangkan kedai-kedai kopi dan budaya minum kopi. Jika kita perhatikan, kedai-kedai kopi semacam ini tumbuh subur di wilayah-wilayah dengan komunitas Tionghoa yang cukup signifikan, terutama di tiga daerah utama penghasil kopi yang telah disebut sebelumnya. Sementara di Pontianak, juga ada “Kopi Aming “ dan “Asiang” yang merupakan kedai kopi legendaris di kota ini. Lagi-lagi, keduanya didirikan oleh orang-orang Tionghoa. Kopi Aming didirikan oleh Ng A Thien sejak 1970, sedangkan kopi Asiang tercatat lebih lama, yaitu tahun 1958. Kini, kedai-kedai kopi ini kini telah menjadi ikon kota Pontianak. Di Jakarta, kedai kopi terkenal antara lain “Bakoel Koffie” yang merupakan bentuk modernisasi dari pemanggangan kopi pertama di Jawa, Tek Sun Ho yang berdiri sejak 1878. Pendiri Tek Sun Ho, Liaw Tek Siong, disebut mendapatkan biji kopi mentah dari wanita yang menjajakannya dalam bakul tiap pagi di beranda kedai kopi miliknya, sehingga menjadi inspirasi nama kedai kopinya. Beberapa fakta tersebut telah menyiratkan bahwa ada keterkaitan erat antara budaya ngopi dengan bisnis kedai kopi. Ada aspek sejarah dan kultural yang tak bisa memungkiri adanya peran orang-orang Tionghoa di Nusantara. Penyuguhan kopi dengan cangkir keramik khas Tiongkok tempo dulu dan cara membuat kopi dengan disaring dan ditarik khas Hainan juga masih dipraktikkan oleh pemilik Kopi Asiang. Ini juga salah satu bukti yang menunjukkan pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara. Budaya Ngopi Sudah Ada sebelum Tanam Paksa Benar bahwa perkembangan tanaman kopi di Nusantara sangat dipengaruhi oleh munculnya sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di era kolonial Belanda yang diterapkan sejak 1830, di mana salah satu tanaman komoditi ekspor yang ditentukan dan wajib ditanam adalah kopi. Hasil tanaman kopi tersebut lebih banyak ditujukan untuk perdagangan ke luar Hindia-Belanda mengingat tujuan kebijakan ini sendiri adalah untuk mengisi pundi-pundi kas negara yang saat itu terkuras membiayai perang Diponegoro dan lilitan utang. Namun demikian, bukan berarti sebelum kebijakan tanam paksa tidak ada tanaman kopi di Nusantara. Di Sumatera Barat, sebelum diterapkan sistem tanam paksa tahun 1847, penduduk Minangkabau sudah lama menanam tanaman kopi dan memperdagangkannya dengan pedagang Amerika yang datang ke Padang (Erman 2014). Tradisi minum kopi bahkan lebih awal ditemui di Aceh karena memiliki hubungan dagang dan diplomatik dengan Turki yang diketahui memiliki kebiasaan minum kopi seiring proses Islamisasi. Hal ini mengingat ada kaitan erat antara tanaman kopi dan penyebaran agama Islam yang berhubungan dengan dunia Arab di mana tradisi minum kopi berasal (Erman 2014). Meskipun utamanya tanaman kopi untuk diekspor, namun sebagian juga untuk konsumsi dalam negeri. Salah satu bukti terjadi di Batavia ketika muncul perusahaan pengolahan kopi pada 1878 dan dijalankan oleh seorang migran dari suku Hakka, Liaw Tek Soen. Selain sebagai tempat pengolahan biji kopi asal berbagai daerah nusantara, Liaw Tek Soen juga membuka warung kopi yang kemudian terkenal dengan nama Waroeng Kopi Tinggi. Sementara dalam Erwiza Erman seperti dikutip Saiful Hakam, di Kota Tanjung Pandan dan Manggar di Pulau Belitung, sejarah munculnya warung kopi di Belitung tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi timah dan kemunculan masyarakat tambang yang mayoritas etnik Tionghoa (Erman 2014). Seiring berdirinya perusahaan timah Belitung atau dikenal dengan Billiton Maatschappij pada tahun 1852 dandatangnya kuli-kuli tambang dari Tiongkok, saat itulah mulai muncul dan berkembang warung kopi di Pulau Belitung. Di pusat Kota Tanjung Pandan, terdapat warung kopi Ake yang dibuka oleh keluarga Tionghoa sejak tahun 1921. Hingga sekarang, warung kopi ini dikelola oleh generasi ketiga (dikenal dengan Akiong), bersama anaknya yang adalah generasi keempat (Nursastri 2015). Meskipun belum banyak literaturnya, namun soal usaha warung kopi di kalangan Tionghoa Singkawang, juga penting dicatat di sini. Dalam buku China Khek di Singkawang, Hari Poerwanto sempat menyinggung masalah ini. Disebutkan bahwa jika pekerjaan mereka bersifat mencari tambahan penghasilan, biasanya pekerjaan mereka hampir serupa dengan suaminya, misalnya ikut serta menangani toko, warung kopi, rumah makan, membantu di sawah dan kebun, serta lain sebagainya (Poerwanto 2004). Beberapa catatan sejarah di atas menjadi penunjuk penting tentang cikal bakal kedai kopi lokal di Indonesia yang kemudian berkembang semakinmodern, bahkan menjamur sejak 2017. Kemunculan kedai kopi lokal modern ini pada dasarnya merupakan generasi baru dari kedai kopi lokal serupa yang jejaknya masih bisa kita rasakan hingga kini. Di Batavia yang kini bernama Jakarta, banyak kedai kopi yang bisa kita lacak asal-usulnya. Harian Kompas pernah menuliskan liputannya tentang kedai-kedai kopi yang kini dikategorikan legendaris. Kopi es Tak Kie di bilangan Glodok-Jakarta Barat, tentu menjadi pertama yang disebut setiap berbicara tentang kedai kopi legendaris di Jakarta. Kedai ini didirikan pada 1927 oleh Liong Kwie Tjong. Masih di daerah yang sama, ada satu kedai kopi lagi yang umurnya lebih tua dari kedai Tak Kie yakni didirikan sejak 1878 oleh Tek Sun Ho atau dikenal juga dengan nama Kopi Warung Tinggi PD. Ini belum termasuk sejumlah nama lain, seperti Kong Djie Coffee yang berdiri sejak 1943, Bakoel Koffie, Kopi Luwak Gondangdia (dulu bernama Toko Kopi Cap Burung Kenari yang berdiri sejak 1930), Phoenam Coffee Shop (berdiri tahun 1946), Toko Sedang Djaja Wong Hin (berdiri tahun 1943), dan Kwang Koan Kopi Johny. Dari beberapa nama kedai kopi yang disebutkan di Jakarta ini, ke semuanya dimiliki oleh orang Tionghoa. Ini menarik mengingat masyarakat Tionghoa yang dikenal dengan budaya minum teh-nya justru menjadi pionir lahirnya kedai-kedai kopi lokal di Indonesia, meskipun dalam beberapa kasus sejarah keberadaan warung kopi ini juga tidak bisa dilepaskan dari teh. Salah satunya adalah kedai kopi Tak Kie yang pada awal dirintis oleh generasi pertamanya justru hanya berjualan teh pahit dan teh manis. Sementara itu, untuk warung kopi Phoenam diakui sejak awal memang telah membuka warung kopi. Bahkan sebelum datang ke Makassar, mereka justru tidak mengenal budaya minum kopi. Budaya minum kopi yang telah ada pada masyarakat lokal dimana mereka datang dan bermukim inilah yang kemudian mereka kembangkan secara serius dan konsisten, sehingga akhirnya justru bertahan melampaui jaman dan menjadi ikon daerah tersebut. Perkembangan warung kopi yang dirintis komunitas Tionghoa di berbagai wilayah ini jelas mengindikasikan bahwa bahwa warung kopi merupakan salah satu warisan Tionghoa pada budaya kuliner Nusantara, sekaligus bentuk adaptasi komunitas ini dengan situasi sosial budaya masyarakat lokal di tempat mereka bermukim.