JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketika banyak ekonomi besar tersendat sepanjang 2025, Indonesia justru menyambut 2026 dengan kepercayaan diri. Di tengah badai ketidakpastian global, laporan perdana Danantara Indonesia, holding BUMN yang baru berusia sepuluh bulan, menampilkan satu pesan jelas: ekonomi nasional sedang memasuki fase kebangkitan. Setelah setahun konsolidasi yang berat, ekonomi nasional diperkirakan tumbuh lebih kuat dengan dukungan kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran moneter yang mulai mengalir ke sektor riil. Lihatlah angka-angka di paruh pertama 2025. Pengetatan fiskal, likuiditas yang kering, pertumbuhan kredit melambat dari dua digit, dan belanja konsumen melemah. Tapi menjelang akhir tahun, pemandangan berubah total. Belanja konsumen tergelincir kembali, kepercayaan konsumen menyentuh rekor tertinggi, dan pasar kerja mulai bersenyum setelah gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur. Faktanya, sektor manufaktur sudah mencatat ekspansi empat bulan berturut-turut, awalnya dari lonjakan ekspor, kemudian beralih didorong pesanan domestik yang kuat. Inilah resep ekonomi klasik: produksi naik, lapangan kerja terbuka, daya beli menguat, konsumsi meningkat, dan produksi kembali terdorong lebih tinggi. Danantara mengidentifikasi tiga mesin utama yang akan mengakselerasi pertumbuhan tahun ini. Pertama, kebijakan fiskal bergeser menjadi ekspansif. Program Makan Bergizi Gratis menjadi kuda perang pemerintah dalam hal ini. Dalam setahun, program sudah menjangkau lebih dari 55 juta penerima manfaat lewat sekitar 19.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi, dengan target meluas ke 80 juta orang pada Juni 2026. Bukan hanya soal gizi anak, tetapi juga penggerak ekonomi lokal karena satuan ini membeli bahan pangan dari petani dan pedagang setempat. Kedua, pelonggaran moneter mulai bekerja efektif. Bank Indonesia pangkas suku bunga acuan total 125 basis poin sepanjang 2025, membuka ruang ekspansi kredit di kuartal-kuartal mendatang, utamanya kredit modal kerja. Yang menggembirakan, kredit investasi tidak pernah benar-benar surut sepanjang 2025. Ini sinyal bahwa selera investasi pelaku usaha masih berlalu kuat, prasyarat mutlak untuk pertumbuhan PDB jangka panjang. Ketiga, Danantara sendiri sebagai katalis. Melalui Danantara Investment Management, holding menempatkan modal awal untuk restrukturisasi dan pengembangan BUMN. Presiden Prabowo Subianto punya target ambisius: mengurangi jumlah BUMN dari lebih 1.000 entitas menjadi sekitar 200 dalam beberapa tahun ke depan. Ini transformasi untuk menyederhanakan struktur dan meningkatkan efisiensi alokasi modal negara. Pasar modal sudah berbicara. Tiga BUMN yang digarap Danantara mencatat lonjakan harga saham spektakuler sepanjang 2025. Krakatau Steel naik 243 persen, PT Timah 221 persen, dan Garuda Indonesia 187 persen. Krakatau Steel saja sudah catat laba bersih USD 24 juta pada kuartal ketiga 2025, turunkan biaya usaha 12 persen, dan naikkan volume penjualan baja dari 226 ribu ton ke 269 ribu ton. PT Timah nikmati rerating berkat pengetatan aturan terhadap penambang ilegal yang memperbaiki tata kelola sektor, sementara Garuda jalani rehabilitasi melalui pendanaan untuk perawatan pesawat dan reaktivasi armada, plus rencana penggabungan Citilink dan Pelita Air untuk kurangi redundansi. Di panggung global, ada celah peluang. Laporan Danantara melihat potensi pelemahan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga komoditas, pola yang dalam sejarah kerap berbarengan dengan pertumbuhan tinggi Indonesia. Tahun 2025 jadi ujian bagi sistem perdagangan global ketika kebijakan tarif Trump mengguncang pasar. Namun ekspor Tiongkok tetap tumbuh, dolar masih dominan, dan ketidakpastian tarif mulai mereda. Sementara itu, mesin pertumbuhan ekonomi besar justru melambat, sedangkan banyak negara berkembang di Asia menunjukkan ketangguhan dan dapat manfaat dari kelebihan kapasitas Tiongkok yang menekan inflasi global serta membuka peluang investasi langsung lebih besar. Bursa saham pada 2025 mencatat kinerja impresif. Indeks Harga Saham Gabungan tutup dengan rekor sekitar 8.710 dan reli sekitar 20 persen, performa tahunan terkuat dalam dua belas tahun terakhir. Namun indeks LQ45 tertinggal dari banyak indeks negara berkembang lain selama dua tahun berturut-turut. Tekanan makro membebani laba emiten besar seperti bank pelat merah dan Telkom. Kepemilikan asing yang tinggi di saham likuid juga memperkuat tekanan jual saat ketidakpastian meningkat. Tapi di sinilah peluang investor ritel. Valuasi ekuitas Indonesia sedang berada di zona murah secara historis. IDX30 diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba sekitar 1,1 standar deviasi di bawah rata-rata, menawarkan earnings yield kompetitif dibanding imbal hasil obligasi pemerintah. Sejumlah BUMN memberikan dividend yield di atas 8 persen, kombinasi menarik untuk pemburu dividen dan capital gain. Optimisme Danantara akan terasa nyata bagi masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis yang meluas menghidupkan ekonomi lokal lewat belanja pangan di tingkat petani dan pedagang kecil. Pemulihan manufaktur membuka kembali lapangan kerja, menciptakan lingkaran positif: produksi naik, pekerja terserap, daya beli pulih, konsumsi meningkat. Suku bunga lebih rendah dan akses kredit lebih longgar membantu UMKM perkuat modal kerja. Perbaikan kinerja BUMN yang menguasai aset lebih dari separuh PDB berpotensi diterjemahkan menjadi layanan listrik, bahan bakar, transportasi, dan perbankan lebih efisien dan terjangkau. Danantara menutup dengan pesan sederhana namun penuh makna: jangan pernah bertaruh melawan Indonesia. Pasar modal nasional bangkit dari krisis Asia 1997, guncangan global 2008, dan syok COVID 19 pada 2020. Ekonomi tetap tumbuh melewati lima siklus pemilihan presiden langsung tanpa keluar jalur. Dengan fondasi resiliensi yang teruji, kebijakan yang lebih selaras, dan reformasi BUMN yang nyata, 2026 punya potensi menjadi tahun ketika optimisme terhadap Indonesia kembali melampaui ekspektasi.