JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam ranah pemasaran digital kini makin masif dan beragam bentuknya. Salah satu tren yang sedang marak di kalangan pemasar affiliate adalah pembuatan video promosi menggunakan visual produk berbasis animasi AI. Melalui teknik ini, wujud barang yang dipasarkan mulai dari perlengkapan rumah tangga, gawai, hingga produk kecantikan bisa diubah menjadi tampilan digital yang sangat estetik, bergerak dinamis, dan terlihat sempurna di layar gawai. Langkah ini diakui sangat efisien bagi para pembuat konten karena mereka tidak perlu lagi membeli sampel barang fisik hanya untuk kebutuhan pengambilan gambar. Efek visual berteknologi AI juga terbukti ampuh mencuri perhatian pengguna media sosial dalam beberapa detik pertama. Namun, di balik kepraktisan dan tampilan visual yang memanjakan mata tersebut, ada dampak negatif serius yang mengintai interaksi jual beli digital. Ancaman terbesar dari penggunaan rekayasa visual produk berbasis AI ini terletak pada timbulnya jurang pemisah antara ekspektasi dan realita. Algoritma visual AI sering kali mempercantik bentuk, warna, fungsi, hingga tekstur barang secara berlebihan hingga terlihat hiper-realistis. Ketika pembeli tergiur dan memesan produk tersebut, barang fisik yang sampai di rumah sering kali tampak jauh lebih sederhana, bahkan tidak memiliki fitur atau kualitas semewah yang ditayangkan dalam animasi video. Kondisi ini tidak hanya merugikan pembeli yang merasa terkecoh, tetapi juga dapat berdampak sistemik pada para pemilik toko online. Angka pengembalian barang (return) bakal meningkat tajam karena ketidaksesuaian barang dengan materi promosi yang tersebar di media sosial. Akibatnya, reputasi toko bisa hancur dan dibanjiri ulasan buruk akibat konten promosi manipulatif yang dibuat oleh para pemasar affiliate. Bagi pemasar affiliate itu sendiri, mengandalkan visual buatan mesin tanpa memperlihatkan wujud asli produk adalah strategi yang sangat berisiko dalam jangka panjang. Ketika audiens menyadari bahwa konten yang disajikan hanyalah rekayasa visual yang menyesatkan, tingkat kepercayaan publik akan merosot tajam. Pada akhirnya, kejujuran dalam menampilkan detail produk secara apa adanya tetap menjadi pondasi utama agar bisnis affiliate dapat bertahan dan berkembang secara sehat.