JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Industri kertas kemasan (packaging paper) diproyeksikan mengalami lonjakan signifikan seiring dengan meningkatnya aktivitas e-commerce global dan berbagai stimulus ekonomi yang digulirkan oleh sejumlah negara. Nilai konsumsi kertas untuk kebutuhan kemasan diperkirakan naik sebesar USD 76 juta, didorong oleh insentif pemerintah seperti stimulus fiskal China sebesar 2.640 triliun, pemotongan pajak di Amerika Serikat, serta subsidi BSU (bantuan subsidi upah) di Indonesia. Peningkatan daya beli masyarakat dari berbagai negara berdampak langsung terhadap konsumsi produk berbasis e-commerce, yang pada gilirannya mendorong permintaan terhadap bahan kemasan berbasis kertas. China mencatatkan konsumsi kertas tertinggi di dunia sebesar 132 juta ton, disusul oleh Amerika Serikat (65 juta ton), dan Indonesia di peringkat ke-11 dengan konsumsi 7 juta ton per tahun. Dalam perdagangan internasional, Indonesia mengekspor kertas kemasan terbesar ke Singapura sebanyak 5 juta ton, menjadikannya pasar utama. Di pasar domestik, porsi penggunaan kertas pada industri kemasan masih sebesar 37%, sementara plastik mendominasi dengan 41%. Namun, tren ini diperkirakan berubah karena kebijakan pembatasan plastik sekali pakai yang mulai diterapkan di berbagai daerah, terutama di gerai-gerai ritel. Industri kertas nasional diprediksi akan tumbuh seiring transisi ke bahan kemasan ramah lingkungan. Pemerintah daerah yang mulai melarang penggunaan kantong plastik menjadi katalis positif bagi penggunaan kertas di sektor packaging. Permintaan domestik terhadap produk kemasan berbasis kertas juga meningkat, terutama di wilayah urban dan kawasan dengan tingkat industrialisasi tinggi. Jawa Timur menjadi provinsi dengan konsumsi tertinggi sebesar 26,5%, diikuti oleh Riau (21%), Jawa Barat (14,7%), Banten (13,9%), dan DKI Jakarta (7,5%). Pasar kemasan nasional diperkirakan mencapai USD 19,18 miliar pada tahun 2029, selaras dengan pertumbuhan e-commerce yang agresif di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran lingkungan dan tren belanja daring yang kian masif, industri kertas berpotensi menjadi tulang punggung masa depan sektor kemasan berkelanjutan di Indonesia.